
Part 37
Waktu terus bergulir Ayuni dan Dea sudah naik kelas dan hubungan Dewa dan kedua sahabat ini sudah mulai akrab, seperti saat ini. Ayuni mencoba menutupi perasaannya ke Dewa Karna dia tahu, Dewa tidak mencintainya, dia mencoba membohongi Dea jika dia tidak tertarik pada Dewa.
Ayuni tahu, kalau Dea orangnya sangat pede, dan agresif, dia tidak mau Dea memaksa Dewa untuk menyukainya, dan menyakiti hati Dewa yang diam - diam mencintainya.
Ayuni tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri. Karna Ayuni tahu sifatnya sangat pemalu dan memiliki harga diri yang tinggi, dia tidak akan merendahkan dirinya, lebih baik menangis sembunyi dan menangis dalam hati.
Abangnya pun, tidak mengetahui, Ayuni sangat mencintai Dewa, Ayuni beralasan dia tidak menyukainya, apalagi Dewa menyukai Dea, tapi Dea lebih menyukai Abang Andre.
Andre sebenarnya sangat takut Ayuni menyukai Dewa, Karna wajahnya juga tampan tapi mengetahui Dewa menyukai Dea, setidaknya dia bisa menghindari Dea Karna di hatinya saat ini, hanya ada Ayuni.
Dewa menghampiri Ayuni, duduk di sebelahnya.
Saat itu mereka di belakang Sekolah, tempat mangkal mereka bertiga, mereka sudah bersahabat dengan intens nya mereka bertemu. Tempat ini sudah sepi Karna pada ke kantin mengisi perut yang keroncongan.
"Ayuni, kemana Dea, tumben tidak bersamamu" dengan mata celingukan kesana kemari mencari Dea.
Hati Ayuni begitu perih, Apakah aku kurang cantik untuk kamu cintai Dewa, gumam Ayuni dalam hati. Dia hanya bisa tersenyum manis di depan Dewa padahal hatinya begitu perih.
"Tidak lama kok, dia kemari, Tunggu saja." Jawab Ayuni, memandang wajah tampan Dewa , yang selalu menghias mimpinya.
"Ayuni, apa Andre tidak sedikitpun menyukai Dea." Tanya Dewa.
"Abang Andre malah senang kalau kamu menyukai Dea." Kata Ayuni dengan tersenyum. padahal hatinya sangat sakit. Saat ini melihat orang yang di cintai bahagia itu sudah cukup baginya, mencintai dalam diam adalah jalan terbaik untuknya.
Walau harus melukai hatinya. Mengapa cinta untukku begitu menyakitkan, hanya hatinya lah saat ini yang menjadi teman curhatnya, mencintai Dewa di dalam hatinya, tampa ada yang mengetahuinya.
Ayuni menarik nafas dalam - dalam untuk mengusir kesedihan hatinya.
"Semoga Dea menyadari, kalau percuma mengejar cinta yang bukan miliknya, dan menyadari, aku akan ada selalu untuknya." Kata Dewa Menghela nafas dalam.
Sangat sakit hati Ayuni, mendengar setiap curhatan Dewa tentang Dea, tapi apa dayanya, memangnya siapa dirinya, wanita yang tak bernilai dan tak berharga. itulah dirinya, sungguh malangnya dirimu "Ayuni Wardana.
"Ayuni......
Kamu kenapa, matamu berkaca. apa yang membuatmu sedih." Kata Dewa sambil memegang wajah Ayuni, dan mengusap pipinya lembut.
Ayuni, tidak bisa menahan air matanya, dia menangis. dia mencoba melawan kesedihannya, ingin sekali memeluk Dewa dan mengatakan aku sangat mencintai kamu Dewa, tolong jangan pikirkan Dea. Abangku lah yang cocok dengannya. Tetapi kata - kata itu cuma tertahan di tenggorokannya dan hanya kebohongan yang keluar dari lidahnya yang tak bertulang.
"Tidak Dewa, aku kasian dengan Dea yang sangat tangguh mengejar cinta Abangku, dan aku juga sangat kasian denganmu sebagai sahabat, yang sangat mencintai Dea tapi Dea mengejar yang selalu menolaknya, yakni Abang Andre, padahal ada kamu yang setia menunggunya."
Menatap Dewa sendu, dan membiarkan air matanya mengalir, Dewa tersentak dan sangat tersentuh dengan jawaban Ayuni.
Dewa pun sibuk mengeringkan air mata Ayuni dengan jemarinya, Ayuni semakin sedih, Dewa membawanya dalam pelukannya, membelai pipi dan rambutnya. Kesedihannya selama ini dia tumpahkan saat itu juga, di dalam pelukan Dewa yang begitu hangat, suara detak jantung Dewa seperti suara yang sangat merdu di telinganya, yang menempel di dada Dewa.
"Ayuni, tahan air matamu, nanti di lihat teman yang lain." Kata Dewa.
Ayuni cepat menghilangkan kesedihannya dan tersenyum. dan air matanya sudah bisa di tahannya. Dan mengangkat kepalanya dari dada Dewa.
"Maaf Dewa, aku sangat sedih mengingat perjuangan sahabatku, dan juga kasian padamu Dewa, tolong jangan beritahu Dea kalau aku menangis yah, aku tidak mau dia bersedih" Kata Ayuni, menatap sendu Dewa.
__ADS_1
"Ayuni kamu sangat manis. walau kamu menangis kamu masih sangat menggemaskan dan sangat cantik, betapa beruntungnya yang menjadi kekasihmu." Kata Dewa membelai pipi Ayuni dengan lembut.
Pujian Dewa. seakan tiada artinya di hati Ayuni, hanya seperti pujian yang penuh kebohongan.
"Ayuni, apa kamu pernah jatuh cinta" tanya Dewa dengan senyumannya, yang selalu membuat Ayuni terpesona.
"Pernah, tapi aku takut dengan Abangku, dia masih melarang aku berpacaran." Jawab Ayuni seadanya.
"Bagaimana kamu mengatasi cinta pertamamu." Kata Dewa
" Melupakannya dan tidak memikirkan apapun tentang dia" Jawab Ayuni, padahal di hatinya sangat susah melupakan Dewa.
"Apa sampai sekarang kamu sudah bisa Move on." kata Dewa dengan senyuman yang getir.
"Sudah, Karna dia sudah menjadi milik orang lain" Jawab Ayuni, menempatkan Dewa yang hatinya sudah di miliki Dea.
" Kayaknya aku susah seperti dirimu Ayuni, cinta pertama aku untuk Dea begitu besar, apapun akan kulakukan untuk dia, semoga dia cepat menyadari bahwa yang cocok untuk dirinya hanyalah aku saja." kata Dewa dengan menarik nafas dalam - dalam.
Sangat sakit mendengar orang yang sangat kita cintai rela berkorban apapun, demi mengejar cinta orang lain yakni sahabat kita sendiri.
Ayuni pun menarik nafas dalam - dalam dan bernafas teratur, untuk menghilangkan kesedihan hatinya.
Mereka pun terdiam dan menatap ujung sepatu mereka, tak berapa lama ada suara mengagetkan mereka, ternyata Dea.
"Hai........
kalian sedang apa....
"Enak saja, menuduh sembarangan, kami hanya menunggumu," kata Ayuni ketus.
"Lihatlah Dewa, ciuman kamu sebanyak dua kali di bibirnya, sama sekali tidak berpengaruh, kayaknya kamu harus menciumnya lebih lama supaya dia sadar.
Padahal awalnya kalian tabrakan itu, Ayuni sangat senang dapat ciuman dari kamu Dewa." Kata Dea sewot
"Apa - apaan sih kamu Dea, malu maluin saja kamu, aku hanya senang waktu itu, karna kaget saja merasakan ciuman mendadak" Jawab Ayuni lebih sewot.
"Sudah - sudah, apa kalian berdua mau kucium, di bibir kalian, sini aku cium satu - satu." kata Dewa menggoda untuk melerai pertengkaran dua sahabat agar tidak berkepanjangan.
"Enak sekali kamu yang jadi cowoknya, cium Ayuni saja jangan aku, saat ini hanya Abang Andre yang boleh mencium aku." Kata Dea dengan tersenyum manis.
Ada guratan kepedihan dan cemburu di mata Dewa dan hanya Ayuni yang bisa melihatnya.
"Baiklah Ayuni, mari aku cium, aku khan sudah pernah mencium kamu, mari kita ulangi" berdiri dan menepuk paha Dea agar menyingkir, kekesalannya pada Dea dia tumpahkan ke Ayuni, selama Ayuni tidak menolak.
Jantung Ayuni seperti mau berhenti berdetak, Dewa mendekatinya, hatinya semakin berdebar tidak karuan, dia sangat ingin merasakan ciuman Dewa kembali. Walau itu hanya ciuman pelarian untuk membuat Dea cemburu.
Dewa langsung duduk di samping Ayuni, yang terbengong melihatnya.
Melihat wajah Ayuni yang sangat cantik dan menggemaskan, Dewa sangat ingin menciumnya, baginya Ayuni seperti anak kecil yang sangat imut, cantik dan sangat menggemaskan.
Dewa pun memegang kepala belakang Ayuni, dan mendekatkan bibirnya dan mencium gemas Ayuni, dengan mengecupnya dengan maksud memanasi Dea.
__ADS_1
Sentuhan bibir Dewa di bibirnya, menimbulkan desiran lembut, serta tarian indah yang sangat membahagiakan hatinya.
Melihat Dea hanya tertawa, Dewa semakin panas, dia kembali mendekatkan bibirnya ke Ayuni dan mulai mencium Ayuni lebih dalam.
Dewa menekan bibirnya ke bibir Ayuni, yang sudah terhipnotis dengan ketampanan Dewa, merasakan hidung mancung Dewa di pipinya serta Sentuhan bibir Dewa di bibirnya, terasa sangat lembut dan membuat dirinya terasa melayang, saking bahagianya.
Ayuni membuka bibirnya sedikit dan bibir Dewa masuk dan menghisapnya, dan mulai mengigit bibir bawah Ayuni dengan sangat lembut, dan Ayuni sangat menikmatinya.
Ayuni membalas dengan menghisap pelan bibir Dewa dengan lembut pula. Di cium oleh orang yang di cintai sangatlah menyenangkan.
Dewa ketagihan mencium Ayuni, bahkan sudah memasukkan Indra perangsang nya meliuk dalam rongga mulut Ayuni. Sejak pertama mencium Ayuni pada saat tabrakan, dia merasa tidak sungkan lagi mencium Ayuni.
Ciumannya semakin panas, sudah kasar menghisap dan menggigit bibir Ayuni agak keras dan Indra perangsang nya terus meliuk mengabsen di setiap sudut rongga mulut Ayuni. Sesekali melepas untuk melonggarkan nafas, dan ciuman Dewa semakin memanas, tangannya sudah membelai punggung Ayuni dan merapatkan tubuhnya semakin erat memeluk tubuh Ayuni.
Ayuni tersentak dan mendorong tubuh Dewa, dan mengambil nafas dalam - dalam dan mencoba menenangkan hatinya. Ayuni tidak ingin Dewa mengetahui jika dia sangat mencintainya.
"Sudah, jangan menciumiku lagi, aku tidak merasakan apa - apa di hatiku." Kata Ayuni berbohong, dia tahu Dewa melakukannya karna menganggapnya alat untuk membuat Dea cemburu, dan dengan bodohnya dirinya mau di cium oleh Dewa.
Ayuni sadar dia hanya memanfaatkan Dewa, sungguh sangat rendah sekali diriku ini, walau aku sangat menikmati dan menginginkan nya. Betapa miris perjalanan cintamu Ayuni Wardana, hatinya yang tadinya bahagia kini kembali terluka, di dalam hatinya sekarang sedang berperang.
Dewa tersadar, dia tidak mencintai Ayuni, tetapi mengapa dia sangat menikmati ciuman itu, apakah karna rasa gemasnya melihat wajah Ayuni yang sangat manis, cantik dan menggemaskan. tetapi kenapa hatinya tidak berdebar saat mencium Ayuni, cuma rasa ingin memanasi Dea, kasian Ayuni yang menjadi korbannya, untunglah Ayuni belum memiliki kekasih dan tidak menyukainya, hanya karna sudah pernah menciumnya, jadi Ayuni tidak keberatan dicium olehnya. Gumam Dewa dalam hati.
Dewa sadar, cintanya sangat tulus kepada Dea dan Ayuni di akuinya sangat cantik dan menggemaskan melebihi Dea, Ayuni lebih sempurna nilai kecantikannya, tapi sifat Ayuni yang cepat menerima, tidak membuat Dewa merasa ada tantangan, beda dengan Dea yang membuatnya sangat penasaran dan memang tipe idealnya adalah sifat yang di miliki Dea, dan membuat hatinya bergetar indah.
Bagi Dewa, untuk Ayuni karna pernah menciumnya, makax Dewa merasa menciumnya adalah kebiasaan saja, bukan cinta, tapi karna wajahnya sangat manis dan menggemaskan membuatnya ketagihan menciumnya.
Dewa menatap Ayuni, dan mengusap bibirnya yang basah karna bibirnya. Dan Ayuni mencoba menatap Dewa secara acuh, supaya Dewa dan Dea tidak mengetahui ada cinta untuk Dewa di hatinya.
"Maaf, kamu sangat menggemaskan bagiku." kata Dewa.
"Iya, tapi kamu menyakiti bibirku, jangan coba - coba mencium aku di depan Abang Andre, kalau kamu masih sayang nyawamu." Kata Ayuni kesal, sengaja marah untuk menutupi rasa cintanya kepada Dewa.
Dan Dea hanya termangu dengan satu tangannya menopang dagunya melihat mereka berciuman, membayangkan dirinya berciuman panas dengan Andre seperti Dewa ke Ayuni, sangat menyenangkan.
Tetapi melihat sikap Ayuni yang cuek, melepaskan ciuman Dewa, membuatnya hati Dea galau. kakak dan adik sama saja, tidak peka. suara hati Dea terus berkicau.
Mereka tidak sadar, jam pelajaran sudah di mulai, mereka masih ada di taman belakang sekolah, padahal Dea datang untuk memanggil mereka. Untunglah tidak ada yang melihat ciuman Dewa ke Ayuni.Apalagi di lihat Guru bisa diskors mereka berdua.
Dea pun berteriak...
Ayuni, Dewa..! pelajaran sudah di mulai dari tadi ...........
Aku pura - pura ke kamar mandi untuk memanggil kalian.
Dea pun berlari di ikuti Ayuni dan Dewa, mereka berlari ke arah kelas masing - masing.
Dukung Author yah
dengan vote,like dan comment agar, Author semangat menulis Bab berikutnya.
Love You All.
__ADS_1