
Di tempat lain, Kiara menghubungi Raymond padahal jam baru saja menujukan pukul dua siang tetapi dia sudah meminta suaminya itu agar segera pulang ke rumah. Raymond yang mendengar keluhan dari istrinya langsung pulang ke rumah dan meninggalkan pekerjaan yang belum terselesaikan.
Setelah berada di rumah, Ray bergegas masuk ke dalam kamar. Dia membuka pintu dan melihat Kiara tengah terbaring di atas ranjang sambil memegangi pinggang serta perutnya.
"Sayang?" Ray memanggil lalu berjalan mendekati Kiara.
"Mas," sahut Kiara dengan suara lemah.
"Hei, apa yang sakit?"
"Perutku, entah kenapa tiba-tiba sakit. Pinggangku juga panas, Mas. Punggungku sakit, aku ingin kamu mengelusnya." pinta Kiara bersuara manja.
"Baiklah, apa kamu belum tidur siang?"
Kiara menggeleng. Dia terdiam menikmati tangan Raymond yang tengah mengelus punggungnya. Hal ini yang membuat Kia dengan mudah tertidur. Tak berselang lama, napas Kiara sudah teratur dan menandakan jika dia telah tidur.
Raymond menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Kia, dia tersenyum manis lalu mengecup dahi istrinya itu.
"Istriku yang sangat manja selama kehamilannya ini. Tapi aku menyukai itu, bahkan aku berharap dia akan terus manja seperti sekarang." gumam Ray terus mengelus punggung Kiara. Tidak ada bosan-bosannya menatap wajah Kia yang selama hamil ini semakin bersinar dan cantik.
Raymond menghentikan kegiatan tangannya, dia mengambil ponsel yang ada di dalam kantong celana dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Iya, halo?"
Raymond terdiam mendengarkan penjelasan dari seberang telepon.
__ADS_1
"Baik, saya akan segera kembali ke kantor." jawab Ray lalu memutuskan panggilan.
Raymond beranjak dari ranjang, dia menyelimuti tubuh Kiara hingga batas leher.
"Sayang, aku pergi ke kantor lagi, ya? Aku ada meeting mendadak, semoga tidurmu nyenyak." Ray beralih ke perut Kiara yang sudah membuncit. "Anak papa, kamu jangan nakal di dalam, ya, Nak. Kasihan Mama kamu, papa harus bekerja untuk kalian semua, jadi kamu tidak boleh nakal di dalam sana. Paham?" lanjutnya mengajak bicara sang bayi yang ada di dalam kandungan Kiara. Meskipun Ray tahu jika bayi itu tentu tidak bisa mendengarnya tetapi Raymond sangat bahagia bisa berbincang seperti tadi.
Cup! Cup!
Satu kecupan mendarat di pucuk kepala Kiara dan satunya mendarat di perut.
"Papa pergi dulu, sampai ketemu nanti kesayangan." Raymond berjalan keluar dari kamar, bos yang terkenal galak, dingin dan datar tersebut ternyata sangat hangat jika bersama dengan keluarga kecilnya.
****
Pukul tujuh malam, Kiara yang baru saja selesai menemani Rayyan belajar, tiba-tiba merasakan sakit di daerah pinggangnya.
"Kenapa perutku sakit sekali?" gumam Kiara menarik napas lalu membuangnya pelan. "Perasaan dulu sewaktu hamil Ray, rasanya tidak seperti ini." lanjutnya masih tetap menahan rasa sakit dan mulas seperti ingin buang air besar.
Kiara memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, mungkin dia masuk angin karena tidak selera makan. Setelah selesai dari kamar mandi, Kia pun langsung merangkak naik ke atas ranjang. Dia akan mencoba untuk tidur agar rasa sakitnya hilang.
"Kenapa Mas Raymond belum pulang? Apa dia sedang sibuk?" Kiara mengambil ponsel, dia sangat takut karena perutnya terus-menerus sakit seperti ini.
Panggilan tidak terjawab, Kiara sedikit kesal tetapi dia harus tetap berpikir positif.
"Aw, sakit." Kiara memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya, bagaimana bisa tidur jika masih merasakan sakit yang amat dalam seperti sekarang.
__ADS_1
"Huft, ssh. Kenapa sakitnya tidak reda juga?" Kiara mulai ketar ketir setelah ada sedikit air yang mengalir di area pahanya.
"Air apa ini? Ray! Rayyan!" Kiara berteriak memanggil Ray sang putra.
Rayyan yang masih bermain di dalam kamar langsung berlari keluar karena mendengar suara teriakan Mamanya.
"Mama, Mama kenapa?" Ray bertanya heran karena melihat wajah Kiara yang pucat dan dipenuhi keringat di dahinya.
"Ray, apa Mama bisa minta tolong? Hubungi papamu, perut Mama sangat sakit."
Rayyan mengangguk, dia mengambil ponsel milik Kiara dan segera menghubungi nomor Papanya.
"Ma, papa tidak menjawab panggilannya." ujar Rayyan kebingungan.
Kiara menahan tangis, disaat mendesak seperti ini Raymond malah sulit dihubungi. Padahal harusnya dia tahu jika istrinya sedang hamil besar.
****
Di kantor, Ray masih mengadakan meeting penting dengan para karyawannya. Dia terlihat sangat serius hingga tidak menyadari ponselnya yang sedari tadi bergetar. Disaat meeting seperti sekarang, Ray memang selalu mematikan nada dering karena ingin profesional dalam bekerja. Meskipun dia adalah bos disana, tetapi dia harus bisa memberikan contoh yang baik untuk para karyawan.
Raymond hanya mematikan nada dering, tetapi dia tetap menghidupkan getaran. Beberapa saat kemudian, mereka telah selesai mengadakan meeting. Raymond keluar terlebih dahulu dari ruangan itu. Dia pun langsung melihat ponselnya dan terkejut ketika membaca panggilan tak terjawab dari Kiara.
"Dua puluh panggilan tak terjawab? Astaga, maafkan aku Kiara. Aku sangat serius mendengarkan presentasi dari karyawanku, hingga mengabaikan ponsel." Raymond segera keluar dari kantor dan dia langsung menuju mobilnya.
"Kenapa perasaanku tidak enak? Semoga tidak terjadi sesuatu dengan Kiara." ucap Ray berdoa, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai di rumah. Dia lupa akan keselamatan dirinya sendiri jika itu sudah tentang Kiara.
__ADS_1
{Bersambung}