
Keesokan harinya, sesuai perjanjian Yola pun pergi ke rumah Ray. Dirinya datang bersama dengan Ray. Pria itu sengaja mengantarkan Yola agar terlihat seperti sepasang kekasih sungguhan.
Setelah berada di dalam, terlihat Kiara yang sibuk membuat kue bersama dengan Bibi.
"Ma, lihat siapa yang datang!" teriak Ray membuat Kiara menyembulkan kepalanya untuk melihat siapa yang tiba.
Seketika senyum Kiara pun terbit, dia berjalan menghampiri Yola dan meninggalkan kuenya.
"Kamu sudah datang, Sayang? Maaf jika Mama merepotkanmu,"
"Tidak, Tante. Kebetulan saya sedang tidak sibuk. Tadi juga saya sudah izin untuk tidak masuk kerja."
"Kamu sangat pengertian. Nanti, jika kamu sudah menikah dengan Ray, maka kamu hanya akan menemani Mama saja dirumah."
Yola tersenyum miris, jika terus-terusan seperti ini, dirinya takut bisa terbawa suasana.
"Oh, ya. Tante sedang membuat kue, kamu bisa menunggu di sofa dulu atau mau melihat sekeliling rumah ini?"
"Saya akan membantu membuat kue."
__ADS_1
"Benarkah? Ray, kekasihmu ini benar-benar calon istri idaman. Mama berharap kalian bisa segera menikah."
Yola melirik Ray yang terlihat kikuk. Lalu, dia mengikuti langkah Kiara yang berjalan menuju ke dapur.
Ray melihat keakraban Kiara dan Yola, entah mengapa dia kembali teringat akan masa lalunya. Calon istrinya dulu juga sangat dekat dengan Kiara, bahkan Ray sering terabaikan. Kembali mengingat itu, ada rasa takut tersendiri di dalam hati Ray. Dia tidak ingin Yola merasakan hal yang sama seperti almarhumah istrinya.
Tidak ingin berpikir terlalu jauh, Ray pun memutuskan untuk pergi ke kantor. Sebelum pergi, dia sempat mengatakan jika dirinya akan menjemput Yola nanti.
Beberapa menit kemudian, para Miss sosialita berdatangan. Yola yang tidak pernah berada dalam lingkungan orang kaya hanya mampu menyimak pembicaraan mereka. Jika ada pertanyaan, maka Kiara siap menjawabnya di garda paling depan. Kiara tahu bagaimana perasaan Yola sekarang, terlihat dari raut wajah gadis itu dia tidak mengerti pembicaraan para Miss sosialita.
Begitu banyak pertanyaan yang mereka ajukan untuk Yola, dan tidak sedikit dari mereka yang memuji kecantikan Yola. Tetapi, ada sepasang mata yang menatap Yola dengan tidak suka. Ya, dia adalah Nyonya Brandon. Dirinya pernah mencoba untuk mendekatkan Ray dan putrinya, tetapi ditolak mentah-mentah oleh Ray.
Dari kejauhan, Beyza datang bersama dengan sang Mama. Mereka pun ikut arisan sosialita itu. Setelah saling sapa, Beyza mengerutkan dahinya. Dia seperti pernah bertemu dengan gadis di depannya saat ini.
"Aunty, apa dia calon istri Rayyan?"
Kiara tersenyum lalu mengangguk. "Namanya Yolanda, usianya sama dengan kamu. Dan dia bekerja sebagai seorang koki."
Yola tersenyum ramah guna menyapa.
__ADS_1
"Koki? Aunty tidak salah? Aku seperti pernah melihat gadis itu. Dia bukannya OG di kantor Ray?" ucap Beyza mengingatnya dan hal itu membuat senyum di bibir Yola memudar.
"OG?" ucap semua Miss sosialita secara bersamaan, mereka pun saling berbisik heran.
"Za, mungkin kamu salah lihat. Atau mungkin mereka hanya mirip, Ray mengatakan jika Yola adalah seorang koki."
"Aunty, mana mungkin aku salah lihat. Dia pernah menabrakku ketika aku ingin pergi ke ruangan Rayyan." Beyza seakan ingin mempermalukan Yola, dia masih tidak bisa terima jika Rayyan menjadi milik orang lain.
"Nona Yola, kenapa Anda hanya diam saja? Anda tidak berniat untuk membela diri? Atau jangan-jangan apa yang dikatakan Nona Beyza ada benarnya?" sambung Nyonya Brandon membuat suasana semakin memanas.
"Itu tidak benar, Nyonya. Mungkin wajah saya mirip dengan gadis yang pernah dia lihat."
Beyza sedikit curiga dengan Yola, dia harus mencari tahu apa yang sebenernya terjadi.
"Sudah-sudah, lupakan tentang itu. Lebih baik kita mulai saja arisannya, kalian jangan menyudutkan calon menantuku seperti itu."
Mereka pun memulai acara arisan, disana pandangan Beyza terus tertuju pada Yola. Dia tidak akan puas jika belum mengetahui hal yang sebenarnya.
'Aku harus mencari tahu apa yang terjadi.' batin Beyza bertekad.
__ADS_1
{**Bersambung**}