
Dua bulan sudah berlalu dan Yola masih betah bekerja di kantor milik Rayyan. Dirinya tidak mempermasalahkan jika Ray selalu merepotkannya. Tetapi, saat ini ada seorang pria yang sepertinya mencoba mendekati Yola, siapa lagi kalau bukan Jayed.
Sejak bertemu dengan Yola, pria itu tertarik dengannya. Bahkan, Jay meminta pada Rayyan agar menjadi jalan ninjanya untuk mendekati Yola. Rayyan sempat menolak karena dia sama sekali tidak menyukai hal itu. Namun, demi Jayed dia pun melakukannya.
Saat ini Ray sedang mengatur jadwal makan siang bersama dengan Jayed, tentu saja di temani oleh Yola.
"Apa Anda tidak salah mengajak saya makan siang bersama, Tuan?'' Yola bertanya karena heran, tidak biasanya Ray bersikap baik seperti ini.
"Sudahlah, Yola. Kau tidak perlu banyak tanya, Intinya kau ikut saja makan siang bersamaku."
Yola pun mengiyakan.
Beberapa jam kemudian, waktu makan siang pun telat tiba. Yola masuk ke dalam mobil bersama dengan Ray sementara Jayed menunggu di cafe.
Tak lama, mereka sampai di cafe itu. Yola berjalan di belakang Rayyan karena tidak baik baginya untuk berjalan terlebih dahulu di depan atasan.
Setelah berada di dalam, Ray langsung menghampiri Jayed. Yola sendiri heran, mengapa ada pria itu disana.
"Halo, Yola." sapa Jayed ketika keduanya sudah duduk di kursi.
"Hai, Tuan Choo." jawab Yola.
"Apa kalian memang sudah janjian? Saya pikir, Tuan Ray hanya ingin makan berdua dengan saya." Yola berkata jujur.
"Mana mungkin!" sahut Ray membuat dada Yola tiba-tiba merasa sesak. Gadis itu hanya mampu mengembangkan senyum kecilnya.
"Oh, ya. Kau ingin makan apa, Yola? Pesan saja yang kau inginkan, aku akan membayarnya."
"Terima kasih, Tuan." Yola mulai memilih menu makanan dan setelah itu dirinya meletakkan buku menu.
"Em, Yola. Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
Yola menjawabnya dengan anggukan.
"Kau memiliki saudara? Maksudku, kalau boleh tau kau anak ke berapa?"
"Saya anak tunggal, Tuan."
"Lalu, orangtuamu masih lengkap?''
"Ayah saya sudah tiada sejak usia saya sembilan belas tahun, beliau terkena penyakit jantung. Dan ibu, beliau sedang melakukan rawat jalan karena ada masalah juga dengan jantungnya."
__ADS_1
"Ibumu sakit?"
"Beliau harus melakukan pemasangan ring jantung, maka dari itu saya menerima pekerjaan apa pun selagi halal, meskipun gajinya kecil tetapi saya tidak mempermasalahkan.''
Ray cukup iba mendengar cerita dari Yola.
"Aku turut berdukacita, Yola.'' ucap Jayed. ''Kau menyukai warna apa? Dan berapa usiamu saat ini?"
"Saya suka warna hitam, dan umur saya dua puluh empat tahun.''
Jayed hanya menganggukkan kepala, sementara Rayyan menyimak sambil bermain ponsel.
Ray membaca pesan dari sang Mama, dia terkejut dengan dahi mengerut.
'Apa yang Mama katakan? Nanti malam sepulang aku dari kantor aku harus langsung ke restoran karena ada hal penting yang ingin dibicarakan? Memangnya hal apa?" Ray masih menebak hingga dia tidak menggubris obrolan Jayed dan Yola.
"Kak, kenapa kau hanya diam saja?"
Ray menggeleng pelan, dia tidak ingin menjadi orang ketiga dalam perbincangan antara Jayed dan Yola. Ray tahu jika Jayed menyukai Yola karena pria itu sendiri yang mengatakannya.
Setelah selesai makan siang, Rayyan dan Yola berpamitan untuk kembali ke kantor. Beberapa saat kemudian, di dalam mobil mereka berdua hanya diam saja. Suasana seperti canggung dan kaku. Ray bahkan enggan untuk menoleh ke arah Yola. Bukan benci atau tidak suka, dia hanya ingin menjaga hatinya saja.
****
Sesampainya di cafe, Ray mencari meja Mamanya. Dia melihat Kiara yang sudah menunggunya disana.
"Apa Ray terlambat, Ma?"
Kiara menggeleng. "Duduklah, Sayang. Ada tamu yang sedang kita tunggu."
Ray menuruti ucapan Kiara.
Tak lama kemudian, datanglah sepasang suami-istri bersama dengan anak perempuan mereka yang usianya seumuran dengan Yola. Gadis itu sangat cantik, wajahnya blasteran karena dia keturunan Turki.
Ray heran kenapa ada pertemuan seperti ini.
"Ray, perkenalkan ini Uncle Sam dan aunty Lin. Lalu, dia putri mereka, namanya Beyza."
Ray menyapa dengan senyum tipis, dirinya enggan untuk berbicara.
"Ray, Uncle dengar sekarang perusahaanmu semakin berkembang. Benarkah? Bagaimana jika kita melakukan kerjasama, kebetulan bisnis kita sama-sama berdiri di bidang property dan furniture."
__ADS_1
"Nanti saya akan memikirkannya, Tuan."
"Kenapa kau memang Uncle dengan sebutan Tuan?" Sam tersenyum kecil.
Mereka kembali berbincang hingga saat ini adalah puncak dari inti topik pembicaraan.
"Ray, Papa memintamu datang kesini karena ada sesuatu hal yang membutuhkan persetujuanmu."
"Ada apa, Pa?"
"Kami berniat untuk menjodohkan kamu dengan Beyza. Usia kalian sudah sama-sama matang dan cocok untuk menikah. Ya, kalian memang belum saling mengenal, maka dari itu Papa dan Uncle Sam akan memberikan waktu untuk kalian berdua agar bisa saling mengenal satu sama lain."
"Perjodohan?" Ray bertanya.
"Benar, Ray. Kau jangan takut, Beyza ini anak yang baik dan dia pasti akan menuruti perkataanmu jika kalian nanti sudah menikah."
Ray melirik wajah Beyza, gadis itu memang sangat cantik, tetapi dia bukan tipe wanita idaman Ray. Dihatinya masih terukir nama sang mantan yang telah tiada, entah mengapa sangat sulit bagi Ray untuk membuka hati.
"Tapi, Uncle—" ucapan Ray terputus karena Raymond menyelanya dengan cepat.
"Tidak perlu memberikan jawaban terlebih dahulu, Nak. Kamu pikirkan saja dan lakukan pendekatan dengan Beyza. Papa yakin kalian pasti akan merasa cocok, benar begitu, Tuan Sam?"
Sam hanya mengangguk, sementara Beyza tersenyum manis. Mana mungkin dia menolak pria tampan dan mapan seperti Raymond. Dirinya harus bisa mengambil hati pria itu dan membuat pria tersebut jatuh cinta padanya.
"Saya akan memikirkannya nanti." ucap Ray.
Setelah beberapa jam kemudian, mereka pulang ke rumah masing-masing. Ray yang sudah berada di rumahnya langsung mengeluarkan pendapat.
"Ma, Pa, apa-apaan ini? Kenapa Mama dan Papa harus menjodohkan Ray?"
"Sayang, usia kami sudah tidak lagi muda. Diusia senja seperti ini, kami ingin segera menimang cucu dan melihat dirimu menikah. Kami hanya ingin kamu bisa cepat memiliki seorang pendamping, apa begitu berat?"
"Ma, bukan masalah berat atau tidaknya. Ray belum siap untuk menikah,"
"Kenapa? Apa kamu masih memikirkan tentang gadis itu? Sadar, Ray. Dia sudah tiada, percuma kamu menunggu dirinya dan mengharapkan dia." ucap Raymond membuat mata Ray memerah.
"Kenapa Papa bicara seperti itu? Papa tau 'kan betapa cintanya aku pada Almarhumah calon istriku. Tidak semudah itu untuk melupakan dia, Pa." Ray berlalu pergi meninggalkan orang tuanya yang mungkin belum selesai bicara.
"Ray! Rayyan! Jangan jadi anak durhaka kamu, Ray!'' teriak Raymond tetapi tidak digubris oleh Ray.
"Mas sudahlah, mungkin dia lelah. Berikan dia waktu untuk berpikir." ucap Kiara, tentu dia sangat kasihan dengan Ray, tetapi ini juga demi kebaikan putranya itu. Di usia yang menginjak tiga puluh tahun, Ray bahkan belum memiliki kekasih.
__ADS_1
{**bersambung**}