Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #102


__ADS_3

Setelah melewati proses yang tidak mudah, akhirnya bayi Ray dan Kiara berhasil lahir dengan selamat dan tanpa ada kekurangan satu pun. Tentu saja sepasang suami-istri yang kini telah memiliki dua orang anak itu sangat bahagia, ditambah anak kedua mereka saat ini berjenis kelamin perempuan.


Keesokan harinya, Jimmy mengajak Elsa untuk menjenguk keponakan baru mereka itu. Di dalam hati Jimmy ada rasa sedih dan bahagia, tetapi dia tidak boleh berlarut-larut karena kali ini sudah ada Elsa yang menjadi sang penyembuh luka dihati.


Jimmy dan Elsa sudah sampai di rumah sakit, mereka bergegas untuk menuju ke ruangan Kiara. Tak lupa, keduanya membawakan kado serta dua kotak roti untuk Kiara dan sang bayi. Sesampainya di rumah rawat, mereka langsung menerobos masuk. Ternyata disana Ray sedang menyuapi Kiara.


"Selamat pagi, apa kami berdua mengganggu kalian?" Elsa masuk terlebih dahulu dengan senyum manisnya.


"Tentu saja tidak. Apa ini?" Kiara menatap kotak kado dan roti yang Elsa berikan untuknya.


"Bukalah nanti, kau pasti akan mengetahuinya." jawab Elsa seraya tersenyum.


"Oh, ya. Dimana keponakan baru kami?" Jimmy melihat ke sekeliling tetapi tidak ada bayi disana.


"Berhubung putri kami lahir secara prematur, dokter menyarankan agar dia di rawat khusus terlebih dahulu. Jika kalian ingin melihatnya, Mas Raymond akan mengantarkan."


Ray hanya mengangguk, entah mengapa mood nya rusak ketika melihat Jimmy datang. Sepertinya, rasa cemburu masih membekas di hati Ray.


"Tuan, kenapa Anda diam saja? Apa Anda tidak suka dengan kedatangan kami?" Jimmy sengaja menggoda Ray yang berwajah datar nan dingin.


"Bukan begitu, kalian lanjutkan saja mengobrolnya." Ray menoleh ke arah Kiara. "Sayang, apa kamu sudah selesai makannya?"


Kiara mengangguk.


"Baiklah, saya keluar sebentar karena ada hal yang harus saya urus." Raymond berpamitan, dia lebih baik pergi daripada melihat wajah Jimmy.

__ADS_1


Elsa tersenyum tipis, setelah Ray pergi, dirinya duduk di tepi ranjang.


"Bagaimana keadaanmu, Kiara?"


"Ya, seperti yang kau lihat. Aku sudah membaik."


"Kalian berdua pasti sangat bahagia karena sudah memiliki dua orang yang tampan dan cantik."


"Aku sangat bersyukur, El."


"Huft, aku jadi menginginkannya. Aku ingin memiliki suami yang tampan, baik. Lalu, aku ingin mempunyai tiga orang anak. Aku yakin pasti akan sangat ramai dirumah nantinya." Elsa membayangkan sendiri sambil tersenyum bahagia, hingga beberapa detik kemudian dia tersadar ketika Jimmy mengelus pucuk rambutnya.


"Iya, Sayang. Nanti kita akan membuat tiga anak, kalo bisa lebih." ucap Jimmy tanpa filter dan mendapat pukulan kecil dari Elsa.


"Heum, tentu saja." Kiara terkekeh melihat tingkah laku Jimmy dan Elsa.


"By, apa kamu bisa keluar sebentar?"


"Apa! Kamu mengusirku, Ay?"


"By, ada yang ingin aku bicarakan dengan Kiara. Ini sangat penting dan harus empat mata."


"Tapi aku 'kan—"


"Tidak ada mata pengawas! Keluar sebentar, ya, By." pinta Elsa memasang wajah imut.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan kembali beberapa menit lagi."


"Daa, By." Elsa tersenyum manis ke arah Jimmy.


Setelah Jimmy keluar, Elsa menatap Kiara dengan serius.


"Ada apa, El?"


"Ra, aku ingin membicarakan hal penting dan aku ingin kau memberikan solusinya."


"Apa ada masalah? Katakan saja padaku."


"Iya, ini masalah besar."


Kiara mengerutkan dahi.


"Jimmy ingin segera menikahi aku.''


Kiara tersenyum. "Baguslah, lalu dimana letak masalahnya?"


Elsa terdiam sejenak, dia tidak tahu harus bercerita mulai darimana. Dirinya ingin menceritakan tentang orang tua Jimmy yang tidak menyukainya.


{Bersambung}


__ADS_1


__ADS_2