
Setelah sampai di kediaman William, Ray langsung mengajak Yola untuk turun dari mobil. Pria itu mengatakan pada Yolanda agar sedikit tenang dan jika diberikan pertanyaan harus menjawab santai. Anggap saja ini semua bukan drama. Meskipun sulit, Yola tetap akan mencobanya.
Yola menatap bangunan besar bak istana yang ada di depannya saat ini, sungguh megah dan mewah. Yola tidak tahu seberapa lelahnya jika harus menyapu halaman dan rumah itu.
Keduanya masuk ke dalam rumah dan disambut hangat oleh Kiara, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu langsung memeluk tubuh Yola.
"Oh, jadi ini calon menantu Mama." ucap Kiara membuat Yola sedikit merasa bersalah.
Mereka semua duduk di sofa.
"Siapa namamu, Nak?" Raymond bertanya langsung.
"Yolanda, Tuan."
"Hei jangan memanggil saya dengan sebutan Tuan, panggil saja Om."
Yola mengangguk dengan senyum manisnya.
"Kalian berdua sudah makan?"
"Su—"
"Kebetulan belum, Om. Tadi, Mas Ray langsung mengajak saya kesini dan kami tidak mampir ke tempat makan terlebih dahulu." ucap Yola yang memang sudah merasa sangat lapar.
Ray hanya menepuk dahinya, padahal tadi dia berniat mengatakan sudah, tetapi gadis di depannya itu menyela dengan cepat. Sangat bar bar.
Raymond dan Kiara tertawa kecil, mereka pun mengajak Yola untuk makan malam bersama.
Beberapa menit kemudian, Yola membantu sang asisten rumah tangga membereskan piring kotor. Meskipun Bibi dan Kiara sudah mencegah, tetapi Yola masih bersikeras untuk membantu. Kiara cukup salut dengan gadis di depannya saat itu, dia sama sekali tidak sama seperti gadis lainnya.
Setelah merasakan perut yang sudah kenyang, mereka kembali mengobrol.
"Yola, kamu bekerja dimana?"
Yola membungkam mulut, apakah dia harus mengatakan jika dirinya adalah seorang OG, atau dia lebih baik berbohong di menyelamatkan rasa malu seorang Rayyan?
"Dia bekerja sebagai koki, Ma. Ya, koki."
__ADS_1
"Wah, kau seorang koki, Nak? Berarti kau pintar memasak."
"Lumayan, Tante. Saya tetap terus belajar supaya bisa menjadi koki handal."
"Pantas saja kau terlihat cekatan melakukan tugas rumah, seperti membereskan piring tadi."
"Dimana rumahmu, Nak? Dan orangtuamu?"
"Saya tinggal di jalan mangga nomor 202, Tante. Ayah saya sudah tiada, dan saat ini saya bersama dengan Ibu saya." Yola pun mengatakan hal yang sejujurnya jika itu mengenai orang tuanya.
"Oh, kami turut berdukacita. Boleh Tante tau usiamu, Nak?"
"Dua puluh lima tahun, Tante."
"Wah, sudah cocok untuk menikah. Jadi, kapan kalian akan meresmikan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius?" Kiara seperti tidak sabar, dia membuat dua orang anak muda itu sedikit kebingungan.
"Ma, apa yang kamu katakan? Berikan waktu untuk mereka," tegur Ray dan di jawab tawa kecil oleh Kiara.
"Mama sudah tidak sabar untuk menimang cucu,"
Rayyan menggeleng melihat kelakuan sang Mama.
"Satu tahun."
"Delapan bulan."
Rayyan dan Yola menjawab bersamaan tetapi berbeda, hal itu mampu memuat Kiara heran.
"Mana yang benar? Satu tahun atau delapan bulan?"
"Begini, Ma. Sebenarnya kami menjalin hubungan sudah hampir satu tahun, dan kemungkinan ya sekitar delapan bulanan lebih. Ya 'kan, Sayang?" Ray menyenggol lengan Yola.
"I—iya, itu tadi maksudnya, Tante."
Kiara hanya bisa mengangguk, dia percaya saja dengan apa yang dikatakan Putranya.
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, sudah hampir satu jam Yola berada disana dan mereka sangat nyambung dalam pembicaraan. Kiara menyukai gadis itu begitupun dengan Raymond. Dia tahu jika pilihan putranya pasti tidak akan pernah salah.
__ADS_1
"Mama berharap Yola bisa sering main kesini. Reva tinggal diluar kota, dan itu membuat Mama sedikit merasa kesepian karena tidak ada teman."
"Jika ada waktu senggang, Yola pasti akan sering berkunjung, Tante."
"Anak pintar. Titip salam untuk Mama, ya?" Kiara mengelus lengan Yola.
Setelah berpamitan, Yola dan Rayyan masuk ke dalam mobil. Lalu, kendaraan itu melaju pergi. Di dalam mobil terasa amat canggung, keduanya hanya diam saja.
"Maafkan Mamaku, dia memang seperti itu.''
"Kenapa, Tuan? Saya tidak mempermasalahkan apa pun, bahkan saya sangat senang bisa mengenal Mama Anda. Beliau sangat ramah dan baik."
"Yola, apa saya boleh menanyakan sesuatu?"
"Katakan, Tuan. Ada apa?"
"Menurut saya kau itu sangat pintar. Lalu, kenapa kau tidak melanjutkan sekolah, kuliah misalnya."
"Jujur saya dulu sempat mendapatkan beasiswa, Tuan. Tetapi, berhubung ayah saya sakit, saya tidak mengambil beasiswa itu. Saya lebih memilih untuk bekerja, mencari uang untuk pengobatan ayah saya.''
Ray cukup kagum dengan Yola, gadis itu tidak memikirkan gengsinya.
Yola melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan Rayyan, jam itu sangat indah dan unik.
''Tuan, jam tangan Anda sangat indah.''
Ray melihat jamnya. "Ya, ini pemberian dari almarhumah calon istri saya. Sudah beberapa tahun dan saya masih menyimpannya, ini adalah benda yang sangat berharga bagi saya.''
Yola terdiam, dia penasaran dengan kata almarhumah calon istri.
"Apa Anda pernah memiliki seorang kekasih?"
Rayyan yang sudah terlanjur mengatakan hanya bisa menjawab dengan jujur. ''Bahkan kami memutuskan untuk menikah, tapi takdir berkata lain. Tuhan lebih sayang padanya, dan saya bisa apa?''
'Apa karena hal itu, Tuan Ray menutup hati dan seakan enggan untuk dekat dengan wanita lain? Tapi, semua orang mengira Tuan Ray memiliki penyimpangan yaitu penyuka sesama jenis.' batin Yola menebak.
{**Bersambung**}
__ADS_1