
Siang hari pun tiba, Reva memutuskan untuk pergi ke kantor Arron tanpa mengabari pria itu terlebih dahulu. Dirinya tak lupa membelikan hadiah untuk kekasihnya tersebut.
Setelah sampai di kantor, dia langsung masuk dan bertanya pada resepsionis apakah Arron berada di kantor atau tidak. Sesudah mendapatkan jawaban, Reva pun segera berjalan menuju ruangan Arron.
Dia mengetuk pintu hingga terdengar suara dari dalam yang mengijinkannya masuk ke dalam.
Arron yang sedang memeriksa dokumen langsung menghentikan tugasnya, dia tersenyum ketika melihat Reva yang datang ke kantor.
"Sayang, kenapa kamu tidak mengabariku?"
"Maaf, Sayang. Aku sengaja ingin membuat surprise." Reva tersenyum manis.
Mereka berdua berpelukan.
"Sayang, aku ingin meminta maaf."
"Untuk?'' Arron menangkup wajah Reva.
"Masalah tadi malam. Aku tidak bermaksud untuk melupakan hari jadi kita berdua. Aku sangat lelah dan banyak pekerjaan, maafkan aku yang sudah mementingkan kerja dibandingkan dirimu." Reva merasa sangat bersalah.
"Hei, Sayang. Kenapa kamu sensitif sekali? Hm? Tidak masalah, aku bisa maklum jika kamu melupakan hari jadi kita."
"Lain kali kamu harus ingatkan aku jika ada hari spesial."
Arron mengangguk, dia tersenyum dan mengecup pucuk kepala Reva.
"Oh, ya." Reva memberikan paper bag pada Arron. "Aku membelikan ini untukmu."
Arron menerima dengan senang hati. Dia melihat hadiah pemberian dari Reva, seketika senyumnya pun terbit.
__ADS_1
"Kamu memang sangat tahu seleraku. Terima kasih, Sayang." Arron memeluk Reva.
"Tentu saja aku tahu, kita 'kan sudah lama bersama."
"Aku juga punya hadiah untukmu." Arron mengambil hadiah yang tadi malam dia beli, dirinya sengaja membawa ke kantor karena berniat untuk pergi menemui Reva di butik.
Reva membuka beberapa hadiah dari sang kekasih. Matanya menatap hadiah itu dengan nanar, sungguh ini sangat membuatnya terharu.
"Sayang, kenapa banyak sekali?" Reva memegang satu set perhiasan yang Arron beli.
"Itu untukmu,"
Reva mengucapkan terima kasih dan dia memeluk tubuh Arron dengan erat. Namun, disisi lain entah mengapa Arron malah teringat tentang Sahara. Gadis baik itu sedari tadi menguasai pikirannya.
****
Sahara yang sedang berada di butik mendapat pesan jika dirinya harus datang ke suatu tempat. Gadis itu terlihat ketakutan, dirinya bingung harus pergi atau tidak.
Beberapa jam kemudian, Sahara sudah sampai di tempat tujuan dengan menaiki taksi online. Dia menghembuskan napas dengan perlahan lalu masuk ke dalam gedung yang terlihat kosong.
Tak lama, suara sepatu terdengar berjalan mendekati Sahara membuat gadis itu sedikit ketakutan.
"Mau apa kalian?" Sahara langsung bertanya ketika tiga orang pria sudah berada di hadapannya.
"Kau makin cantik saja, Sahara." ucap salah satu dari mereka sambil mencoba untuk mencolek dagu Sahara.
"Jangan menyentuhku! Aku bukan gadis lemah seperti yang kalian kenal dulunya,"
"Wah sepertinya kau sekarang terlihat semakin berani."
__ADS_1
Ketiganya tertawa bersamaan.
"Aku tidak punya waktu untuk meladeni kalian bertiga, sekarang katakan apa yang kalian inginkan! Berapa rupiah lagi yang harus aku bayar agar aku tidak terlibat urusan dengan pria gila seperti kalian ini!" Sahara murka.
"Seratus juta!" ucap pria itu menekan katanya.
Sahara melongo, dia kaget mendengar berapa banyak uang yang harus dia bayar.
"Kalian ingin mengurasku? Bukankah aku sudah mencicil hutang almarhumah ibuku?"
"Apa kau lupa dengan bunganya?''
Sahara langsung terdiam, sungguh miris hatinya, dia harus membayar seratus juta dan dirinya masih berpikir keras harus mencari uang sebanyak itu dimana.
"Beri aku waktu."
"Tiga Minggu!"
''Cepat sekali. Dua bulan?" pinta Sahara menegosiasi.
"Terakhir, satu bulan! Bagaimana? Jika kau tidak mau, maka terpaksa kami harus membawamu dan menjualmu ke Tuan Sutomo."
"Tidak! Aku akan mengusahakan dalam jangka waktu satu bulan sudah mendapatkan uangnya. Kalian tidak perlu terus terusan menghubungiku."
"Kau jangan berbohong, jika kau bohong, maka bersiaplah untuk mendapatkan hukumannya."
Sahara mengangguk lalu dia pergi meninggalkan pria itu. Dirinya masih berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak itu dalam kurun waktu satu bulan.
'Tidak mungkin aku meminjam uang Nona Reva, dia sudah banyak menolongku dan aku tidak ingin merepotkannya lagi.' batin Sahara tertekan.
__ADS_1
{**Bersambung**}