
Sebuah mobil truk besar melaju dari arah yang berlawanan dengan mobil Meysa, wanita itu kaget dan langsung membanting stir hingga menabrak pembatas jalan.
Brak!
Mobilnya terguling hingga mengalami kemacetan dijalan raya tersebut. Semua pengendara keluar dari mobil mereka dan berkerumun melihat kejadian itu.
"Argh," rintih Meysa yang terjebak di dalam mobil, dia ingin keluar tetapi kakinya terjepit.
"T—tolong." lirik Mey sambil mengulurkan tangannya berharap ada yang menolong. Darah mengalir deras dari kepala dan kakinya, mata Meysa terasa berat dan berkunang-kunang. Hingga pada akhirnya, dia pun memejamkan mata.
Para pengendara tidak berani mendekat, mereka lebih memilih untuk menghubungi pihak berwajib dan mendoakan Meysa agar selamat dari kecelakaan tersebut.
****
Di rumah sakit, Kiara menatap tubuh lemah sang putra yang saat ini kepalanya berbalut perban. Hati ibu mana yang tidak sakit melihat keadaan anaknya seperti ini. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk mata Kiara. Sementara Raymond, dia hanya bisa menguatkan istrinya itu.
"Sayang, aku mendapat kabar jika penabrak anak kita sudah ditemukan." ucap Ray membuat mata Kiara teralihkan.
"Benarkah? Mas, kamu harus memberikan pelajaran padanya. Lihat, akibat perbuatannya, putra kita hampir saja tiada." Kiara kembali menangis.
"Sst, sudahlah. Tadi pihak kepolisian menghubungiku, mereka mengatakan jika orang yang menabrak Rayyan sedang mengalami kecelakaan."
"Apa! Lalu bagaimana?" Kiara menatap manik mata abu milik suaminya.
"Entahlah, aku tidak tahu kelanjutannya. Aku akan melihatnya secara langsung, polisi sudah memberikan alamat rumah sakit dimana orang itu dirawat."
"Aku ikut, Mas!"
"Tidak, Sayang. Jika kamu ikut, siapa yang akan menunggu putra kita?" Ray berkata lembut dan membuat Kia mengangguk paham.
"Pintar. Aku pergi dulu, ya? Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku." Raymond mengecup dahi Kiara lalu pergi keluar dari ruangan Ray.
Di luar, Raymond menatap tajam ke depan sambil berjalan gagah. Dia sudah tidak sabar untuk melihat siapa orang yang sepertinya dengan sengaja mencelakai putra sematawayangnya.
***
__ADS_1
Rumah sakit HARAPAN KASIH.
Raymond berjalan menuju ke ruang rawat pelaku penabrakan, dia diantar oleh polisi.
"Apa ini ruangannya?" Ray bertanya kepada polisi tersebut.
"Bener, Tuan. Silakan masuk."
Raymond membenahi jasnya terlebih dahulu lalu masuk ke dalam ruangan tersebut.
Pintu pun terbuka, Raymond dapat melihat seorang wanita terbaring lemas di brangkar pasien. Kakinya melangkah lebar ke arah ranjang, dia mengerutkan dahi karena seperti mengenal wanita itu.
"Meysa." gumam Ray menatap wajah pucat Mey.
Dadanya bergemuruh, dia ingin sekali memaki Meysa tetapi kondisi wanita itu tidak memungkinkan untuk Ray melakukannya.
Perlahan, jari Meysa bergerak dan kedua kelopak matanya berkedut. Meysa pun tersadar, dia melihat ke sekeliling dan dirinya bernapas lega karena masih diberikan umur panjang.
"Aku pikir aku sudah mati." gumam Mey lemah, dia tidak menyadari jika Raymond ada disana.
"R—raymond." ucap Meysa terbata.
Ray tersenyum sinis. "Kau sudah sadar, pembunuh?"
Meysa diam seribu bahasa, dia menelan ludah secara kasar.
"Apa yang kau rasakan saat ini, hm? Ya, kau mengalami hal yang sama seperti putraku, tapi sayangnya kau dengan cepat sadar sementara putraku belum juga sadar hingga saat ini."
"A—apa yang kau katakan, Ray?"
Raymond mendekati Meysa, dia menatap wajah ketakutan milik Meysa. "Kau jangan pura-pura bodoh, Meysa. Aku sudah tahu jika kau yang sengaja menabrak putraku!" ucapnya menahan amarah dan berkata seram.
"Kau—"
"Ya! Polisi sudah menemukan buktinya yaitu plat mobi dan warna. Semuanya sangat persis dengan mobilmu, lalu kau ingin mengelak?"
__ADS_1
Meysa tersenyum dan dia tertawa jahat. "Baiklah, Ray. Berhubung kau sudah mengetahui semuanya, maka aku tidak perlu lagi berpura-pura."
Raymond mengeraskan rahangnya mendengar perkataan santai dari bibir Meysa.
"Ray, aku sudah memikirkan konsekuensinya sebelum melakukan sebuah kejahatan. Kau jangan khawatir, aku pasti akan bertanggungjawab untuk semua kesalahanku. Intinya, aku sudah puas karena telah berhasil membalaskan dendam pada kalian berdua." ujar Meysa tidak merasa takut.
"Kau benar-benar sudah gila, Meysa! Kau tidak waras!" bentak Ray kesal dan terpancing emosi.
"Ya! Aku memang gila, Ray! Aku gila karena dirimu. Kau sudah menghancurkan hidupku, kau menyia-nyiakan aku demi wanita kampungan itu!" teriak Meysa tidak mau kalah.
"Kau harusnya sadar apa yang terjadi dengan kita di masa lalu, Meysa. Aku tidak pernah memintamu untuk mencintaiku, dan aku sudah meminta agar kau menjauhiku! Lalu, kau menyalahkanku untuk kesedihanmu itu?" Ray menatap Meysa dengan mata merah.
Meysa diam saja, dia menahan tangisnya. Dadanya sangat sesak melihat wajah Ray, pria yang sangat dia cintai membentaknya seperti ini.
"Kenapa kau diam, hah! Ayo jelaskan. Kau hampir saja menghilangkan nyawa anak yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa.'' Raymond menarik napas dalam-dalam.
"Tuhan masih memberikanmu kesempatan untuk hidup, ubahlah dirimu agar menjadi lebih baik dan kau harus menerima hukuman atas tindakan yang sudah kau lakukan pada putraku." ucap Ray melanjutkan.
Meysa tertunduk, dia tidak menyesali perbuatannya tetapi dia menahan rasa amarahnya agar tidak meledak di depan Raymond.
"Pergi, pergi!" teriak Meysa mengusir Ray.
"Tanpa kau minta aku memang ingin pergi dari tempat ini. Selamat menikmati hidup di jeruji besi, Meysa. Aku pastikan hukuman untukmu akan sangat berat." Raymond berlalu pergi membawa segala kekesalannya, dia mengibaskan jasnya kebelakang sebelum sampai di pintu ruang rawat.
Setelah Ray pergi, Meysa berteriak frustasi. Dia mengambil gelas yang ada dimeja dan melemparkannya asal hingga gelas tersebut pecah berserakan di atas lantai.
"Argh!" teriaknya kencang diiringi tangisan. "Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Kenapa cintaku sesakit ini?" Mey terus menangis.
Meysa berniat kabur dari rumah sakit, dia segera mengangkat kakinya tetapi ada hal aneh yang dia rasakan.
•
•
TBC
__ADS_1