
Ray meminta pada Yola untuk membuatkannya kopi, pria itu sengaja memerintah Yola karena gadis tersebut adalah asisten pribadinya.
Yola datang dengan membawa nampan berisi Kopi, dia meletakkan di atas meja milik Ray tetapi ketika dirinya hendak berbalik, tanpa sengaja talam yang dia pegang menyenggol gelas kopi hingga membuatnya tumpah dan membasahi berkas Ray yang berada di atas meja.
Rayyan melotot, dia langsung menegakkan tubuhnya. Pria itu menatap Yola yang terlihat menelan ludah secara kasar.
"T—tuan, maaf saya tidak sengaja."
"Kenapa kau ceroboh sekali!'' bentak Ray membuat nyali Yola mengkerut.
"Sekarang kau harus menyalin ulang berkas ini! Kau tidak tahu betapa pentingnya kertas basah itu bagi perusahaan! Sebelum selesai melakukan tugasmu, kau tidak boleh pulang. Paham?" Ray keluar dari ruangannya. ''Bersihkan meja saya!" perintahnya sebelum membuka pintu.
Yola yang masih berada di dalam hanya mampu menatap berkas basah itu, dia membersihkan meja Ray yang terkena tumpahan kopi. Baru satu hari bekerja, dirinya sudah membuat huru hara. Yola hanya mampu menghela napas dan melakukan perintah dari sang atasan.
Gadis tersebut membawa berkas basah itu keluar dari ruangan, dia bertanya pada staf siapa yang mengetik berkas itu. Setelah staf memberitahu, Yola pun langsung menemuinya.
Tak terasa waktu dengan cepat berlalu, sudah pukul sembilan tetapi Yola belum juga selesai melakukan tugasnya. Bagaimana tidak, sangat banyak berkas yang terkena tumpahan kopi hingga Yola kewalahan mengerjakannya. Staf sudah mengajari Yola bagaimana cara menyalin, dan mengeprint berkas tersebut.
__ADS_1
Yola menguap, matanya sangat lelah karena sedari siang terus menatap laptop. Dia mengucek matanya dan melihat tugas yang sudah hampir selesai.
"Pria itu tidak memiliki rasa kasihan. Dia membiarkan gadis imut sepertiku lembur begini."
Seseorang menepuk pundak Yola dari belakang dan gadis itu tidak memperdulikannya atau pun menoleh. Yola kembali merasakan tepukan di pundaknya, dia hanya berdecak kesal.
"Siapa pun kau, Sudahlah jangan menggangguku. Kau tidak lihat aku sedang sibuk? Sedikit lagi pekerjaanku selesai dan aku tidak mau menunda waktu hanya karena meresponmu."
Seseorang itu tidak pergi, bahkan dia kembali menepuk pundak Yola.
"Apa atasan kita memang seperti itu? Dia sangat angkuh, bahkan tidak mempedulikan gadis imut sepertiku bekerja lembur begini. Bagaimana jika ada orang yang berusaha menjahatiku ketika aku pulang ke rumah nanti? Lihatlah, hari sudah hampir larut dan bahkan aku belum pulang. Aku yakin pasti ibuku sangat khawatir saat ini.'' Yola terus mengoceh tiada henti dengan jari yang menari di atas keyboard.
"Kau sudah selesai bicaranya?"
"Ya, tentu saja! Aku sudah puas mema—" Yola membekap mulutnya sendiri ketika dia mendengar suara seorang pria. Dirinya menoleh ke belakang dan seketika senyumnya pun terbit.
"T—tuan, saya pikir Anda sudah pulang." Yola menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Saya tadi memang sudah pulang, tapi saya kembali lagi untuk mengambil berkas yang kau kerjakan. Saya harus memeriksanya malam ini karena besok saya ada meeting penting." Ray bersidekap. ''Tadi saya dengar kau sedang membicarakan tentang saya. Benarkan?"
"Oh, itu. Ck, Tuan salah dengar." titah Yola.
"Kau yakin? Pendengaran saya masih sehat, jadi bagaimana mungkin saya bisa salah dengar?''
'Huh, pria ini sangat menyebalkan. Jika dia bukan atasanku, maka saat ini aku sudah menonjok wajahnya yang angkuh.' batin Yola sambil berpura-pura tersenyum.
Yola membereskan berkas-berkas yang sudah selesai dia kerjakan. Dirinya memberikan pada Rayyan tanpa ingin memperpanjang perdebatan.
"Tuan, tugas yang Anda berikan sudah selesai. Untuk kedepannya saya tidak akan ceroboh lagi dalam melakukan hal apa pun. Kalau begitu saya ingin pulang, permisi, Tuan." Yola meraih tas nya yang berada di atas meja lalu dia pergi meninggalkan Rayyan begitu saja.
''Dasar tidak sopan!" ucap Ray dan dia pun keluar dari gedung itu. Disana masih ada beberapa karyawan yang lembur, maka Yola tidak takut sama sekali.
{**Bersambung**}
__ADS_1