Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #132


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Reva mengurung diri di dalam kamar. Bahkan, untuk makan saja dia tidak selera. Kiara yang mendapat kabar tentang putrinya langsung memutuskan untuk kembali ke Indonesia.


Saat ini Kiara sudah berada di depan pintu kamar Reva, dia mengetuknya dan memanggil nama sang putri.


"Sayang, Reva! Buka pintunya! Mama membawakan sarapan untukmu."


Kiara sudah berulangkali memanggil Reva tetapi tidak ada jawaban, hatinya merasa gelisah karena selama tiga hari ini Reva hanya memakan buah saja. Kiara mengambil kunci cadangan, dia membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam sana.


Terlihat Reva sedang berdiri di balkon kamar sambil menatap lurus ke depan. Sebagai seorang ibu dan wanita, Kiara tahu perasaan Reva saat ini. Dia memegang pundak Reva dari belakang hingga membuat sang empunya menoleh. Reva menghapus air mata dengan cepat ketika melihat Kiara.


"Ma, sejak kapan Mama berada disini?"


Kiara mengelus rambut Reva. Dia merentangkan tangannya. "Mama tahu sangat sulit bagimu untuk melupakan laki-laki brengsek itu. Menangislah sepuasmu, putriku. Menangislah jika hal itu bisa membuat hatimu tenang."


Reva memeluk tubuh Kiara dengan erat, dia menangis di dalam pelukan sang Mama. Tangisan itu sungguh menyayat hati bagi Kiara, dia terakhir kali mendengar tangisan Reva pada waktu gadis itu masih kecil, dan kini tangisan tersebut terdengar lagi.


"Ma, kenapa sesakit ini? Kenapa harus Reva yang mengalaminya?"


"Sayang, mungkin dia bukan yang terbaik buat kamu."


"Perjuangan Reva selama ini dalam mempertahankan hubungan terbuang sia-sia. Reva hanya menjaga jodoh orang, Ma.''

__ADS_1


"Mama yakin suatu saat nanti pasti kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baik dan lebih segala-galanya dari Arron."


"Tapi Reva takut kecewa untuk kedua kalinya." Reva merasa ada trauma di dalam hati.


"Serahkan semuanya pada Tuhan, Sayang. Intinya kamu jangan memikirkan apa pun lagi. Jaga kesehatan dan buka lembaran baru. Jangan bersedih terlalu lama, itu tidak akan baik."


Reva mengangguk, dia semakin erat memeluk tubuh Kiara .


"Ma, Reva ingin beristirahat." ucap Reva mengurai pelukannya.


"Kamu harus sarapan dulu, dari kemarin kamu tidak memakan apa pun. Mama takut kamu malah jatuh sakit nantinya."


Reva menuruti perkataan Kiara, mereka berdua berjalan ke arah ranjang dan duduk disana. Kiara dengan telaten menyuapi Reva meskipun hanya memakan sepotong roti saja.


***


Di kantor, Ray menatap laptopnya dengan tajam. Disana dia membatalkan semua kerjasama dengan perusahaan Arron Pahlevi. Ya, pastinya hal itu membuat perusahaan Arron rugi besar. Ray tidak masalah jika harus membayar denda pinalti karena sudah membatalkan kontrak. Intinya, dia tidak ingin berurusan lagi dengan keluarga Pahlevi.


"Dia pikir dirinya bisa hidup tenang karena sudah menyakiti adikku? Kau rasakan itu, Arron."


Ray mendapat telepon dari Arron. Dia tersenyum sinis lalu menjawabnya.

__ADS_1


"Selamat siang, Tuan Arron yang terhormat.''


📱"Selamat siang, Tuan Ray William. Tuan, kenapa Anda membatalkan kontrak kerjasama yang sudah kita setujui waktu itu?"


"Saya hanya tidak ingin melakukan kerjasama dengan pemimpin seperti Anda."


Arron tentu tahu kemana arah pembicaraan Ray, tetapi dia mencoba untuk tidak sakit hati demi kerjasama.


📱"Kenapa Anda tidak profesional, Tuan? Seharusnya Anda tidak bisa mencampur adukkan masalah pribadi ke pekerjaan."


"Anda berpikir sangat jauh, Tuan. Saya memang jujur, saya tidak ingin bekerjasama dengan seorang penipu seperti Anda."


Arron cukup emosi mendengar ucapan Ray barusan, tetapi dia harus menenangkan hatinya.


📱"Tuan, apa kita tidak bisa membicarakan hal itu baik-baik? Setidaknya jangan batalkan kerjasama,"


"Maaf, Tuan Arron. Saya tidak punya waktu untuk melayani orang seperti Anda."


Arron mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dia menggebrak meja dan menyugar rambutnya secara kasar.


"Sial! Hanya karena aku sudah tidak lagi memiliki hubungan dengan Reva mereka dengan seenaknya membatalkan kontrak kerjasama."

__ADS_1


{**Bersambung**}



__ADS_2