
Pagi harinya, Jimmy terbangun tepat pukul tujuh pagi, dirinya melirik ponsel yang ada di sampingnya. Dia kembali memejamkan mata karena tidak ada pesan atau panggilan dari Elsa. Jimmy masih kepikiran tentang hal tadi malam, dia sangat yakin jika Elsa pasti masih marah.
"Huft," Jimmy menegakkan tubuhnya lalu dia mengambil ponsel dan mulai menghubungi Elsa.
Satu kali panggilan tidak di jawab oleh sang pujaan hatinya. Tak putus asa, Jimmy kembali menghubungi nomor Elsa. Tak berselang lama gadis tersebut menjawabnya.
π±"Halo, selamat pagi. Kau sudah bangun?" Elsa mencoba untuk berbasa-basi.
"Morning too, Honey. Kenapa kamu tidak menghubungiku pagi ini, hm? Kamu masih marah denganku? Ay, yang kamu lihat kemarin tidak seperti apa yang kamu pikirkan."
π±"Sudahlah, kenapa kau masih membahasnya? Lupakan semua, aku tidak ingin membahas masalah yang tidak penting." ketus Elsa sedikit kesal.
"Apa kamu sudah bersiap untuk pergi ke kantor?"
π±"Ya, sebentar lagi."
"Kamu sudah sarapan?"
π±"Sebentar lagi.''
Jimmy tersenyum jahil, kekasihnya itu hanya menjawab sebentar lagi, sebentar lagi dan sebentar lagi. Dia berpikir untuk mengerjai Elsa dengan pertanyaannya.
"Ay, apa kau ingin aku menjemputmu sekarang?"
__ADS_1
π±"Sebentar lagi." Elsa menjawab spontan dan beberapa detik kemudian dia menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.
'Ya ampun, Elsa. Kau ini, kenapa bisa menjawab seperti itu?' batin Elsa merutuki kebodohannya.
"Ay, apa kamu mendengarkan aku? Aku akan segera bersiap lalu menjemputmu."
π±"Tidak! Maksudku, tidak perlu menjemput. Aku bisa naik mobil sendiri."
"Hei, mana bisa seperti itu! Kamu bilang sebentar lagi, maka itu tandanya kamu harus menungguku."
π±"Tapiβ" Elsa terdiam ketika Jimmy menyela perkataanya dengan cepat.
"Sst! Tidak ada tapi-tapian. Tunggulah aku disana, dan jangan kemana-mana. Kamu paham, Ay?"
"Lihatlah, Elsa. Itu semua akibat mulutmu yang bicara tanpa rem dan tanpa berpikir. Padahal niat hati kau ingin menghindar dari Jimmy, tetapi sekarang rencanamu semuanya sia-sia." Elsa memejamkan mata, dia bicara pada dirinya sendiri.
Elsa tidak ingin berpikir lama, dia pun memutuskan untuk bersiap sebelum Jimmy sampai terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian, suara deru mobil berhenti tepat di pekarangan apartemen. Elsa dapat melihat dari balkon kamar betapa wibawanya seorang Jimmy yang baru saja turun dari mobil. Pria itu mengibaskan Jasnya dan membenahi rambut. Lalu, dia berjalan sangat cool menuju teras apartemen.
Pintu diketuk dan Elsa segera menutup tirai jendelanya balkon. Dia menyambar tas serta ponselnya yang berada di atas meja rias, tak lupa gadis itu menyemprotkan parfum ke bagian tubuhnya.
Berjalan dengan sedikit terburu-buru, hingga pada akhirnya dia sampai di depan pintu ke keluar dan membukanya untuk Jimmy .
__ADS_1
"Halo, Ay." Jimmy tersenyum manis sambil menatap wajah Elsa.
"Halo, By." Elsa menjawab seadanya tanpa sebuah senyuman, padahal biasanya dia selalu tersenyum manis jika berada di dekat Jimmy.
"Kamu sudah selesai? Apa kita bisa pergi sekarang?"
"Ya, tentu saja. Ayo!"
Keduanya berjalan pergi dari apartemen setelah Elsa mengunci pintu. Jimmy membukakan pintu mobil untuk Elsa dan mereka masuk ke dalam kendaraan beroda empat itu.
"Ay, kamu masih marah?" Jimmy bertanya sebelum mobil melaju.
"Aku 'kan sudah bilang, jangan membahas masalah itu lagi." Elsa tak menatap ke arah Jimmy sedikitpun. "Ay, aku hanya ingin meluruskan semuanya. Aku tidak bisa jika kamu berubah menjadi cuek seperti ini.
"Jalankan mobilnya atau aku turun? By, kau tau sifatku 'kan? Aku hanya ingin sendiri terlebih dahulu sampai pikiranku benar-benar tenang.'' Elsa menatap lurus ke depan dan itu tandanya dia sangat marah.
"Baiklah, maafkan aku." Jimmy mengalah daripada urusan semakin panjang.
Mobil pun melaju pergi dari sekitaran apartemen.
{Bersambung}
__ADS_1