
"Tapi, Mey.. Malam ini aku harus tidur bersama dengan—" ucapan Ray terpotong karena Meysa dengan cepat menyelanya.
"Kalau kamu gak mau tidur di kamar ku biar aku saja yang tidur di sini bersama kalian berdua." Mey ingin melangkah tetapi Kiara dengan cepat mencekal lengannya.
"Mas Ray akan menemani Mbak Meysa tidur, saya gak pa-pa kok tidur sendirian." ucap Kiara.
"Bagus. Ayo honey, tunggu apa lagi? Kiara sudah memberikan izin dan kamu gak punya alasan lain untuk menolak tidur bersama denganku." Mey menarik tangah Raymond dan mereka berdua pergi dari hadapan Kia.
Kiara sendiri hanya menatap kepergian sang suami dan madunya, dia menghela nafas pelan lalu masuk ke dalam kamar.
Kiara duduk di tepi ranjang, dia mendongakkan kepala lalu menutup mata sejenak sembari menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan. Kia kembali menegakkan tubuhnya, dia menatap pintu balkon dan berjalan ke arah balkon kamar.
Sesampainya di balkon, Kia melihat ke atas langit.
"Nek, Kia kangen sama Nenek." lirih Kiara bersedih.
"Kia gak nyangka jika Allah memberikan Kia kehidupan yang penuh lika-liku seperti ini, Kia hanya selalu berharap jika suatu saat nanti Kia bisa bahagia meskipun mempunyai madu." Kiara memegang perutnya yang masih rata.
"Ya Allah, aku mohon hembusan'kan lah kehidupan di rahim ku sebagai janin. Aku sangat ingin hamil, aku ingin Mas Ray selalu memperhatikanku juga.." Kiara meneteskan air mata.
Setelah beberapa saat, dia segera menyeka air matanya.
"Menangis memang membuat seseorang yang sedang dilanda kesedihan menjadi lega, aku berharap Allah telah mempersiapkan hal indah untukku suatu saat nanti." Kiara segera pergi dari balkon menuju ranjang.
Dia membaringkan tubuh di atas ranjang. mematikan lampu tidur dan langsung memejamkan mata.
***
Keesokan paginya.
Kiara telah selesai membuat sarapan pagi. Wangi harum masakan pun telah memenuhi seluruh penjuru rumah, hingga Mey yang kala itu baru selesai mandi langsung bergegas keluar dari kamar.
"Kia, kamu masak apa?" Mey bertanya ketika sudah berada di meja makan.
"Mbak Mey udah bangun? Ini Mbak, saya baru aja selesai masakin sup ceker ayam untuk Mas Ray." jelas Kia sembari meletakkan mangkuk di atas meja makan.
Meysa menelan air liur, dia sangat ingin mencicip masakan Kiara yang wanginya sangat menggoda selera tetapi dia harus berusaha tidak terlihat murah dan menunggu Ray terlebih dahulu.
__ADS_1
Raymond telah bersiap untuk pergi ke kantor dan dia berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan.
"Selamat pagi," sapa Ray kepada istri sah dan istri sirinya.
"Pagi, Mas"
"Pagi honey."
Kiara dan Meysa menjawab bersamaan.
Ray mengecup pucuk kepala milik Kiara sekilas dan itu membuat darah Meysa mendidih.
'Bisa-bisanya dia bersikap sok mesra di depan ku seperti itu, harusnya aku yang sedang mengandung diperlakukan manis begitu, bukan Kiara!' batin Meysa meluapkan kekesalannya.
"Sayang, buat'kan aku kopi ya? Seperti biasa." pinta Ray kepada Kia.
Kia mengangguk dan segera pergi ke dapur membuatkan kopi untuk Raymond.
Beberapa menit kemudian, Kiara telah kembali dengan membawa segelas kopi.
"Aduh!" rintih Meysa yang kala itu kakinya terkena tumpahan kopi panas.
"Mey!" Raymond beranjak dari kursi dan segera berjongkok di hadapan Meysa.
"Aduh, Ray.. Kaki ku, kaki ku panas..." Mey menangis tetapi dalam hatinya dia tersenyum karena rencananya saat ini pasti akan berjalan lancar.
"Kia, kamu ini bagaimana? Lihat-lihat dong kalau jalan, kenapa kopinya bisa tumpah!" seru Ray sedikit membentak Kiara.
"Mas, aku.. Aku tidak sengaja, aku juga tidak tahu mengapa kopinya bisa tumpah." ucap Kia dengan bibir gemetaran.
"Udahlah, Ray.. Ini nanti hanya melepuh sedikit, di olesi salep juga tar sembuh sendiri." Mey berpura-pura membela Kiara.
"Tapi 'kan tetap aja panas." ucap Ray melihat kaki Meysa yang terkena tumpahan kopi, kaki itu memerah dan sedikit melepuh.
"Mas, tadi aku seperti tersandung jadi kopinya tidak sengaja tumpah di kaki Mbak Meysa." Kia terus membela dirinya sendiri agar Ray tidak salah paham.
"Sudahlah, Kia.. Gak pa-pa, kamu tidak perlu merasa bersalah dan mencari alasan yang tidak masuk akal seperti itu." Mey beranjak dari kursi.
__ADS_1
Ray pun menegakkan tubuhnya kembali.
"Aku langsung pergi ke kantor saja, sekali lagi jangan ulangi hal seperti ini ya sayang.." Ray mengelus pucuk kepala Kiara dengan lembut, dia baru sadar jika suaranya tadi sedikit meninggi ketika berbicara dengan Kiara.
Kia hanya mengangguk paham.
"Kamu gak sarapan dulu, Mas? Atau mau aku bawain bekal aja?"
Ray menggeleng. "Gak usah, aku nanti sarapan di kantor aja dan pesan makan siang lewat go food." Ray tersenyum tipis.
Dia mengecup kening Kiara dan mengelus perut Meysa, lalu setelah itu dia langsung pergi keluar dari rumah.
Setelah sudah memastikan Raymond pergi, Meysa langsung mendekati Kiara.
"Ini baru permulaan, kau tunggu saja kejutan selanjutnya." Meysa tersenyum licik lalu pergi meninggalkan Kiara yang hanya terdiam mematung.
"Apa maksud Mbak Meysa?" Kiara bergumam, dia terus mencerna dan memikirkan ucapan Meysa barusan.
•
Istri sah
Istri siri
•
TBC
**HAPPY READING
SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA..
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMA KASIH BANYAK 🙏🏻**
__ADS_1