
Keesokkan paginya, Reva terbangun dan dia melihat ponselnya yang sudah terisi penuh. Tadi malam dia sampai dirumah pukul sebelas malam dan kebetulan ponselnya lowbet. Reva men-charge ponsel lalu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, Reva pun merebahkan dirinya di atas ranjang. Tubuhnya terasa sangat lelah dan matanya juga berat akibat mengantuk. Reva tidak tahan dengan keadaan itu, dia pun akhirnya terpejam dan tertidur pulas tanpa menunggu ponselnya hidup.
Reva membuka aplikasi hijau, ternyata banyak sekali pesan masuk dari kekasihnya. Reva mulai membuka dan dia menepuk dahi dengan kasar.
"Ya ampun, kenapa aku bisa lupa? Kemarin itu hari Anniversary ketiga tahun hubunganku dan Arron. Ck, bodoh sekali kau Reva. Kau lebih memikirkan pekerjaan di bandingkan calon masa depanmu." Reva mencoba menghubungi Arron, tetapi tidak di jawab oleh pria itu.
"Kenapa tidak di jawab? Apa Arron marah? Tidak-tidak, aku akan bersiap lalu pergi ke kantornya dan meminta maaf." putus Reva, dia meletakkan ponselnya dan berjalan masuk ke kamar mandi.
Reva belum sadar jika Sahara tidak berada dirumah. Tadi malam sesampainya dia dirumah, dirinya langsung masuk ke dalam kamar.
****
Di apartemen milik Arron. Pria itu terbangun ketika mendengar ponselnya yang berdering dan cahaya matahari yang masuk lewat jendela. Arron merasakan kepalanya yang sangat berat, dia ingat terakhir kali dirinya itu berada di klub.
"Kenapa aku bisa di apartemen? Apa ada seseorang yang mengantarkanku pulang?" Arron kembali mengingat tetapi dia sulit untuk hal itu.
Terdengar suara kegaduhan dari arah dapur dan Arron segera berjalan ke sumber suara. Dia tercengang ketika melihat Sahara yang ternyata ada di apartemennya. Berulangkali Arron mengucek mata, tetapi kali ini penglihatannya tidak salah.
__ADS_1
"Sahara?" Panggil Arron membuat Sahara menoleh.
"Selamat pagi, Tuan Arron.'' balas Sahara sambil tersenyum manis.
"Sahara, kenapa kau bisa ada disini?" Arron bertanya dengan nada sedikit tidak suka.
"Tuan, Anda tidak ingat kejadian tadi malam? Saya yang mengantarkan Anda pulang, Tuan. Lalu, saya ingin pergi dan Anda mencegah saya. Saya akhirnya tidur di sofa."
Arron merasa bersalah karena sudah berburuk sangka pada Sahara. "Maafkan saya, Sa. Dan terima kasih karena kau sudah mau membantu saya." ucapnya lesu.
Sahara membawa sarapan ke meja makan, dia menyuguhkan Kopi untuk Arron, lalu duduk di kursi. "Anda tidak perlu minta maaf, Tuan. Saya mengerti perasaan Anda sekarang."
"Tuan, Anda jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Anda juga harus bisa mengerti kesibukan Nona Reva. Kemarin dia terlihat kelelahan akibat mengurus banyak pekerjaan."
Arron mengapa Sahara yang bertutur kata lembut itu. "Aku sangat bodoh karena sudah berani mabuk-mabukan. Padahal, Reva tidak menyukai itu."
"Jadikan pelajaran, jika Anda mencintai Nona, maka Anda harus menjauhi apa yang Nona tidak suka."
Arron hanya diam saja, dia pergi berpamitan untuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Hari sudah menjelang siang, Arron harus segera pergi ke kantor.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, Sahara sudah berada dirumah. Kebetulan disana hanya ada Reva, Rayyan, dan dirinya. Kedua orang Tua Reva berada di luar negeri.
Reva yang ingin pergi ke butik baru teringat tentang Sahara. Dia berjalan menuju kamar gadis itu dan mengetuk pintu.
"Sa, Sahara!" teriak Reva tetapi tidak ada sahutan.
"Kenapa dia belum bangun juga? Reva kembali mengetuk pintu. "Sa, aku akan menunggumu di meja makan!" teriaknya beralih menuruni anak tangga.
Saat dia hendak duduk di kursi, tiba-tiba Sahara masuk ke dalam rumah. Tentu saja hal itu membuat Reva terheran.
"Sa, kau darimana? Aku pikir kau—"
''Nona! Saya, saya baru saja selesai menyiram tanaman. Iya, menyiram.''
Reva pun percaya saja, dia mengangguk. ''Baiklah, cepat mandi dan aku akan menunggumu. Kita segera pergi saja, aku sedang tidak mood untuk sarapan dirumah."
Sahara mengangguk. Dia berlalu dari hadapan Reva. Namun, ada hal aneh yang Reva rasakan. Saat Sahara lewat, wanginya sangat sama seperti Arron.
'Kenapa wanginya seperti parfum Arron? Mungkin kebetulan.' batin Reva tidak ingin berpikiran negatif.
__ADS_1
{**Bersambung**}