
Meysa dan Kiara sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Argh, perutku sakit sekali.." Mey terus saja merintih hingga buliran bening jatuh membasahi pipinya.
"Sabar ya, Mbak. Sebentar lagi sampai," Kiara mengelus lengan Meysa.
Mey sendiri terus memejamkan mata dan keringat juga ikut mengucur membasahi dahinya.
Lima belas menit kemudian.
Mereka dengan cepat turun dari mobil dan Kiara segera mencari Dokter.
Dua orang perawat datang membawa brangkar.
Sesampainya di dalam ruang rawat.
"Mohon maaf, Nyonya. Harap menunggu diluar, saya akan memeriksa keadaan pasien." ucap Dokter ketika hendak masuk ke dalam ruangan itu.
Kia hanya mengangguk pasrah.
Dia terus saja mondar-mandir melihat pintu ruangan yang belum juga terbuka.
"Kenapa lama sekali?" gumamnya dan teringat akan sesuatu.
Kiara berlari kecil ke meja administrasi.
"Permisi, Mbak. Bisa saya pinjam teleponnya?"
Penjaga meja administrasi langsung mengangguk dan mempersilahkan Kiara untuk menelepon.
Sambungan terhubung.
"Halo, Mas! Mas ini aku Kiara, aku sedang berada di rumah sakit mengantarkan Mbak Meysa. Dia baru saja jatuh dari tangga dan saat ini sedang diperiksa oleh Dokter."
"Baiklah, aku tunggu."
Kiara meletakkan telepon kembali dan mengucapkan terima kasih, dia bergegas menuju ruangan Meysa.
Setelah Dokter selesai memeriksa keadaan Meysa, dia langsung mengatakan jika janin yang ada di dalam rahim Mey tidak dapat diselamatkan akibat benturan keras dari anak tangga.
"APA!" pekik Meysa histeris.
__ADS_1
"Tidak... Ini tidak mungkin..." lirihnya seraya meneteskan air mata.
"Maaf, Nyonya. Berhubung kandungan anda masih terlalu muda, jadi sulit untuk menyelamatkannya. Janin yang masih berusia beberapa minggu memang sangat rentan keguguran."
Mey menangis histeris.
'Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin Mas Raymond berubah lagi karena aku sudah keguguran.' batin Mey memikirkan rencana.
"Dokter, saya mohon jangan beri tau tentang kondisi saya yang sebenarnya kepada suami saya dan istri sirinya." Mey berkata dengan lirih.
"Maksud Nyonya?" Dokter wanita berusia tiga puluh tahun itu mengerutkan dahi.
"Saya di madu, Dok. Dan tadi yang mengantarkan saya ke rumah sakit ini adalah istri siri suami saya, saya yakin dia pasti akan bahagia karena melihat saya yang telah keguguran. Saya juga tidak mau diceraikan, Dok..." Meysa berbohong.
"Saya turut sedih.." Dokter jadi merasa iba. "Lalu apa yang harus saya katakan pada Nyonya itu?"
"Katakan jika kandungan ku baik-baik saja dan kondisi ku juga tidak terlalu buruk." Mey menatap Dokter dengan sendu. "Saya nanti akan memberikan kompensasi pada Dokter kalau Dokter tidak membongkar keguguran saya ini. Saya harap Dokter bisa menutup mulut rapat-rapat." lanjutnya.
Dokter hanya terdiam sembari berpikir. "Tapi, Nyonya. Saya tidak berani,"
"Dokter saya mohon..." mata Meysa berkaca-kaca.
"Terima kasih Dokter, terima kasih...." Meysa akhirnya bisa bernafas lega.
'Aku memang benar-benar Ratu Drama.' Meysa mengedikkan bahu.
Dokter keluar dari ruang rawat dan bertepatan dimana Raymond sudah menunggu di kursi.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" Ray segera beranjak dari kursi.
"Anda suami pasien?"
Ray mengangguk.
"Keadaan pasien baik-baik saja." Dokter mengatakan maaf dalam hati karena sudah berbohong.
"Bagaimana dengan kandungannya?" Ray menjadi khawatir karena dia masih mengira jika janin yang berada di rahim Mey adalah anaknya.
"Kandungan pasien juga baik-baik saja. Syukurlah janin nya kuat dan bisa selamat dari keguguran."
Ray menghembuskan nafas lega. "Apa saya boleh masuk ke dalam?"
__ADS_1
Dokter mengangguk dan melirik Kiara sekilas.
"Baiklah, terima kasih." Raymond segera masuk ke dalam ruang rawat karena biar bagaimanapun Meysa adalah cinta pertamanya, mereka sudah beberapa tahun bersama dan menjalin hubungan hingga kejenjang yang serius, tetapi takdir mengubah segalanya.
Kiara hanya menunggu di depan ruang rawat.
Ray menatap Mey yang terbaring lemas di atas brangkar.
"Ray.." Meysa berkata dengan lirih sembari meneteskan air mata.
"Mey! Kamu baik-baik saja'kan? Apa ada yang sakit?" Ray mengelus kepala Meysa dengan lembut.
Meysa tersenyum tipis.
"Aku baik-baik saja, begitupun dengan kandunganku."
"Syukurlah." Ray mengelus perut Meysa yang masih rata. "Kiara berkata jika kamu terjatuh sendiri dari tangga. Benarkah?" sambungnya.
Entah mengapa semenjak Kia berkata tentang kandungan Mey bulan lalu, Raymond merasa sedikit tidak percaya kepada Kiara saat ini.
"Kia benar, aku terpeleset sendiri dan terjatuh dari tangga. Tetapi Kia tidak menolongku, dia hanya menatap aku yang terguling dari tangga." Mey menangis.
Ray menggeleng heran. "Kenapa sifat Kiara menjadi jahat seperti itu?" Raymond menatap Meysa dan menghapus air mata yang menetes di pipi. "Aku akan segera kembali." dirinya beranjak dari kursi dan berjalan pergi keluar.
Sesampainya diluar.
PLAK!
•
•
•
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMA KASIH BANYAK 🙏🏻**.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK OTHOR 🌹
__ADS_1