
Elsa membuka bingkisan dari Jimmy, dia mengerutkan alisnya sebab pria tersebut memberikan gaun indah dan sekotak kue. Mata Elsa berhenti pada selembar surat yang ada di dalam kotak kue, dengan tidak sabaran dirinya langsung membaca surat itu.
'Jangan takut untuk memakan kue pemberian dariku, aku memberikannya ikhlas dan aku tidak meletakkan racun disana.' Jimmy membubuhkan emot tertawa. 'Gaun itu untukmu, anggap saja sebagai pengganti karena aku sudah merusak pakaian olahragamu kemarin.'
Tanpa sadar senyum Elsa pun terbit, baru kali ini ada pria yang bisa membuatnya tertawa hanya lewat Surat. Dia dulu menyukai Raymond, tetapi saat ini Ray telah bahagia bersama istrinya.
"Pria aneh!" decih Elsa sambil menggelengkan kepala. Dia kembali membereskan bingkisan lalu melahap kue dari Jimmy.
****
Di tempat lain, Meysa sedang merencanakan sesuatu yang jahat untuk membalaskan dendam pada Ray dan Kiara. Dia sudah memikirkan hal ini matang-matang meskipun nanti dirinya akan masuk ke dalam jeruji besi.
"Aku tidak peduli apa yang akan terjadi setelah ini, Intinya aku sudah puas membalaskan dendamku pada mereka.'' Mey tersenyum jahat, matanya menatap tajam lurus ke depan.
Dia tengah bersiap untuk pergi ke sekolah Rayyan, dirinya bertekad untuk melakukan kejahatan pada bocah tidak bersalah itu.
Tak lama kemudian, sampailah dia di gerbang sekolah milik Ray. Dirinya tetap menunggu di mobil sampai bocah kecil itu keluar dari sekolahnya. Hingga tak terasa bel sekolah pun berbunyi, semua siswa/siswi berhamburan keluar dari gerbang sekolah.
Meysa menatap kerumunan anak-anak itu dengan seksama, dia tidak ingin kehilangan momen ini.
"Nah, itu dia!" Mey melihat Rayyan yang ingin menyeberang dan berjalan sendirian.
"Inilah waktunya." senyum Mey terbit dan dia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Dari kejauhan, Kiara yang memang sudah datang terlebih dahulu untuk menjemput Rayyan seketika tersenyum lebar, ketika melihat sang putra yang berjalan ke arahnya.
"Sayang—" panggilan Kia terputus dan berganti dengan sebuah teriakan. "RAYYAN!" ucapnya histeris karena melihat sebuah mobil yang melintas dengan cepat dari arah kanan putranya.
Brak!
Tubuh mungil Ray terpental jauh dan mampu membuat lutut Kiara melemas. Matanya menatap ke arah sang putra yang tergeletak lemah di atas aspal. Dia berlari dengan cepat tanpa memikirkan kendaraan yang berlalu-lalang .
"Ray! Ray anakku," Isak Kiara sambil bersimpuh di sebelah tubuh Ray yang bersimbah darah.
Tangisannya pun pecah begitu saja, dia menoleh kebelakang dimana mobil yang tadi menabrak Ray kabur begitu saja.
"Ray, bangun sayang ini Mama, Nak." Kiara menggenggam tangan Ray yang sangat lemas.
'Ya Tuhan, selamatkan putraku. Siapa orang yang berani menabrak putraku? Semoga dia mendapat balasan, padahal harusnya dia tahu jika waktunya anak-anak pulang sekolah dan ada juga larangan harus berhati-hati.' Isak Kiara dalam hati, dia yakin jika musibah ini pasti disengaja.
****
Di kantor, Ray mendapat kabar jika putranya terkena musibah, dia bergegas ke rumah sakit dimana putranya dirawat.
Tak lama kemudian, sampailah Ray di rumah sakit tersebut. Dia mencari kamar Rayyan, sampai pada akhirnya Ray dapat melihat Kiara yang berdiri di depan pintu ruang rawat.
"Sayang!" teriak Ray memanggil dan Kiara pun menoleh.
__ADS_1
"Mas," Kiara berlari menghampiri Raymond, dia memeluk tubuh suaminya dengan amat erat.
"Mas, hiks." Kiara pun kembali terisak di dalam pelukan Ray.
"Sayang, bagaimana mungkin ini bisa terjadi pada putra kita? Dan apa pelakunya sudah ditangkap?"
Kiara menggeleng. "Pelakunya langsung melarikan diri, Mas. Aku, aku takut terjadi sesuatu pada putra kita. Bagaimana jika—"
"Sst!" Ray mengelus kepala Kiara dengan lembut. "Jangan berpikir negatif terlebih dahulu, sebaiknya kita doakan saja yang terbaik untuk putra kita. Aku akan mencari pelaku itu dan aku pastikan dia akan mendapat hukuman yang seberat-beratnya." janji Ray membuat Kiara mengangguk.
****
Di dalam mobil, Meysa tertawa bahagia. Dia bisa bebas dan pada akhirnya berhasil membalaskan dendam pada Ray dan Kiara.
"Kalian pasti saat ini sedang merasakan duka yang sangat mendalam." ejek Meysa sambil tertawa bahagia.
Dia tidak menyadari jika dari arah depan ada sebuah mobil besar yang melaju kencang dan berlawanan arah dengannya.
*
*
Tbc
__ADS_1