Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #103


__ADS_3

Elsa menceritakan semua pada Kiara, tentang Mama Jimmy yang terlihat tidak menyukainya. Kiara hanya kasihan pada Elsa, tentu saja di tahu rasanya bagaimana tidak disukai oleh ibu mertua. Ya, Kiara sudah terlebih dahulu merasakan hal tersebut sewaktu menikah dengan Raymond.


"El, kau harus sabar dan yakinkan hatimu jika kau bisa meluluhkan mertuamu nanti." Kiara mengelus lengan Elsa, gadis itu hanya tertunduk lesu dan juga pikirannya sedang bingung.


"Aku sangat mencintai Jimmy, Kia. Aku tidak tahu sampai kapan kami bisa bertahan, Mamanya selalu saja mencari cela untuk memisahkan kami. Segala hal dia lakukan demi itu, aku takut kehilangan, Jimmy. Kia, aku sulit membuka hati setelah ditinggal menikah, dan baru Jimmy lah yang berhasil meluluhkan hatiku ini." ucap Elsa jujur.


"El, semuanya harus dijalani. Kau wanita yang kuat, aku yakin kau bisa melewati itu. Percayalah pada hatimu, jangan ragu dan jangan takutkan apa pun selagi Jimmy ada bersamamu."


Elsa mengangguk, dia menarik napas dan membuangnya perlahan. "Terima kasih karena sudah bersedia mendengarkan curhatanku, Kiara."


"Tidak perlu sungkan, jika ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu, kau bisa menceritakannya padaku."


Elsa pun mengangguk.


Tak lama kemudian, Jimmy masuk ke dalam ruangan hampir bersamaan dengan Raymond. Kedua pria dewasa tersebut hanya saling melirik. Jimmy tahu jika Ray tidak menyukainya, tetapi dia sama sekali tak peduli akan hal itu.


Rayyan yang baru masuk ke ruangan bersama dengan Raymond tersenyum bahagia ketika melihat Jimmy.


"Papa!" teriak Ray seraya menghambur masuk ke dalam pelukan Jimmy.


"Halo, Sayang. Jagoannya Papa, bagaimana kabarmu hari, hm?" Jimmy bertanya sambil menggendong Ray.


"Hariku sangat menyenangkan, Pa. Apalagi sekarang Ray sudah punya adik."


"Anak pintar. Ray sekarang adalah kakak dan Ray harus selalu menyayangi adik Ray."


Rayyan mengangguk, keduanya sudah seperti ayah dan anak kandung. Bagaimana tidak, dulu sewaktu Ray bayi, Jimmy pun ikut tangan mengurus bocah kecil itu yang kini semakin tampan dan bijak.


"Apa anak papa ini sudah makan?"


Ray mengangguk, sementara semua mata tertuju ke arah mereka yang terlihat sangat akrab itu. Ada sedikit rasa cemburu di hati Raymond tetapi dia mencoba untuk membuangnya jauh jauh.

__ADS_1


Rayyan turun dari gendongan Jimmy, dia berlari mendekati Kiara dan duduk sebelah Kiara.


"Ma, kapan Mama dan adik pulang ke rumah?''


"Secepatnya, Sayang. Mama harus menunggu jawaban dari Dokter dulu."


"Oh, ya. Apa kalian sudah mencari nama untuk putri kalian?"


"Sudah!" sahut Raymond secepat kilat.


"Apa kami boleh tau siapa namanya?"


"Revanza William. Kalian bisa memanggilnya Reva."


"Wah, nama yang sangat indah."


"Tentu saja." jawab Ray singkat.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah selesai mengobrol, lalu Jimmy dan Elsa berpamitan untuk pulang.


"Apa tidak masalah?"


"Tidak, By."


Jimmy pun menuruti kemauan Elsa, dia tidak ingin banyak tanya karena bisa saja akan mengubah mood gadis juteknya itu.


Sesampainya di taman, mereka berdua duduk di bangku panjang. Jimmy membelikan Elsa ice cream dan cemilan ringan. Namun, baru saja sebentar berada disana, ponsel Jimmy berdering dan dia langsung menjawab panggilan tersebut.


"Baiklah, saya akan segera ke kantor. Perintahkan pada klien itu untuk menunggu saya sebentar."


"Ada apa, By?" Elsa bertanya setelah Jimmy sudah selesai bicara.

__ADS_1


"Ay, maaf aku tidak bisa menemanimu. Barusan sekertarisku menelepon, ada pertemuan dengan klien dari Singapura dan saat ini klien itu sudah berada di kantorku. Aku lupa bertanya tentang jadwal hari ini."


"Lalu, kamu ingin kembali ke kantor sekarang juga?"


"Maafkan aku, Ay. Kamu tidak keberatan bukan? Weekend aku pasti akan menemanimu, full satu hari hanya untukmu. Ayo, aku akan mengantarkanmu kembali ke kantor."


"Tidak, By. Aku masih ingin berada disini. Jika kamu ada tugas, kembalilah ke kantor. Aku tidak pa-pa."


Jimmy seakan berat untuk meninggalkan Elsa sendirian, tetapi dia juga tidak bisa membatalkan pertemuan karena sangat penting mengenai kerjasama antara perusahaan.


"By, kenapa diam saja?"


"Baiklah, aku akan pergi." Jimmy mengambil ponsel dan dia memesan sesuatu. "Ay, aku sudah pesankan taksi online untukmu."


"Terima kasih." jawab Elsa sambil tersenyum, sungguh Jimmy sangat bertanggungjawab.


"Aku pergi dulu." Jimmy mengelus pucuk kepala Elsa lalu dia mengecupnya pelan.


"Hati-hati, By."


Keduanya saling melambaikan tangan dan Jimmy pun mulai menjauh dari padangan Elsa. Setelah Jimmy pergi, Elsa tetap berdiam diri di bangku panjang itu. Matanya menatap lurus ke depan dan pikirannya menerawang jauh.


'Aku sangat mencintai Jimmy, aku tidak ingin kehilangan dia. Tetapi, bagaimana aku bisa menghadapi orang tuanya yang tidak menyukaiku? Terlebih itu Mamanya, seorang wanita yang sudah melahirkan dan merawat Jimmy. Jika nanti Mamanya terus mendesak agar Jimmy meninggalkanku, apa yang bisa aku lakukan?' Elsa berbicara dalam hati.


Saat Elsa sibuk memikirkan tentang perjalanan cintanya, tiba-tiba dia dikagetkan dengan kedatangan seseorang.


"Elsa?" ucap orang itu sambil menepuk pundak Elsa hingga membuat sang empunya terjingkat kaget.


Elsa menoleh, dia tercengang melihat siapa yang berdiri di samping bangkunya.


"K—kau?" ucap Elsa terbata.

__ADS_1


{**Bersambung**}



__ADS_2