
Dua hari kemudian, keadaan Reva sudah membaik. Arron mengajak gadisnya itu untuk pergi menonton bioskop. Tentu saja Reva setuju dan dia tidak keberatan jika Arron mengajak Sahara. Ya, pria itu beralasan kasihan pada Sahara, dan Reva pun memahaminya.
Saat ini ketiganya sudah berada di Mall, mereka berjalan menuju gedung bioskop. Arron berjalan di tengah dan diapit oleh kedua gadis cantik yang sama-sama menyukainya. Di satu sisi tangan Arron menggenggam jemari Reva, sementara disisi lain tangannya digunakan untuk merangkul menggenggam jemari Sahara. Reva sama sekali tidak melihat itu karena dia fokus pada jalannya.
Setelah sampai di gedung bioskop, mereka membeli tiket dan mulai masuk. Ketiganya duduk di kursi, film mulai diputar dan mereka terlihat serius menonton. Kali ini film bergenre horor, membuat Sahara sedikit takut karena pasalnya dia tidak terlalu suka hal yang berbau horor.
"Tuan, apa kita tidak bisa keluar sebelum filmnya habis?" Sahara bertanya karena takut.
"Memangnya kenapa, Ra? Kamu takut? Ada aku disini, dan juga ada Reva." Arron melirik Reva yang sedang asyik menonton. Gadis itu tidak terlalu mendengarkan pembicaraan antara kekasihnya dan temannya.
Ruangan yang temperam membuat Reva tidak tahu jika Arron merangkul pundak Sahara. Namun, ketika tepat Action menyeramkan, Sahara spontan memeluk tubuh Arron hingga membuat Reva terkejut.
Sahara tidak sadar, dia tetap memeluk tubuh itu dengan erat. Jujur saja dirinya benar-benar takut. Jika tidak karena iri Arron mengajak Reva ke bioskop, mungkin dia sudah menolak ajakan Arron.
"Sa?" panggil Reva pelan tetapi masih bisa didengar oleh Sahara.
Sahara yang sadar langsung melepaskan pelukannya. "Em, ma—maaf, Nona. Saya tidak sengaja, saya benar-benar takut."
Reva hanya menggeleng. "Lain kali jangan seperti itu."
Sahara mengangguk paham, tetapi dalam hati dia sangat kesal dengan ucapan Reva barusan.
Setelah beberapa jam berada di dalam bioskop, mereka pun akhirnya keluar karena film sudah selesai. Arron kembali mengajak kedua gadis itu untuk berkeliling.
__ADS_1
"Sayang, aku ingin membeli parfum." ucap Reva menunjuk ke toko khusus parfum.
"Pergilah, aku ingin mencari barang lain."
Reva mengangguk, matanya beralih menatap Sahara yang sedari tadi hanya diam. "Sa, kau tidak ingin ikut denganku?''
"Tidak, Nona."
"Kenapa? Kau tidak punya uang? Ambillah apa yang kau inginkan, aku akan membayarnya nanti." ucap Reva berbaik hati karena dia sudah menganggap Sahara sebagai saudaranya.
"Terima kasih, Nona."
Reva pergi menuju ke toko parfum, sementara Arron dan Sahara berjalan ke tempat yang berbeda.
Reva yang sudah selesai membeli parfum langsung mencari kekasihnya, dia melihat ke sekeliling dan mendapati Arron ada di toko perhiasan. Reva tersenyum, dia berpikir jika Arron membelikannya hadiah perhiasan. Dari jauh, Reva dapat melihat Arron yang sedang memegang sebuah cincin lalu memberikannya pada sang pegawai toko dan membayar.
Setelah semuanya selesai, mereka memutuskan untuk pulang. Di dalam perjalanan, Reva melirik Arron dan tersenyum manis.
''Sayang, kamu kenapa? Ada yang aneh dengan wajahku?''
Reva menggeleng. "Kamu tetap tampan seperti biasanya." ucap Reva menggoda Arron hingga membuat pria itu tersenyum lebar. Arron menarik hidung bangir milik Reva.
'Ck, terus saja mesra-mesraan seperti itu. Suatu saat nanti, Tuan Arron akan tetap menjadi milikku karena dia sudah merusak masa depanku.' batin Sahara lalu dia memilih untuk melihat keluar jendela.
__ADS_1
"Sayang, aku tadi membelikan parfum untukmu." Reva menyemprotkan parfum itu di kemeja milik Arron.
"Wanginya segar."
"Aku tahu seleramu."
Keduanya pun saling melempar senyum.
Tak terasa mereka sudah sampai, Arron mengantarkan Sahara pulang terlebih dahulu lalu dia bergantian mengantar Reva.
Sesudah sampai di depan pagar rumah Reva, Arron membuka sabuk pengamannya. Dia memeluk tubuh Reva dan mengacak rambut gadis itu secara pelan.
"Terima kasih untuk malam ini, Sayang. Kamu sudah bersedia menemani aku nonton."
Reva hanya menanggapinya dengan senyuman. Dia tidak langsung turun karena berharap hadiah perhiasan yang di beli Arron tadi diberikan padanya sekarang juga.
"Sayang, kamu masih ingin tetap disini bersamaku?" Arron bertanya dan membuat lamunan Reva buyar.
"Aku lupa," Reva turun dari mobil setelah Arron membukakannya.
Gadis itu melambaikan tangan ketika Arron mulai melajukan kendaraan beroda empat tersebut. Dia menatap mobil yang sudah menjauh, dalam hati, Reva heran kenapa Arron tidak memberikan hadiah perhiasan itu. Reva membuang pikiran negatif dan curiganya, dia memutuskan untuk masuk ke dalam lalu setelah itu beristirahat.
{**Bersambung**}
__ADS_1