
Need telah sampai di kediaman William.
"Tante!" teriak Need saat ia masuk ke dalam rumah mewah nan megah itu.
"Need ,mengapa kau berteriak seperti itu?" Bimo berjalan menghampiri Need diikuti oleh Rara dan Amel.
"Aku membawa kabar bahagia, Om."
"Benarkah? Katakan, apa kau sudah menemukan Raymond?" Rara seakan mengerti kabar gembira yang akan Need katakan.
"Tebakan Tante sangat benar sekali," Need tersenyum bahagia.
Seluruh keluarga berbinar ketika Need mengatakan benar.
"Lalu dimana Ray? Bagaimana kabarnya Need?" Rara menggoyangkan tangan Need dengan mata yang memancarkan kebahagiaan.
Senyum yang terpatri dibibir Need luntur, ia berjalan ke arah sofa dan mendudukkan b*k*ng di sofa tersebut. Saat melihat Need yang tidak lagi tersenyum, seketika raut wajah Rara juga ikut berubah.
"Ada apa Need? Apa terjadi sesuatu dengan kakak mu?" Rara mengikuti langkah Need yang berjalan ke sofa.
"Aku bertemu dengan kak Ray di desa, keadaannya baik-baik saja. Tetapi ada satu hal yang membuat ku sedih," Need menundukkan kepala.
"Ada apa Need? Katakan." Rara duduk di sebelah Need.
"Kaka Ray amnesia, dia sama sekali tidak mengingat diriku ataupun dirinya sendiri."
Rara ternganga. "Bagaimana ini, Pa?" Rara menatap sang suami.
"Need, apa kau yakin bahwa pria itu adalah Raymond?" Bimo bertanya dengan serius.
"Aku yakin, Om. Aku benar-benar sangat yakin bahwa dia adalah kak Ray, warga sekitar mengatakan bahwa mereka menemukan kak Ray ditepi sungai dan dalam keadaan amnesia."
"Baiklah, jika benar begitu besok kau harus membawa kami bertemu dengan pria yang kau yakini bahwa dia itu adalah Raymond."
Need mengangguk.
"Pa, mengapa tidak sekarang saja kita menemuinya? Mama sangat merindukan Ray, Pa.." air mata menetes di pipi Rara.
"Ma, hari sudah menjelang sore dan sebaiknya besok saja kita menemui pria itu." bujuk Papa berbicara lembut.
__ADS_1
"Om benar, Tante. Lagipula sekarang istri kak Ray sedang berduka karena nenek nya baru saja meninggal dunia."
Mata Rara membola lebar. "I—istri? Maksud kamu istri apa, Need?" ucap Rara terkejut.
Need menceritakan semuanya yang dia dengar dari warga sekitar tentang Kiara yang ditinggal menikah oleh calon suaminya hingga Raymond yang menggantikan pria itu untuk menikah dengan Kiara.
Rara hanya menggeleng sembari membekap mulutnya sendiri karena syok. 'Tidak mungkin, jika benar pria itu adalah Raymond maka aku tidak akan membiarkan Ray hidup bersama dengan gadis miskin itu. Aku hanya ingin Meysa lah yang menjadi menantu ku' batin Rara kesal.
"Baiklah, besok pagi kau harus datang kesini dan bawa kami menemui pria itu." Bimo mengingatkan Need kembali.
''Baik, Om. Kalau begitu aku permisi," Need langsung beranjak dari sofa dan melangkah pergi.
•
•
•
Ray terbangun karena telinganya samar-samar mendengar suara orang mengaji.
"Ssh.." Ray memegangi kepalanya yang masih sedikit nyut-nyutan.
Matanya terbuka sempurna dan meskipun saat ini kunang-kunang terus hinggap di mata Ray tetapi ia tetap berusaha bangun.
Perlahan Ray bangkit dari ranjang dan segera membersihkan diri.
'Dia itu Raymond, seorang pengusaha.' perkataan itulah yang selalu Ray ingat saat ia bicara dengan Need tadi.
"Apa maksud pria itu? Aku seorang pengusaha? Tapi memang aku seperti mengingat sesuatu, hanya saja sesuatu itu sulit untuk ku pahami. Rasanya bayangan tidak jelas dan hanya suara ledakan saja," Ray memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
Tok! Tok!
"Mas! Apa kamu ada di dalam?" Kiara berteriak sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Ya! Sebentar lagi aku keluar!!!" sahut Ray dari dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian.
Pintu kamar mandi terbuka dan Ray keluar hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya saja.
__ADS_1
Kiara yang berada di tepi ranjang langsung memalingkan wajah ketika melihat Ray yang keluar hanya dengan handuk di pinggang.
"Maaf karena aku pasti membuatmu khawatir." ucap Ray berhenti tepat di samping Kia.
"Sebaiknya kamu pakai dulu bajumu, Mas. Setelah itu baru kita berbicara," ucap Kia tanpa menoleh.
Ray menuruti ucapan Kia dan langsung menuju lemari.
Setelah selesai berpakaian, Ray langsung naik ke atas ranjang.
"Apa pengajiannya sudah selesai?"
Kia mengangguk dan menatap Ray. "Apa yang terjadi denganmu, Mas?"
"Entahlah, saat Tuan Need mengatakan bahwa aku adalah seorang pengusaha dan dia memaksaku agar aku mengingat siapa diriku, kepala ku tiba-tiba menjadi pusing." ucap Ray jujur sembari menyandarkan kepala di bantal.
"Tapi kamu baik-baik aja 'kan, Mas?"
Ray mengangguk dan tersenyum tipis. "Kia,"
Kia menatap bola mata kecokelatan milik Raymond.
"Aku tidak akan menyentuh mu sebelum aku mengingat siapa diriku sebenarnya. Aku ingin kita menikah secara sah dimata agama dan negara jika ingatan ku sudah pulih. Kamu tidak keberatan bukan?"
Kia tersenyum manis dan menggeleng. "Aku percaya bahwa kamu itu adalah pria yang baik, Mas. Berjanjilah padaku, jika kamu mengingat siapa dirimu sebenarnya jangan pernah melupakan aku."
Ray mengangguk dan mengacungkan jari kelingking. "Aku berjanji."
Kiara menerima acungan itu dengan jari kelingkingnya.
Mereka berdua hanya saling melempar senyum dengan jari kelingking yang saling bertautan.
•
•
**TBC
HAPPY READING
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMA KASIH BANYAK 🙏🏻**