
Siang hari pun tiba, Yola tidak pulang ke rumah terlebih dahulu karena Kiara mengajaknya pergi ke Mall. Dia ingin membelikan barang barang untuk calon menantunya. Tak lupa, Kiara juga berniat membelikan sesuatu untuk Ibu Yola.
Ray pun ikut menemani Mamanya, disana dia berjalan beriringan dengan Yola. Mereka berhenti tepat di sebuah toko pakaian, Kiara masuk terlebih dahulu dan diikuti oleh Yola.
"Nak, kamu pilih saja mana yang kamu mau. Ray akan membayarnya, benar 'kan, Ray?"
Ray hanya mengangguk, meskipun Yola ingin membeli semua yang ada di Mall itu, Ray masih sanggup membayarnya.
Yola bingung memilih pakaian mana yang harus dia beli, dirinya ingin meminta pendapat dari Ray tetapi merasa tidak enak. Yola mengingat sesuatu, dia memanggil Ray dan pria itu datang menghampiri.
"Tuan, tadi sewaktu arisan, gadis yang ingin dijodohkan denganmu datang bersama Mamanya."
"Lalu?"
"Dia mengetahui semuanya, dia mengenal saya, dirinya berkata jika pernah bertemu dengan saya dan saya itu adalah seorang OG, bukan koki."
"Kalau begitu kita harus bermain cantik, tunggu gadis itu pulang ke negaranya barulah kita sudahi sandiwara ini."
Yola mengangguk, tetapi entah mengapa ada perasaan tak rela dalam hatinya ketika Ray berkata mengakhiri hubungan.
"Tuan, saya bingung harus membeli apa."
"Ambil saja yang kau mau, saya akan membayarnya." Ray melihat ke sekeliling, dia mengambil sebuah gaun berwarna biru yang sangat indah. Dirinya memberikan pada Yola.
"Saya rasa ini sangat cocok untukmu, kau carilah heels, sepatu, atau pakaian lainnya. Saya ingin kesana dulu," Ray menunjuk ke suatu tempat dan Yola pun mengangguk.
Setelah Ray pergi, Yola berkeliling guna mencari pakaian, tetapi sama sekali tidak ada yang sesuai seleranya.
"Ini semua pakaian untuk orang kaya, sementara aku hanya orang sederhana. Sangat kurang cocok jika memakai pakaian mahal seperti ini, pasti para tetangga akan berpikiran jelek." ucap Yola merendah.
Dari kejauhan, Kiara berjalan mendekati Yola. Dia melihat barang barang yang Yola beli, dirinya heran karena Yola hanya memegang sebuah gaun berwarna biru dan juga heels berwarna hitam.
"Nak, apa kamu hanya ingin membeli ini? Masih banyak gaun yang bagus dan kamu hanya mengambilnya satu saja?" Kiara menggeleng. "Ray!" teriaknya memanggil Rayyan.
__ADS_1
"Tante, ini bukan—" ucapan Yola terpotong oleh ocehan Kiara.
"Ray kenapa menantu Mama hanya memilih satu gaun saja? Kamu melarangnya? Kamu tidak bisa membayar jika Yola mengambil banyak barang?"
Ray tidak mengerti apa yang Mamanya ucapkan, dia melihat hasil belanja dari Yola dan ternyata masih sama seperti yang dia berikan tadi.
"Yola, kenapa kamu tidak mengambil barang lain? Bukankah sudah ku katakan ambil saja apa yang kamu inginkan."
"Aku, aku bingung."
Rayyan berjalan dan mengambil begitu banyak pakaian, dia tidak peduli akan menghabiskan ratusan juta untuk barang itu.
"M—mas, ini sangat banyak sekali."
"Diamlah, aku yang membayarnya."
Yola hanya mampu diam saja, dia pasrah dengan pemberian dari Ray. Setelah selesai membayar, mereka kembali ke mobil. Disana Kiara mengatakan pada Ray agar segera mengantar Yola pulang karena hari sudah sore. Sementara Kiara, dia pulang dengan dijemput supir pribadi.
"Tuan, maaf saya bukannya menolak pemberian dari Anda. Tapi, saya takut jika para tetangga merasa heran karena saya bisa membeli barang-barang mewah dan banyak."
"Kenapa kau harus memikirkan perkataan orang lain? Terima saja, jika kau tidak menerimanya, maka aku akan langsung menikahimu."
Yola menelan ludah. ''Saya menerimanya, Tuan."
Ray tersenyum dalam hati melihat reaksi mengemaskan Yola.
Tak terasa mereka sudah sampai dirumah Kiara, hari masih cerah dan Ray berniat untuk berkenalan dengan orang tua Yola.
"Tuan, terima kasih karena Anda sudah mengantarkan saya pulang."
"Kau tidak berniat menawari saya mampir?"
Yola terlihat bingung, dia menatap ke sekeliling.
__ADS_1
"Yola, sudah saya katakan jangan menggubris ucapan orang lain. Kenapa kau membuat hidupmu pusing sendiri?"
"Baiklah, ayo mampir."
Ray turun dari mobilnya, beberapa warga melihat ke arah rumah Yola karena ada sebuah mobil mewah yang terparkir disana.
Yola membuka pintu, dia mengucapkan salam dan masuk ke dalam rumah bersama dengan Rayyan. Sesampainya di dalam, Ray duduk di sebuah sofa kuno. Dia melihat ke sekeliling rumah sederhana itu.
Yola keluar dari dapur dengan membawa segelas teh hangat dan sepiring roti. Dia memanggil ibunya yang berada di dalam kamar. Tak lama kemudian, sang Ibu keluar menemui Rayyan. Dia tersenyum ramah ketika melihat pria maskulin yang duduk di sofa.
"Selamat sore, Bu." ucap Ray sopan.
"Selamat sore, Nak. Kamu temannya Yola?"
Ray mengangguk.
"Dia Bos Yola di kantor, Bu." sahut Yola yang baru saja keluar dari kamar.
Ray merasa tidak enak, jika seperti ini dia pasti akan di perlakukan spesial.
"Di kantor saya memang atasan Yola, Bu. Tetapi di luar jam kantor, saya adalah temannya."
"Kamu sangat sopan, Nak. Meskipun kamu orang kaya, kamu mau berkunjung ke rumah sederhana seperti ini."
"Rumah ini terlihat sangat nyaman, Bu."
"Siapa namamu? Dan ada keperluan apa datang ke rumah ibu?"
"Nama saya Rayyan, Bu. Saya hanya ingin berkunjung dan berkenalan dengan Ibu."
Yola hanya menatap Ray yang ternyata adalah sosok pria hangat dan sopan. Sangat berbeda seperti di kantor. Yola heran kenapa Ray sangat betah mengobrol dengan Ibunya, bahkan pria itu sampai lupa waktu.
{**Bersambung**}
__ADS_1