Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #88


__ADS_3

Jimmy meletakkan jari telunjuknya di bibir dan dia meminta kepada Elsa agar diam sebentar. Tentu saja wanita itu menuruti perkataan Jimmy, dia hanya melahap ice cream nya tanpa peduli dengan Jimmy yang terus menatapnya.


[Jimmy, apa dia adalah kekasihmu? Katakan pada Mami, jujur!] gertak Mami Jimmy.


"Mam, nanti aku akan menghubungi Mami lagi."


[Tidak bisa, Jimmy! Kau harus mengatakan pada Mami siapa gadis itu? Mami ingin kau pulang karena keluarga kita akan bertemu dengan keluarga Tuan Anderson.]


Jimmy menghela napas, dia sangat tahu apa tujuan orangtuanya melakukan pertemuan itu.


"Mam, aku sudah dewasa dan aku tahu mana yang terbaik untukku."


[Tapi kami sudah sepakat untuk bertemu dan membicarakan masalah perjodohanmu dengan Alena.]


"Aku akan hubungi Mami lagi nanti." Jimmy langsung memutuskan panggilan, dia tidak peduli jika maminya marah besar. Dirinya tak lupa menonaktifkan data agar tidak di hubungi kembali.


Elsa merasa ada yang aneh dengan Jimmy setelah panggilan disudahi.


"Tuan, ada apa?" Elsa bertanya dengan nada pelan.


Jimmy meletakkan ponselnya di meja, dia memejamkan mata sesaat lalu menggeleng dan tersenyum tipis. Namun, Elsa dapat mengetahui jika senyum Jimmy sangat dipaksakan.

__ADS_1


"Tuan, jika Anda ada masalah Anda bisa menceritakannya pada saya." Elsa pun sedikit luluh karena kebaikan Jimmy.


"Orang tuaku ingin menjodohkan aku dengan anak dari Sahabat mereka."


"Lalu?"


"Ya aku menolak, aku tidak suka hal seperti itu. Aku sudah dewasa, aku tidak butuh dijodohkan."


"Tuan, mungkin karena Anda sudah dewasa maka dari itu orang tua Anda ingin segera Anda menikah. Pahamilah juga mereka, Tuan."


"Tapi tidak dengan dijodohkan. Aku bisa memilih pasangan untuk hidupku sendiri." tukas Jimmy kesal.


"Ya sudah lupakan saja, lebih baik sekarang Anda makan dulu ice cream nya sebelum berubah mencair." Elsa menyodorkan ice cream yang sudah dia buka dan memberikan pada Jimmy.


Disela-sela rasa canggung, terlintas dibenak Jimmy suatu rencana untuk menggagalkan perjodohannya dengan Alena.


"El, apa aku boleh minta tolong?"


"Hm? Katakan, Tuan." Elsa mengusap sudut bibirnya yang terkena noda ice cream.


"Apa kau mau menjadi kekasihku? Maksudku, berpura-pura menjadi untuk kekasihku."

__ADS_1


"Hah? Anda tidak salah bicara, Tuan?" Elsa terlihat kaget membuat Jimmy merutuki kebodohannya. Pria itu yakin jika setelah ini Elsa pasti akan pergi meninggalkannya dan menjauhi dirinya


"Maafkan aku, Elsa. Permintaanku sangatlah keterlaluan. Aku hanya ingin menghindari perjodohan ini, jika mereka tau kalau aku sudah memiliki kekasih, aku yakin mereka akan membatalkan perjodohannya."


Elsa terdiam sejenak, Jimmy sudah menolongnya dari malapetaka yang mungkin saja akan menghancurkan masa depannya seumur hidup. Dan saat ini, sepertinya dia yang harus bergantian menolong pria itu.


"Baiklah, saya akan membantu Anda."


Jimmy terlihat berbinar. "Benarkah? Kau tidak berbohong?"


Elsa mengangguk, dia sudah yakin akan keputusannya ini.


"Syukurlah, Elsa. Kalau begitu, setelah aku keluar dari rumah sakit, kita akan pergi ke rumah orang tuaku. Bagaimana, apa kau siap?"


"Tentu."


Jimmy tersenyum lega, entah mengapa hatinya begitu bahagia padahal Elsa hanyalah berpura-pura menjadi kekasihnya.


'Aku berharap bukan hanya pura-pura saja, Elsa. Aku harap kau bisa menjadi kekasih nyataku, kalau bisa menjadi istriku sekalian. Aneh bukan? Baru beberapa kali bertemu dengannya, aku sudah terpana dengan sikapnya. Dia berbeda dari gadis lain, meskipun sulit untuk melupakan Kiara, tetapi aku harus berusaha move on.' batin Jimmy berdialog.


{Bersambung}

__ADS_1


Visual Elsa



__ADS_2