Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #109


__ADS_3

Jimmy masih sibuk mencari keberadaan Elsa, dia sangat bingung harus bagaimana lagi saat ini. Semua orang dia hubungi untuk membantu mencari Elsa, berapapun uang yang dia keluarkan tidak menjadi masalah asal Elsa bisa cepat ditemukan.


"El, kamu dimana?"


Tak lama kemudian, seseorang menghubungi Jimmy. Dari jejak hasil cctv jalanan, mobil itu pergi menuju ke sebuah hotel. Jimmy bergerak cepat ke alamat tersebut, pikirannya sudah kacau setelah mendengar kata hotel.


Setelah sampai di tempat tujuan, Jimmy segera berjalan memasuki hotel itu bersama dengan beberapa anggotanya.


"Apa benar ini hotelnya?''


"Sesuai dengan hasil pencarian, Tuan."


Jimmy meminta pada sang manager hotel agar memeriksa kamar satu persatu karena disana ada calon istrinya. Tanpa berpikir panjang, manager itu pun mempersilakan dengan segala hormat karena mereka mengetahui siapa Jimmy Choo.


Satu persatu pintu mulai dibuka dan kamar pun diperiksa, hingga pada saat pintu nomor 21 yang terletak paling ujung membuat Jimmy terkejut bukan kepalang.


Bagaimana tidak, terlihat seorang pria bertelanjang dada dan ternyata di dalam sana ada Elsa yang ternyata terbaring di atas ranjang. Gadis nya itu memakai pakaian yang sangat seksi hingga memperlihatkan kulit putih mulusnya.


"ELSA!" teriak Jimmy dengan mata merah.


Axton tidak bisa berkutik, dia terdiam di sudut pintu. Dirinya sama sekali tidak mengira jika Jimmy bisa mengetahui semua ini dengan begitu cepat.


Jimmy menghampiri Elsa yang masih saja merancu. Setelah berada di dekat Elsa, Jimmy mencium bau alkohol dari mulut gadis itu.


"El, apa yang kau lakukan?" Jimmy memegang bahu Elsa dan menggoyangkannya kuat. "Elsa apa-apaan ini?" teriaknya berulangkali.


Elsa tersenyum menatap wajah tampan Jimmy, dia mengelus rahang yang kokoh itu.


"Aku sangat mencintaimu, By. Aku hanya milikmu, dan semuanya milikmu." rancunya membuat Jimmy menggeleng, matanya beralih menatap ke arah pria yang terdiam di sudut pintu.

__ADS_1


Jimmy beranjak dari ranjang, dia menutupi tubuh Elsa menggunakan selimut lalu berjalan menghampiri Axton. Setelah berhadapan dengan Axton, Jimmy menatapnya dengan tajam.


"Oh, jadi kau orangnya?"


Axton membalas dengan cara menatap Jimmy tajam tanpa rasa takut.


"Memangnya kenapa, Tuan? Dia juga mau, lalu apa yang bisa saya lakukan?"


"Cih!" Jimmy meludah. "Kau yakin calon istriku semurah itu? Apa kau perlu bukti untuk masalah penculikan ini?"


Axton menelan ludah. "Apa yang Anda katakan, Tuan? Saya tidak paham. Elsa sendiri yang datang ke saya dan dia membutuhkan seseorang untuk menemaninya."


''Kau memang lebih dulu mengenal Elsa, bahkan kau juga yang lebih lama bersama dengannya. Tapi, hanya saya yang bisa memahami sifat dan kelakuannya.''


Axton kehabisan kata kata.


"Begini saja, Tuan. Kau ingin mengakui kesalahanmu atau saya terpaksa harus mengerahkan para anggota saya agar memaksamu bicara jujur."


"Kau ingin menjebak calon istriku, ya? Dimana tadi kau menciumnya? Leher? Baiklah, kau akan mendapatkan imbalan."


Jimmy meminta pada salah satu anggota agar memelintir leher Axton. Sang anggota menurut, dia memelintir leher Axton hingga berbunyi.


Axton sendiri hanya mampu menahan rasa sakit tanpa ekspresi yang sesungguhnya.


"Setelah itu, kau juga menyentuhnya?" Jimmy kembali memberikan kode dan dua orang anggota memelintir tangan Axton ke belakang hingga pria itu berteriak histeris.


"Bagaimana? Masih kurang? Baiklah," Jimmy meminta pada pasukannya agar memukuli Axton hingga pria itu babak belur.


Setelah selesai, Jimmy tersenyum jahat dan dia meminta kepada semua anggota untuk keluar dari kamar sambil membawa Axton pergi ke kantor polisi.

__ADS_1


''Sayang?" Jimmy mengelus pucuk kepala Elsa. Dia mengecup dahi gadisnya itu.


''Aku sangat takut hal seperti ini akan terjadi lagi. Tidak perlu menunggu dua Minggu untuk acara pernikahan kita, aku akan mempercepat waktunya." gumam Jimmy bertekad.


****


Di kantor polisi, Axton tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berkata jujur. Dia mengatakan pada pihak berwajib jika dirinya hanya dijadikan kambing hitam oleh temannya. Dia membawa nama Alena dan para polisi siap menangkap wanita itu.


Alena yang kala itu masih berada di hotel lain langsung terkejut ketika dirinya mendapati beberapa anggota kepolisian yang berdiri di depan pintu hotelnya.


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Alena bertanya dengan penuh kewaspadaan.


"Apa benar Anda yang bernama Nona Alena?"


Alena mengangguk terbata. ''Ya, saya Alena.''


"Begini, kami dari pihak kepolisian membawa surat penangkapan atas nama Alena.''


"Apa! Memangnya salah saya apa?"


"Nanti Anda bisa ketahui setelah berada di kantor polisi."


"Eh, tunggu! Saya tidak bersalah, jangan tangkap saya!'' Alena berteriak kencang saat polisi itu mulai menyeretnya keluar dari hotel.


"Ikut saja, Nona. Anda bisa menjelaskannya nanti setelah sampai di kantor."


"Tapi saya tidak salah, saya tidak tahu apa apaan ini!" Teriak Alena tetapi percuma, kejahatan tetap ada hukumannya.


{**Bersambung**}

__ADS_1



__ADS_2