Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #120


__ADS_3

Arron sudah berada di cafe yang dia booking tadi siang, dirinya sedari tadi menghubungi Reva tetapi tidak bisa. Gadisnya itu sama sekali tidak menjawab panggilan telepon darinya.


"Kenapa Reva belum juga bisa dihubungi?" Arron tetap mencoba tanpa putus asa.


Pikiran yang gelisah membuat dia bertekad untuk pergi ke rumah Reva. Dirinya keluar dari cafe itu dengan membawa semua hadiah yang sudah dia siapkan untuk Reva seorang.


Selama perjalanan menuju rumah Reva, Arron menepis pikiran buruknya dan dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Hingga tak terasa, sampailah Arron dikediaman William. Pria tersebut bergegas turun dari mobilnya.


Arron melangkah lebar, dia langsung memencet bel setelah sampai di depan pintu. Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu itu dan Arron mengerutkan dahi.


"Sahara, apa Reva ada dirumah? Dia baik-baik saja 'kan? Mengapa dia tidak menjawab panggilan telepon dariku?"


Sahara seperti kebingungan.


"Kenapa kau hanya diam saja, Sa? Katakan dimana Reva!" tekan Arron sedikit kesal.


"Nona sedang pergi ke luar kota, Tuan." Sahara mulai menceritakan kedatangan keluarga Albert tadi pagi.


"Jadi, dia pergi tanpa mengabariku?"

__ADS_1


Sahara hanya tertunduk, dia tidak tahu apa pun maka dari itu dirinya lebih memilih diam saja.


Arron sedikit kecewa, dia memukul udara dan wajahnya merah padam seperti sedang memendam emosi. Pria itu pergi dari rumah Reva tanpa berpamitan pada Sahara.


"Tuan! Tuan Arron!" teriak Sahara memanggil tetapi tidak dihiraukan oleh Arron.


Sahara tiba-tiba khawatir akan keadaan Arron, dia juga kasihan melihat Pria itu yang sepertinya kecewa terhadap Reva. Sahara nekad menyusul Arron, dia mengikuti mobil pria itu dengan menggunakan ojek yang ada di pangkalan gang.


"Pak, ikuti mobil di depan itu, ya? Jangan sampai kehilangan jejak." pinta Sahara pada ojek.


Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di sebuah klub malam. Sahara bingung kenapa tujuan Arron datang ke tempat ini. Setelah membayar ojek, Sahara memutuskan untuk masuk ke dalam. Dia harus bersembunyi agar tidak ketahuan oleh Arron.


"Tuan Arron melampiaskannya ke minuman keras? Kasihan sekali dia, sedalam itu cintanya untuk Nona Reva? Beruntung sekali Nona, dicintai seperti ini oleh seorang pria. Tapi aku rasa Nona juga salah, dia pergi tanpa mengabari Tuan terlebih dahulu." gumam Sahara berbicara sendiri.


Waktu terus berjalan hingga menunjukkan pukul dua belas malam, beberapa pengunjung sudah pulang dan klub pun terlihat sedikit sepi. Sahara berdiri dari sofa, jujur dia sangat lelah karena duduk terlalu lama.


Sahara melihat Arron yang tertatih keluar dari klub, dia mengikuti pria itu karena rasa khawatir. Saat Arron sudah berada di parkiran, dia memuntahkan seluruh isi perutnya. Dia sangat banyak sekali minum hingga mabuk seperti ini.


Sahara berlari kecil menghampiri Arron, dia memegang pundak Arron dan memijat tengkuk pria itu dengan sedikit tenaga. Arron terus saja memuntahkan isi perutnya hingga dia jatuh ke dalam pelukan Sahara.

__ADS_1


"Tuan, Tuan Arron?" Sahara menepuk pipi Arron dengan perlahan.


Gadis itu berinsiatif untuk membawa Arron pulang ke rumahnya, tetapi dia tidak mengetahui alamat lengkap pria itu.


"Sebaiknya aku membawa dia masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.'' Sahara memapah Arron dan dia mencari kunci mobil di saku celana milik Arron.


Setelah mereka sudah berada di dalam mobil, Sahara memasangkan sabuk pengaman dan dia memposisikan kursi sedikit tidur supaya Arron bisa nyaman.


Gadis itu mencari kunci mobil di dalam kantong kemeja dan celana, dia menemukan kartu nama milik Arron. Sesudah menemukan alamatnya, Sahara pun segera melajukan mobil. Untung saja Reva sudah mengajari dia menyetir.


Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di apartemen milik Arron. Sahara kembali memapah tubuh pria itu yang sangat berat. Dia membuka pintu kamar lalu merebahkan Arron dengan perlahan. Sahara membuka sepatu pria itu, dia menyelimuti tubuh Arron hingga sebatas leher.


"Selamat malam, Tuan. Anda tidur yang nyenyak, ya? Saya sedikit lega karena melihat Anda yang sudah terlelap." Sahara memutuskan untuk pergi, tetapi baru saja melangkah, Arron menarik lengannya dan membuat tubuh Sahara jatuh ke dalam pelukan Arron.


"Kau mau kemana?" ucap Arron dengan suara serak dan berat.


Sahara hanya menatap wajah tampan itu dari dekat, dia berusaha melepaskan cengkeraman Arron tetapi sangat sulit.


{**Bersambung**}

__ADS_1


__ADS_2