Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #89


__ADS_3

Satu Minggu kemudian, Jimmy membawa Elsa ke rumah orangtuanya. Dia sedikit gerogi karena baru baru kali ini membawa seorang wanita ke hadapan keluarga. Apalagi dia harus mengatakan jika Elsa akan menjadi istrinya.


Saat baru saja turun dari mobil, Jimmy menghela napas. Dia membenahi Jasnya lalu menoleh ke arah Elsa yang sudah berada di sebelahnya.


"Apa kau sudah siap?"


Elsa mengangguk, dia terlihat santai tetapi jujur jantungnya saat ini sedang berdegup kencang, tidak aman.


'Ayo, Elsa! Kau tidak boleh pingsan dan pada akhirnya malah mempermalukan Tuan Jimmy.' batin Elsa mencoba semangat.


Keduanya berjalan sambil bergandengan, sangat serasi. Sesampainya di dalam rumah, terlihat para keluarga sudah berada di meja makan.


'Makan malam besar.' batin Elsa kembali berdialog.


"Tarik napas dalam-dalam, bersikap biasa saja. Kamu jangan canggung supaya kebohongan kita tidak terbongkar."


Elsa hanya mampu mengangguk.


"Nah ini dia sudah datang." ucap adik Jimmy yang bernama Nolan. Pemuda tampan berusia dua puluh empat tahun itu terpana melihat kecantikan Elsa. Dia menatap Elsa dari atas sampai bawah.


"Selamat malam, semuanya." Elsa menyapa dengan anggun, suaranya yang merdu membuat semua orang terkesima.

__ADS_1


Disaat semua terpesona akan kecantikan Elsa, Mami Jimmy hanya diam saja. Dia seperti tidak menyukai kedatangan putranya yang memang membawa seorang gadis.


"Mam," Jimmy menghampiri Maminya, dia mengecup dahi sang Mami dengan penuh kasih sayang.


"Apa Mami tidak merindukan aku?" Jimmy menatap Maminya dengan tangan menggenggam erat jemari Elsa.


"Tentu saja Mami sangat merindukanmu, putraku." Mami berdiri, dia sengaja melepaskan genggaman tangan itu lalu memeluk tubuh Jimmy.


Jimmy tentu saja membalas pelukan itu tanpa ada rasa aneh sedikitpun, sedangkan Elsa, dia sudah tau jika Mami Jimmy tidak menyukainya. Terlihat dari perilaku dan tatapan mata.


"Hei, ayo ajak calon menantuku untuk duduk. Aku yakin dia pasti sangat lelah karena baru saja sampai beberapa jam yang lalu." ucap Papi Jimmy yang bertolak belakang dengan Maminya.


"Ayo, Sayang." Jimmy mengajak Elsa duduk ketika pelukan sudah terurai.


"Siapa namamu, Nak?" Papi bertanya untuk mengakrabkan diri.


"Elsa, paman."


"Nama yang bagus. Berapa usiamu?''


"Dua puluh enam tahun."

__ADS_1


Nolan menaikkan sebelah alisnya, dua puluh enam tahun tetapi wajahnya seperti remaja usia dua puluh dua tahun.


"Apa kau bekerja? Atau memiliki usaha sendiri?"


"Kebetulan saya bekerja disalah satu kantor terbesar di Asia. Untuk saat ini saya sedang mengumpulkan dana supaya bisa membangun usaha sendiri." jelas Elsa dengan senyum manisnya, dia menjawab jujur, terserah orang tua Jimmy suka atau tidak, toh ini hanyalah gimmick belaka.


"Bagaimana dengan orang tuamu? Maksud saya apa mereka berasal dari golongan pengusaha juga? Atau —" Mami menggantung pembicaraan.


"Papa saya seorang pengusaha, sementara Mama saya sudah tiada, Bibi."


Mami menganggukkan kepala. "Apa kau memiliki saudara kandung?"


"Saya anak tunggal."


"Lalu, kenapa kau tidak mengurus perusahaan papamu saja dan malah memilih bekerja di perusahaan orang lain?"


"Saya hanya ingin menjadi pribadi yang mandiri, mengerti betapa kerasnya bekerja untuk orang lain, dan tidak bergantung harta orang tua." jawab Elsa tegas dan berani.


Papi mengangguk salut akan jawaban dari Elsa. Dia yakin jika gadis yang ada di hadapannya saat ini sangat cocok untuk Jimmy.


{Bersambung}

__ADS_1



__ADS_2