
Satu Minggu kemudian, Arron mengajak Sahara berlibur. Gadis itu menolak jika pergi bersama dengan Reva dan Arron pun memutuskan untuk tidak mengajak Reva. Tentu saja hati Sahara sangat bahagia karena Arron memenuhi permintaannya.
Saat ini mereka sudah berada di vila. Tetapi, bukan Vila yang mereka kunjungi waktu itu. Kali ini tempat tersebut sangat indah, dengan pemandangan laut yang jernih tak jauh dari vila itu.
"Kamu menyukai tempatnya?" Arron memeluk tubuh Sahara dari belakang. Dia mengecup tengkuk gadis itu.
"Ya, tempatnya sangat indah. Apa kamu sering berlibur ke tempat ini?" Sahara memegang tangan Arron yang melingkar di pinggangnya.
"Tidak, dan baru kamu gadis yang aku ajak ke tempat ini." ucap Arron meletakkan dagunya di pundak Sahara, mereka berdua terlihat seperti sepasang suami-istri yang sedang berbulan madu.
****
Reva baru saja pulang dari butik, seperti biasanya dia memutuskan untuk mampir ke taman terlebih dahulu. Disana dia mencari seseorang yaitu Daisy. Gadis tersebut duduk di bangku yang biasanya di tempati. Dirinya berharap Daisy melihatnya disana.
Beberapa menit kemudian, tidak ada tanda-tanda bocah kecil itu muncul. Reva sedikit sedih, entah mengapa dia sangat menyukai Daisy.
"Sebaiknya aku pulang saja.'' ucap Reva. Dia berdiri dari bangku tetapi suara seseorang membuatnya mengurungkan niat untuk pergi.
Seketika senyum di bibir Reva terbit, dia melambaikan tangan ke arah Daisy yang berlari ke arahnya. Sementara di belakang bocah itu, ada sang papa yang mengekor.
"Tante Eva." Daisy memeluk Reva.
"Halo, cantik. Kenapa baru datang?" Reva menangkup wajah imut Daisy.
"Nona, kami bahkan ingin pulang."
Reva menaikkan alis. "Really? Kenapa Daisy tidak menemui tante terlebih dahulu?"
"Maaf, Tante. Daisy dan papa bermain ayunan disana, Daisy pikir tante tidak datang." ucapnya dengan sedikit cadel.
"Sayang, klien papa sudah menunggu. Ayo, kita harus segera pergi.'' ajak sang papa.
Daisy seakan tidak ingin terpisah dari Reva, dia menatap Reva dengan wajah melas tanpa senyum sedikit pun.
"Daisy tidak mau ikut papa." putusnya.
"Sayang, kamu tidak boleh seperti itu. Atau, Daisy mau dirumah saja bersama dengan mbok Darmi?"
Daisy menjawab dengan gelengan. "Daisy mau sama Tante."
Pria itu menatap Reva, dia merasa tidak enak dia bingung kenapa putrinya sangat menyukai Reva padahal mereka baru bertemu kurang lebih dua Minggu yang lalu.
"Sayang, papa—"
"Tidak masalah, Tuan Addison. Biarkan Daisy bersama dengan saya. Nanti saya akan mengantarkannya pulang."
__ADS_1
"Jangan, Nona. Saya tidak ingin merepotkan Anda, biarkan Daisy pulang bersama dengan saya."
Daisy secepat kilat bersembunyi di belakang tubuh Reva, bocah kecil itu memeluk Reva dari belakangnya.
"Anda lihat 'kan, Tuan Iram Addiso. Dia tidak ingin ikut dengan Anda. Begini saja, jika Anda takut merepotkan saya, nanti sepulang dari pertemuan Anda bisa menjemput Daisy di rumah saya."
Iram terdiam, lalu dia mengangguk. "Baiklah, saya sudah terlambat lima menit. Tolong jaga 'kan Daisy, kabari saya jika dia merepotkan Anda, Nona William." Iram memberikan kartu nama.
"Tentu, saya yakin anak baik seperti Daisy pasti tidak akan merepotkan. Benar 'kan, Sayang?'' Reva bertanya pada Daisy dan dijawab anggukan oleh bocah kecil itu.
Iram pergi meninggalkan Reva dan Daisy. Jujur saja dia benar-benar tidak enak dengan Reva karena sudah meninggalkan Daisy.
Setelah Iram menjauh, Daisy baru tersenyum.
"Apa Daisy senang bisa bersama dengan Tante?"
Daisy mengangguk.
"Baiklah, bagaimana jika kita makan ice cream? Daisy suka ice cream tidak?"
"Suka, Tante."
"Biar Tante tebak, Daisy pasti menyukai ice cream rasa vanila. Bener 'kan?" Reva bergurau dan menggoda Daisy. Sementara bocah berusia empat tahun itu, dia hanya tersenyum mendengar penuturan dari Reva.
Tak ingin membuang waktu, Reva mengajak Daisy untuk pergi membeli ice cream. Mereka sudah seperti ibu dan anak.
***
Daisy dan Reva berada di teras depan, mereka melihat betapa indahnya pemandangan bulan. Sementara Rayyan, pria itu baru saja pulang dari kantor.
"Re, anak siapa itu?" Ray bertanya heran.
"Dia anak teman Reva, kak. Papanya sedang ada pertemuan dan dia menolak untuk ikut dengan papanya."
"Kenapa dititipkan padamu? Kemana ibunya?''
"Ibunya sudah tidak ada, maksudku papa dan mamanya bercerai."
Rayyan hanya diam saja, dia menatap Daisy dengan datar hingga membuat gadis kecil itu sedikit takut.
''Hei, kak. Jangan membuatnya takut.''
Rayyan tidak menjawab ucapan Reva, dia pergi dari sana dan masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Tak lama kemudian, suara deru mobil terdengar. Daisy bersorak riang karena sang papa yang datang untuk menjemputnya.
__ADS_1
"Papa!'' teriak Daisy langsung menghambur ke pelukan Iram.
"Halo sayangnya papa. Apa tadi Daisy nakal?"
Daisy menggeleng.
"Dia tidak nakal, Tuan. Bahkan saya sangat senang bisa menjaganya."
"Terima kasih, Nona William. Maaf jika saya merepotkan Anda.''
"Tidak perlu sungkan, Tuan.''
Iram berpamitan untuk pulang, tetapi suara seseorang berhasil menghentikan langkahnya.
"Reva, beristirahatlah. Kau tidak boleh kelelahan."
Iram menoleh dan dia tersenyum lebar. "Ray?" ucapnya membuat Ray menoleh.
Rayyan menatap pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya dengan seksama. Dia seperti mengenal pria itu, bahkan suaranya juga tidak asing. Tetapi Ray lupa siapa dia.
"Apa kita pernah mengenal?"
"Aku Iram. Kau melupakan teman kuliahmu ini?"
Rayyan terdiam sambil mengingat. Lalu kemudian, dia tersenyum lebar dan menghampiri Iram.
"Ya, aku mengingatmu. Astaga, apa kabar?"
Iran pun mengatakan keadaannya.
"Jadi, dia putri dari Nessa?"
Iram mengangguk. Nessa adalah salah satu gadis yang Iram incar mulai dari mereka kuliah dulu.
"Apa kita bisa mengobrol sebentar? Sudah lama aku tidak bertemu denganmu."
''Next time, Ray. Hari sudah hampir larut malam, aku kasihan dengan putriku."
Ray pun memahaminya. "Dunia serasa kecil, kita terpisah beberapa tahun dan akhirnya bisa bertemu kembali."
"Aku juga tidak menyangka ternyata Reva William itu adalah adikmu. Aku pikir William orang lain, ternyata keluargamu.''
Mereka berdua tertawa bersama. Reva sendiri heran dan dia menyimak pembicaraan kedua pria itu.
{**Bersambung**}
__ADS_1