Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #126


__ADS_3

Rayyan yang sudah selesai untuk pergi ke kantor heran karena tidak melihat adiknya keluar dari kamar. Kekhwatiran mulai terlintas di benak Ray, dia pun mengetuk pintu kamar milik Reva.


"Re, Reva! Kau belum bangun?"


Tidak ada sahutan sama sekali.


"Re, kakak masuk ke dalam, ya?" Ray pun bergegas masuk ke dalam sana karena tidak ada jawaban dari Reva.


Setelah berhasil masuk ke dalam, Ray melihat Reva yang masih bergelung di bawah selimut. Dia pun mendekati adik kesayangannya itu.


"Re, bangun! Kau tidak pergi ke butik? Ini sudah siang." Rayyan berbicara dengan lembut, dia mengelus pucuk kepala Reva.


"Re, badanmu panas. Kau sakit?" Ray kaget ketika dia meletakkan punggung tangannya di dahi Reva. Suhu badan gadis itu sangat tinggi dan dia bahkan terlihat menggigil.


Rayyan menghubungi dokter pribadi keluarganya, dia tidak bisa meninggalkan sang adik dalam keadaan sakit seperti ini. Sementara Raymond dan Kiara, keduanya belum juga pulang dari luar negeri.


Setelah beberapa menit kemudian, Dokter pun datang dan memeriksa keadaan Reva. Dokter itu mengatakan jika Reva harus banyak istirahat, dia kelelahan dan terlalu banyak tertekan pikiran. Selesai memeriksa, Dokter itu memberikan resep obat agar Ray bisa membelinya di apotik. Lalu, Dokter tersebut pun berpamitan pulang.


Rayyan duduk di tepi ranjang, dia mengelus kepala Reva. Dirinya sangat sayang pada sang adik, dia sama sekali tidak tega jika harus melihat adiknya sakit seperti ini.


"Apa yang kau pikirkan, Reva? Pekerjaan? Semua itu tidak terlalu penting, kau harusnya bisa jaga kesehatan." ucap Ray ketika melihat Reva yang sudah terbangun.


Reva memeluk tubuh kakaknya dengan manja. "Kepalaku pusing kak, aku juga kedinginan." rengeknya seperti anak kecil.


"Dokter tadi sudah memeriksamu dan memberikan resep obat. Kakak akan membelinya ke apotik, lalu setelah itu membelikanmu sarapan. Kau ingin makan apa?"


Reva menggeleng. ''Aku tidak selera makan."


"Hei!" Ray menyentil dahi Reva dengan pelan. "Kau sedang sakit dan berkata tidak selera makan? Lalu, bagaimana kau bisa minum obat?''


Reva menjawab. ''Ya, terus saja marahi aku.'' rajuknya.

__ADS_1


"Bukan begitu, kakak memarahi demi kebaikanmu. Kau jangan keras kepala,"


Reva pun mengangguk. "Aku ingin bubur ayam.''


"Baiklah, kau istirahat. Kakak akan pergi keluar untuk membelinya."


Ray pergi keluar dari kamar Reva. Sesudah Ray pergi, gadis itu mengambil ponselnya. Dia melihat pesan dan sama sekali tidak ada kabar apa pun dari Arron. Pikirannya semakin bercabang, dia heran kenapa Arron bisa berubah. Padahal dulu pria itu selalu mengirimi pesan hingga Reva merasa jika dirinya sangat di Ratukan.


"Kamu kemana, Arron?" Reva berkata sedih. Tak ingin berlarut dalam kesedihan, Reva pun menghubungi Sahara untuk mengatakan jika dirinya tidak pergi ke butik hari ini.


****


Sahara yang masih terlelap dalam tidurnya seketika bangun karena suara ponsel. Dia mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu, lalu melirik ke samping dimana Arron masih terjaga dalam mimpi. Sahara meraih ponselnya yang berada di atas meja, dia melihat Reva yang menghubunginya.


"Ck, pagi-pagi menganggu saja." decak Sahara kesal.


📱"Selamat pagi, Sahara. Maaf jika aku mengganggumu."


'Ya, kau memang menganggu!' ucap Sahara dalam hati.


📱"Begini, aku hari ini tidak pergi ke butik. Jadi, aku ingin kau mengawasinya. Bagaimana?"


Sahara memutarkan bola matanya. "Baiklah, Nona. Saya akan menuruti kemauan Anda."


📱"Terima kasih, Sahara."


"Sama-sama, Nona. Anda tidak perlu sungkan."


'karena saat ini apa yang saya inginkan sudah saya dapatkan.' batin Sahara melanjutkan perkataannya.


Panggilan pun terputus, Sahara sama sekali tidak berniat menanyakan alasan Reva kenapa tidak pergi ke butik.

__ADS_1


Sahara meletakkan ponselnya kembali, dia memeluk tubuh Arron tetapi hanya sekejap karena sekarang ponsel Arron yang berdering. Sahara berdecak kesal, entah kenapa pagi-pagi seperti ini sudah ada yang membuat mood-nya rusak.


Sahara melihat nama yang tertera di layar ponsel milik Arron, disana tertuliskan My Love. Gadis itu menggoyangkan tubuh Arron.


"Mas, bangun! Ada telepon.'' ucap Sahara sambil menyodorkan ponsel.


Arron mengerjapkan matanya, dia menerima ponsel dan menjawab panggilan dari Reva.


"Halo, Sayang. Ada apa?" Arron bertanya dengan santai dan khas suara bangun tidur.


📱"Sayang, kau darimana saja? Kenapa sangat sulit dihubungi?"


"Tadi malam baterai ponselku lowbat. Maafkan aku."


📱"Ya sudah." sahut Reva sedikit kesal dan pasrah.


Sahara seakan tidak terima, dia menganggu Arron yang sedang mengobrol dengan Reva. Gadis itu memeluk tubuh Arron dan memainkan dada atletis milik pria itu.


Arron memberikan peringatan agar Sahara jangan mengganggunya terlebih dahulu.


"Kenapa kamu tidak pergi ke butik? Apa ada acara keluarga?"


📱"Aku sedang demam."


"Kamu sakit?" Arron menegakkan tubuhnya dan dia membiarkan Sahara yang terlihat kesal.


📱"Ya, begitulah. Mungkin karena kelelahan."


"Baiklah, aku akan segera kesana." ucap Arron dan diiyakan oleh Reva.


Sambungan telepon terputus dan Arron meminta maaf pada Sahara karena dirinya harus pergi ke rumah Reva. Sahara sendiri cukup kesal, tetapi dirinya tidak bisa mencegah Arron.

__ADS_1


{**Bersambung**}



__ADS_2