Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
bab. #141


__ADS_3

Satu Minggu pun sudah berlalu dan kedua orang tua Ray kembali meminta jawaban dari masalah perjodohan itu. Ray pun mengatakan jika dirinya sudah memiliki kekasih, dan bahkan dia akan melamar secepatnya. Kedua orang tua Ray tidak terlalu percaya, mereka pun meminta Ray agar membawa kekasihnya itu ke rumah.


Ray bingung sendiri, dia meminta kepada sang sekretaris agar mencari beberapa gadis yang bisa di sewa untuk menjadi kekasihnya. Namun, di beberapa para gadis itu tidak ada yang masuk ke dalam kriteria Rayyan. Hingga pada akhirnya, mata Ray tertuju kepada Yolanda. Gadis sederhana dan bisa segalanya.


Ray memanggil Yola ke ruangannya, dan gadis itu pun langsung menemui sang atasan. Setelah berada di dalam ruangan Ray, Yola duduk di kursi yang berseberangan dengan Rayyan. Dia cukup heran kenapa tiba-tiba Ray memanggilnya.


''Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Yola bertanya.


"Saya bahkan sangat membutuhkan bantuan darimu, Yola." ucap Ray membuat Yola mengerutkan dahi.


"Katakan saja, Tuan. Jika bisa pasti saya akan membantunya."


"Begini, orang tua saya menjodohkan saya dengan seorang gadis. Mereka menginginkan saya agar segera menikah. Tetapi, saya sama sekali belum memiliki niat untuk gitu, dan orang tua saya tetap memaksanya." Ray berhenti bicara.


"Lalu? Apa urusannya dengan saya?"


"Saya ingin kau membantu saya agar perjodohan itu di batalkan. Saya mengatakan jika saya sudah memiliki seorang kekasih, tapi padahal sebenarnya belum. Jadi—" ucapan Ray terputus karena Yola memotongnya dengan cepat.


"Jadi Anda ingin saya menjadi kekasih Anda? Maksudnya, berpura-pura menjadi kekasih Anda." Yola meralat ucapannya.


Ray tersenyum karena gadis itu sangatlah peka. "Kau benar, Yola. Bagaimana? Kali ini saya ingin kau membantu saya." Ray mengeluarkan sebuah cek. "Ini imbalan untukmu jika kau mau membantu saya."


Yolanda menerima cek itu, matanya membulat lebar ketika melihat nominal yang tertera disana.


"T—tuan, ini sangat banyak sekali. L—lima ratus juta?''


Ray mengangguk. "Kau bisa langsung membawamu ibumu melakukan pemasangan ring jantung."


Yola sedikit terharu, baiklah dia akan menerima tawaran Ray karena uang sebanyak itu sangat tidak mudah dia dapatkan. Meskipun dirinya berujung melakukan kebohongan, tetapi semua itu demi ibunya.


"Saya menerima tawaran Anda, Tuan."


"Bagus sekali, hari ini orang tua saya meminta agar saya membawa kekasih saya ke rumah. Dan kau harus bersiap. Kau bisa memberikan alamat rumahmu dan saya akan menjemputmu nanti."


"Tidak, Tuan! Maksudnya, saya akan datang sendirian ke rumah Anda.''

__ADS_1


"Kenapa seperti itu? Sudahlah, Yola. Biarkan saya saja yang menjemputmu."


Yola merasa tidak enak jika nantinya warga melihatnya di jemput menggunakan sebuah mobil.


"Bagaimana jika sepulang kerja nanti saya langsung ikut dengan Anda?"


"Ide bagus, sebelum itu saya akan membelikan baju untukmu dan kita akan pergi ke salon."


"Apa wajah saya seburuk itu?"


"Hei apa yang kau katakan? Kau itu sangat cantik," Ray pun langsung mengatupkan mulutnya. "Maksudnya, kau seperti wanita pada umumnya, tidak ada yang salah dengan wajahmu.''


Yola hampir saja tersipu malu, tetapi dia harus mengingat batas antara bos dan bawahan.


***


Waktu berjalan sangat cepat, malam pun telah tiba dan saat ini jam menunjukkan pukul tujuh. Ray dan Yola masih berada di salon, disana Yola akan dirias secantik mungkin. Riasannya tidak terlalu tebal, tetapi mampu membuat wajah Yola fresh dan bertambah cantik.


Ray dengan sabar menunggu gadis itu meskipun sedikit jenuh, baru kali ini dia kembali menunggu seorang gadis di salon, terakhir dulu dia bersama dengan almarhumah calon istrinya.


Ray beranjak dari sofa, dia menatap Yola yang sangat cantik. Menggunakan gaun sebatas lutut berwarna biru, di penuhi Payet di dadanya, lalu rambut di Curly yang membuat penampilannya semakin mempesona.


"T—tuan?" Yola merasa risih ditatap seperti itu. Dia memukul pundak Ray dengan pelan untuk menyadarkan pria tersebut.


Ray pun kaget, dia menggeleng lalu mengalihkan padangan. Secantik apa pun wanita yang dia temui, baru kali ini dirinya merasa kagum akan kecantikan seseorang.


"Apa kau sudah selesai? Ayo, kita harus segera pergi karena Mama sudah menelpon terus-menerus."


Yola mengangguk, dia berjalan berdampingan dengan Ray. Mereka seperti sepasang kekasih yang sangat cocok.


Di dalam mobil, Ray sesekali mencuri pandang guna melihat Yola.


"Tuan, saya ingin bertanya sesuatu."


"Katakan."

__ADS_1


"Saya dengar isu miring tentang kehidupan Tuan, apakah itu benar?" Yola yang memang memiliki jiwa kepo bertanya secara langsung tanpa rasa takut, itu semua dia lakukan daripada dirinya terus dihantui oleh rasa penasaran.


"Isu? Apa yang kau katakan?"


"Banyak yang bilang jika Anda adalah penyuka sesama jenis atau gay."


Ray langsung memijak pedal rem hingga berbunyi decitan. Dia menghentikan mobilnya ketika mendengar pertanyaan dari Yola barusan.


"Siapa yang mengatakan hal itu?"


"Saya hanya mendengarnya dari orang luar, Tuan. Maka dari itu, saya sangat menyayangkan. Anda sangat tampan, mapan, dan gagah, tapi kenapa Anda malah menyukai pria daripada wanita?"


Ray bukannya marah, dia malah tertawa geli mendengar penuturan jujur dari bibir Yolanda.


"Kau mempercayai ucapan mereka?"


"Bagaimana tidak, sangat banyak yang mengatakan hal itu. Dan selama ini saya pergerakan Anda, sepertinya Anda memang memiliki kelainan."


"Kau ingin saya membuktikannya?" Ray berkata dengan nada berat dan dia melepaskan sabuk pengaman lalu mendekatkan wajahnya ke Yola.


"Apa yang ingin Anda lakukan, Tuan?"


"Bukankah kau mengatakan jika saya tidak menyukai seorang wanita? Dan saya tidak memiliki gairah terhadap wanita? Kalau begitu, saya akan membuktikannya sekarang juga. Tidak masalah riasanmu hancur, kita bisa kembali ke salon lagi nanti."


Yola menelan ludah melihat tatapan dari Rayyan, wajah pria itu sangat tampan jika dilihat dari dekat.


"Em, t—tidak perlu, Tuan. S—saya percaya jika Anda adalah pria normal." ucap Yola tergagap.


Ray tersenyum sambil menggeleng, dia menjauhkan wajahnya dan kembali memasang sabuk pengaman.


"Maka dari itu jangan terlalu mempercayai perkataan orang lain sebelum kau mengetahui fakta yang sebenarnya."


Yola mengangguk paham.


{**Bersambung**}

__ADS_1


__ADS_2