
Keesokan harinya, Yola bangun pagi seperti biasa. Dia mengerjakan tugas rumah terlebih dahulu barulah pergi bekerja. Dirinya membuat sarapan bubur ayam untuk sang ibu, Sejujurnya mereka bisa membeli bubur ayam, tetapi Yola lebih suka membuatnya sendiri karena lebih terjamin dan sedikit mengirit biaya.
Yola harus menabung untuk pemasangan ring jantung ibunya. Memang sangat besar biayanya maka dari itu dia tidak pilih-pilih dalam bekerja selagi itu masih halal.
Ibu juga sudah bangun, beliau baru saja berkeliling di depan rumah untuk menyegarkan tubuh dan merilekskan otot otot kaki.
"Bu, sudah hampir pukul tujuh. Kita sarapan dulu lalu setelah itu Yola akan pergi bekerja."
Ibu dan Yola duduk di meja makan, mereka melahap bubur buatan Yola. Gadis itu sangat pintar memasak, dirinya selalu belajar dari sang ibu sewaktu masih sekolah dulu.
Setelah selesai melahap sarapan, Yola berpamitan untuk pergi bekerja.
"Bu, Yola pergi dulu, ya? Nanti jika Yola pulang sedikit malam, ibu makan saja duluan, jangan menunggu Yola."
Ibu hanya mengangguk dan tersenyum.
"Di dapur, Yola tadi sudah memasak sup daging untuk Ibu, ibu jangan telat makan, ya?" Yola sangat takut jika sang Ibu terlambat makan dan nantinya jatuh sakit.
Yola memeluk tubuh ibunya, dia mengecup kedua pipi wanita paruh baya itu. Lalu, dirinya melambaikan tangan dan melajukan motornya.
Gadis itu mengendari motornya dengan santai, dia bahkan bersenandung ria menikmati terpaan angin yang berhembus. Cuaca cukup dingin karena tadi malam hujan turun.
Saat Yola melewati genangan air, dirinya menurunkan kilometer, tetapi sebuah mobil yang lewat dari sampingnya malah melaju cukup kencang hingga membuat air genangan itu mengenai pakaian Yola.
Yola tidak terima, dia kembali menaikkan kilometer motornya hingga mencapai enam puluh, dirinya sengaja mengejar mobil itu untuk meminta pertanggungjawaban.
"Hei berhenti! Dasar orang kaya tidak punya hati!" teriak Yola sambil membuka kaca helmnya.
Yola membunyikan klakson terus menerus hingga membuat seseorang yang menyetir mobil itu melihat dari kaca spion. Pria itu merasa jika motor di belakangnya mengikuti dia. Terbukti dari sang pengendara yang melambai-lambai.
Pria itu menghentikan mobil, dia segera keluar dari sana dan menghampiri pengendara motor tadi.
"Maaf, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" Pria itu langsung bertanya.
__ADS_1
Yola membuka helmnya, dia meletakkan benda itu di atas motor. "Heh, Anda lihat pakaian saya ini!" ucapnya sambil menunjuk baju.
"Memangnya kenapa, Nona?"
"Anda tidak sadar sesuatu? Ini semua itu karena Anda!"
Pria itu mengerutkan dahi. "Kenapa bisa saya? Perasaan saya tidak pernah bertemu dengan Anda.''
Yola mengepalkan tangannya dengan erat, ingin sekali rasanya memukul wajah pria itu yang sama sekali tidak sadar akan kesalahannya.
"Anda tadi melewati genangan air dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Lihat akibatnya, pakaian saya kotor karena Anda!" Yola menunjuk wajah pria itu. Dia terlihat kesal.
Pria itu terdiam sejenak. Dirinya mengingat jika tadi memang melewati genangan dan ada sebuah motor yang melaju di sebelah mobilnya. Tetapi dia tidak tahu jika genangan itu mengenai seseorang.
"Lalu, Anda sekarang mau apa? Ganti rugi? Saya akan mengganti ruginya. Bahkan Anda bisa membeli pakaian yang lebih bagus daripada pakaian Anda itu."
Yola terlihat geram, dia menatap pria itu dengan tajam. "Saya tidak butuh uang Anda! Meskipun saya orang miskin, tapi saya tidak pernah mengemis untuk meminta ganti rugi. Saya hanya ingin tanggungjawab Anda, Tuan. Setidaknya katakanlah maaf."
Pria itu terdiam, mulutnya enggan untuk berkata maaf.
Yola memakai helmnya dan dia melajukan motor. Ketika melewati mobil pria itu, Yola menyempatkan diri untuk menendang badan mobil tersebut.
"Gadis unik." Pria itu menggeleng lucu melihat kelakuan Yola barusan.
Beberapa menit kemudian, Yola sudah sampai di kantor. Dia sangat terlambat karena memarahi pria tadi. Dirinya berlari masuk ke dalam kantor dan berniat menuju ke ruang ganti. Namun, baru saja melewati lift, Ray muncul dan dia bersidekap menatap Yola. Sementara Yola, gadis itu nyengir kuda melihat Rayyan.
"Selamat pagi, Tuan." sapa Yola berpura-pura ramah.
"Tidak perlu basa-basi. Kenapa kau terlambat datang? Apa kau tidak lihat ini sudah jam berapa?"
Seketika senyuman Yola pun meredup, pagi-pagi sudah mendapatkan teguran yang sangat tidak ramah.
"Maafkan saya, Tuan. Tadi dijalan ada sedikit masalah." ucap Yola menunduk.
__ADS_1
"Jangan jadikan hal itu sebagai kebiasaan, ini bukan kantor milikmu dan kantor ini juga punya peraturannya sendiri."
"Saya paham, Tuan." Yola hanya memilih pasrah.
Tiba-tiba, suara seseorang memutuskan pembicaraan Yola dan Ray.
"Apa kita akan pergi sekarang, Kak?" ucap orang yang baru datang itu.
Rayyan mengangguk dan Yola menoleh ke asal suara. Mulutnya sedikit terbuka ketika melihat pria di depannya itu.
"Anda—"
Pria tersebut mengingat gadis di hadapannya saat ini. "Anda Nona yang tadi bukan?"
"Apa kalian saling mengenal?" Ray bertanya heran.
"Ya, Kak. Tadi aku tidak sengaja membuat pakaiannya kotor terkena genangan air."
Ray memerhatikan pakaian Yola dan dia baru menyadari jika baju gadis itu memang kotor.
"Nona, maafkan saya. Saya tadi tidak sengaja."
Yola heran kenapa pria itu tiba-tiba meminta maaf, sementara tadi dia enggan untuk mengatakan hal itu.
"Lupakan saja.'' ketus Yola sedikit kesal, gadis itu yakin jika pria di depannya saat ini sedang mencari nama di depan Rayyan.
"Ya sudah, kali ini saya akan memaafkanmu karena terlambat. Tapi jika terus-menerus seperti ini, maka saya akan memberikanmu surat peringatan dan hukuman.''
Yola mengangguk. "Kalau begitu saya permisi, Tuan." gadis itu berlalu dari hadapan Rayyan.
"Dia karyawan baru, Kak?" Jayed bertanya pada Rayyan.
"Iya, kebetulan kemarin itu di kantorku kekurangan OG. Jadi aku menerimanya bekerja disini." ucap Rayyan.
__ADS_1
Jayed hanya mengangguk, mereka pun pergi meninjau ke lokasi Pembangunan.
{**Bersambung**}