
Seluruh keluarga turun ketika mereka sudah sampai di kediaman William.
"Ayo," Ray mengulurkan tangan dan Kiara langsung menyambutnya dengan senang hati.
'Ck, perempuan udik itu benar-benar sudah berhasil menguasai hati Ray.' batin Mey kesal ketika melihat Ray yang mengandeng tangan Kia dengan mesra.
"Mey," Rara menepuk pundak Meysa pelan.
Meysa menoleh dengan wajah yang murung.
"Tante paham dengan perasaan kamu," Rara mengelus pucuk kepala Mey dengan lembut.
"Mey gak bisa melihat Ray menjadi milik orang lain, Tante. Tante tau'kan jika Mey sangat mencintai Raymond?" Mey meneteskan air mata buaya.
"Kamu tenang aja, Tante pastikan gadis udik itu tidak akan betah hidup bersama dengan Ray." Rara tersenyum jahat.
Mereka berdua berpelukan.
"Hapus air matamu, kamu harus bersikap biasa saja dan jangan membuat Ray ilfil denganmu."
Mey mengangguk dan menghapus air mata, mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah.
Kia menatap takjub ke seluruh penjuru rumah yang sangat megah dan mewah itu.
"Selamat datang, Kia. Papa harap kamu betah tinggal di rumah ini," Bimo berkata dengan ramah.
"Insyaallah, Om. Saya pasti akan betah tinggal disini." Kia tersenyum tipis dan bersyukur akhirnya salah satu anggota keluarga Ray ada yang mau mengakuinya.
"Jangan panggil saya Om, kamu 'kan menantu saya. Panggil saya Papa seperti Ray memanggil saya."
Kia mengangguk paham.
"Pa, aku pamit ke kamar dulu ya?" Ray menggenggam jemari Kia.
__ADS_1
"Apa kamu masih ingat dengan kamarmu?" gurau Bimo dengan terkekeh pelan.
"Papa bisa aja," Ray ikut tertawa.
'Setelah mengetahui kehidupan Mas Fildan yang sebenarnya mengapa aku jadi semakin malu? Rasanya aku memang tidak pantas bersanding dengan Mas Fildan.' batin Kia.
"Ayo sayang, kita ke kamar." Ray menarik tangan Kia perlahan.
Mereka berdua menaiki anak tangga dengan bergandengan tangan.
"Pa!" seru Rara ketika melihat Ray dan Kia yang sudah masuk ke dalam kamar.
Bimo menoleh dan menatap Rara yang berjalan ke arahnya dengan emosi.
"Ada apa, Ma?" Bimo berusaha bersikap tenang.
"Apa maksud Papa mengijinkan gadis kampungan itu tinggal disini? Papa gak malu punya menantu udik seperti dia?" ucap Rara dengan nada tinggi.
"Ma, untuk apa kita malu? Tidak masalah bagi Papa jika dia gadis yang berasal dari kota atau desa, kampungan atau tidak. Gadis itu sudah menyelamatkan dan merawat Ray, Ma."
"Ma tolong! Papa mohon jangan membuat keributan, kita harus merestui hubungan mereka, Papa akan bahagia jika melihat Ray juga bahagia."
"Apa Papa tidak memikirkan perasaan Meysa? Papa tidak kasihan dengannya?" Rara masih berbicara dengan nada meninggi.
Bimo melirik Mey yang menunduk. "Papa sangat kasihan, tapi inilah takdir dan mungkin Ray dengan Mey tidak berjodoh."
"Argh! Papa keterlaluan!" Rara langsung pergi meninggalkan Bimo yang terdiam.
"Maaf, Om. Mey permisi pulang,"
"Hati-hati ya, nak? Om harap kamu ikhlas dan rela melepaskan Ray untuk gadis lain."
Mey mengangguk. 'Aku tidak akan ikhlas apalagi rela jika Ray menjadi milik orang lain. Ray hanya milikku, dia hanya akan menjadi suamiku.' geram Mey dalam hati.
Bimo meninggalkan Meysa yang masih terdiam ditempat.
__ADS_1
"Aku pasti akan menghancurkan kebahagiaan kalian berdua." Mey menatap tajam ke arah kamar Ray.
•
**Halaman depan rumah keluar William
Ruang tamu
Kamar Ray dan Kia**
Semangat Neng Kia 💪
•
Meysa sang pengusaha
•
•
TBC
Happy Reading
Sampai jumpa nanti dan jangan lupa tinggalkan jejak serta dukungannya, terima kasih banyak 😘
__ADS_1