Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #115


__ADS_3

Sore hari pun tiba, Reva sudah pulang ke rumah dan tak lupa di mengajak Sahara.


"Ayo masuk, Sa."


Sahara mengangguk lalu dia berjalan di belakang Reva.


"Mama!" teriak Reva seperti biasanya, dan Kiara pun langsung keluar dari dapur.


"Anak Mama sudah pulang?"


Reva memeluk Kiara, dia mengecup kedua pipinya Mama tercintanya itu. Sementara Kiara, dia melirik gadis yang ada bersama dengan Reva.


"Re, siapa dia?''


"Oh, dia Sahara, Ma. Teman Reva." ucap Reva membuat Sahara tersenyum ramah dan dia menunduk sopan.


'Sahara? Sejak kapan Reva punya teman bernama Sahara?' batin Kiara sambil memperhatikan penampilan Sahara.


"Ma, ada yang ingin Reva katakan." Reva melirik Sahara. "Sa, kamu istirahat dulu di kamarmu, ya? Aku akan meminta pada Bi Eli agar dia mengantarkanmu ke kamar."


"Terima kasih, Nona."


Reva membalasnya dengan senyuman. Lalu, Reva meminta pada asisten rumah tangganya untuk mengantarkan Sahara ke kamar. Setelah itu, Reva menggandeng lengan Kiara dan mereka berjalan menaiki anak tangga.


Setelah berada di kamar, Reva duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Ma, maaf Reva membawa orang asing ke rumah ini tanpa izin dari Mama terlebih dahulu."


"Siapa sebenarnya dia, Nak?"


Reva mulai menceritakan awal mula pertemuannya dengan Sahara, dan itu membuat Kiara cukup takut.


"Reva, Mama tidak melarang kamu untuk menolong siapapun. Tapi, Mama takut jika sampai musuh gadis itu tahu kamu yang menolongnya, maka kamu juga akan ikut terlibat dalam masalah dia."


"Reva yakin tidak akan, Ma. Izinkan dia tinggal bersama dengan kita, ya? Reva juga sudah memberikan dia pekerjaan di butik supaya dia bisa mengumpulkan uang dan menabung untuk mengontrak rumah atau apartemen."


"Ya sudah kalau itu mau kamu, Mama hanya ingin kamu sedikit waspada dengannya. Mama tidak mau kamu kenapa-kenapa, sayang."


"Iya, Ma. Reva tau kekhwatiran Mama, Reva berjanji akan jaga diri." Reva memeluk tubuh Kiara dari samping.


Malam pun tiba, tepat pukul tujuh malam semuanya sudah berada di meja makan. Tetapi, mereka masih menunggu satu Anggota lagi yaitu Rayyan. Dia baru saja pulang dari kantor dan sedang mandi.


"Ma?" Ray memberikan kode.


"Nanti akan Mama jelaskan, sebaiknya kita makan saja terlebih dahulu."


"Ya, Papa sudah sedikit lapar."


Rayyan menganggukkan kepala.


Ketika sedang makan, Sahara mencuri pandang ke arah Rayyan. Hari ini dia begitu banyak menemui pria tampan dan kaya raya. Sahara terpesona dengan aura kedewasaan yang terpancar dari Rayyan, di tambah brewokan yang terlihat membuat Ray semakin gagah.

__ADS_1


Rayyan sadar jika dirinya diperhatikan, dia sengaja melirik tajam ke arah Sahara hingga membuat gadis itu gugup dan menundukkan pandangan.


'Aduh, hampir saja ketahuan. Kenapa Nona Reva di kelilingi pria pria tampan seperti ini?' batin Sahara sedikit iri, baru saja di tolong dirinya hampir lupa dengan kebaikan Reva.


Selesai makan malam, mereka mulai berbincang dan Ray terus bertanya siapa wanita asing yang ada di dalam keluarganya itu. Reva pun menjelaskan, dia sengaja bicara dengan nada sedih agar Ray mau menerima Sahara dirumah itu.


"Terserah kalian saja!" tukas Ray kesal dan tidak suka akan keberadaan Sahara.


"Sahara, apa kau tidak memiliki sanak saudara di kota ini?"


Sahara tertunduk lesu. "Saya sebatang kara, Tuan. Maka dari itu saya bingung harus pergi kemana. Untung saja Nona Reva berbaik hati mau menolong dan memberikan tempat tinggal untuk saya."


"Jangan sampai kebaikan adikku kau jadikan kesempatan dan memanfaatkannya."


"Kak, kau ini bicara apa?" Reva menyenggol lengan Rayyan.


"Aku bicara fakta, karena kebanyakan orang jika sudah di tolong pasti lupa diri."


"Ray," peringatan dari Raymond membuat Rayyan terdiam. Entah mengapa tiba-tiba Ray sulit mengandalkan emosinya.


"Saya tidak akan mengambil kesempatan apa pun, Tuan. Apalagi sampai memanfaatkan, hal seperti itu tidak pernah sedikit pun terlintas di benak saya."


"Baguslah, setidaknya kau masih bisa berpikir waras."


Sahara hanya mengangguk dan tertunduk.

__ADS_1


Keluarga kecil itu mulai menceritakan aktifitas mereka hari ini. Sahara hanya mampu menyimak dan sesekali melirik Rayyan.


{**Bersambung**}


__ADS_2