Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #118


__ADS_3

Hari ini adalah hari Anniversary hubungan Arron dan Reva. Ya, mereka akhirnya resmi menjalin kasih selama tiga tahun. Arron sendiri bersiap untuk merayakannya bersama sang kekasih, dia mencoba menghubungi nomor milik Reva untuk mengajaknya makan malam romantis.


Panggilan tidak di jawab dan Arron sedikit kesal, pria itu tetap mencoba untuk menghubungi Reva dan pada akhirnya terdengar suara merdu dari seberang telepon. Ya, Reva menjawabnya.


"Sayang, maaf aku tidak sedang sibuk." ucap Reva ketika panggilan tersambung.


"Tidak masalah." jawab Arron tidak ingin memperpanjang. "Sayang, apa nanti malam kamu ada acara?"


"Kebetulan tidak, memangnya kenapa?"


"Coba kamu tebak, ini tanggal berapa?"


"Dua puluh lima November." ucap Reva santai.


"Kamu ingat tidak ini hari apa?"


"Ini hari Rabu, Sayang. Kamu kenapa sih? Huft, aku sangat lelah. Aku tidak ingin tebak-tebakan seperti itu." jawab Reva yang mood-nya memang sedang hancur.


"Kamu tidak ingat hari ini? Reva—"


"Sayang, aku tutup dulu teleponnya. Maaf, aku sedang banyak pekerjaan."


"Tapi, Reva—" ucapan Arron lagi-lagi terpotong karena Reva langsung memutuskan sambungan telepon.

__ADS_1


"Bisa-bisanya dia tidak ingat tanggal jadian dan Anniversary. Ada apa dengannya?" Arron berpikir sendiri.


Di butik, Reva menyandarkan tubuhnya di. Dia memijit pelipis yang terasa berdenyut. Bagaimana tidak, dia harus pergi ke luar kota untuk masalah pekerjaan. Sejujurnya dia sangat malas, tetapi itu semua demi masa depan usahanya.


Sahara yang mengerti akan kebimbangan Reva langsung mencoba menenangkan.


"Nona, jika Anda merasa ragu sebaiknya tidak perlu pergi. Masih banyak customer lain yang mau menjadi langganan butik ini.''


"Tapi ini masalahnya mereka itu pelanggan tetap di butik ini, aku tidak mungkin menolak permintaan mereka untuk datang ke sana."


Ya, keluarga Albert datang menemui Reva dengan cara yang sopan. Mereka mengatakan jika Reva harus membawa gaun pengantin yang mewah dan termahal untuk resepsi pernikahan putri dari keluarga Albert. Tentu saja Reva tidak bisa menolak karena dia menghargai niat baik keluarga itu. Tetapi, Reva sedikit keberatan saat dirinya diminta untuk datang ke rumah keluarga Albert.


"Baiklah, Sahara. Aku memutuskan untuk pergi sore nanti, aku akan membawa desain gaun yang terbaru dan pastinya termahal."


"Baguslah, Nona. Apa saya perlu ikut dengan Anda?"


Reva mulai membereskan barang-barangnya, dia mengemasi beberapa gaun mewah dan mahal, tentunya dibantu oleh Sahara.


****


Di kantor, Arron sudah menghubungi salah satu cafe dan membooking-nya secara khusus untuk malam ini. Dia tidak terlalu ambil pusing tentang Reva yang mungkin saja lupa dengan hari Anniversary mereka.


"Semuanya sudah selesai, aku akan pergi membelikan sesuatu untuk Reva. Aku harap dia menyukainya." ucap Arron lalu dia keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Pria tersebut melajukan mobil ke Mall. Setelah beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya dia sampai di tempat tujuan. Arron bergegas masuk ke dalam sana dan mencari sesuatu yang dia butuhkan.


Arron berniat membelikan perhiasan untuk Reva, tetapi dia tidak tahu ukuran jari milik kekasihnya itu. Arron terdiam sejenak, sebuah ide terlintas di benaknya dan dia merogoh kantong celana. Dirinya menghubungi Sahara untuk bertanya berapa ukuran jari gadis tersebut karena menurut Arron, tubuh Reva dan Sahara tidak terlalu beda jauh.


📱"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Sahara.


"Sa, apa saya boleh bertanya sesuatu?"


📱"Katakan, Tuan."


"Berapa ukuran jarimu? Maksudku, jika kau membeli perhiasan, biasanya berapa ukuran jarimu?"


Sahara heran dengan pernyataan itu, dia berpikir jika Arron pasti ingin membeli sebuah cincin. Namun, untuk siapa? Sahara melirik Reva yang sedang sibuk mengemasi barang-barangnya untuk dibawa ke rumah keluarga Albert.


'Mugkin untuk Nona, mana mungkin Tuan Arron membelikan hadiah untukku.' Sahara tertawa miris dalam hati.


Gadis itu tersadar dari lamunannya ketika Arron memanggil. Dia mengatakan berapa ukuran jarinya dan Arron pun langsung memutuskan sambungan telepon.


Arron kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana, dia berjalan menyusuri Mall untuk mencari tempat perhiasan. Saat lewat di depan toko boneka, Arron melihat sebuah boneka yang sangat indah dan besar. Dia mendekatinya, lalu melihat boneka tersebut.


Tanpa berpikir panjang, Arron mengambil boneka itu untuk Reva. Lalu, dia juga membelikan buket bunga serta satu set perhiasan mewah. Setelah dirasa cukup, pria tersebut kembali menuju mobilnya.


"Semoga saja Reva menyukai hadiah dariku." ucap Arron tidak sabar menunggu malam tiba. Dia sudah membayangkan betapa bahagianya Reva ketika mendapatkan kejutan seperti ini.

__ADS_1


{Bersambung}



__ADS_2