Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab #55


__ADS_3

Pukul 20.00 wib, mobil Ray telah sampai di halaman rumah. Raymond bergegas keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah, saat ini tubuhnya terasa lelah dan pikirannya sedikit kacau karena masalah kantor.


Ceklek.


Pintu kamar milik Kiara terbuka.


Kiara yang memang sedang menunggu Ray pulang akhirnya tersenyum senang.


"Mas, aku ingin mengatakan sesuatu." Kiara berbicara sembari beranjak dari ranjang.


Ray mencoba untuk menyembunyikan kelelahannya demi mendengarkan ucapan Kiara.


"Katakan ada apa?" Ray mengecup dahi Kia karena Kia telah berada di hadapannya.


"Apa kamu tidak ingin mandi terlebih dahulu?"


Ray menggeleng. "Katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan,"


"Mas, apa tadi Mbak Meysa ada menghubungi kamu?"


"Tidak, memangnya kenapa?" Ray merangkul pundak Kiara.


"Tadi siang ketika aku ingin membuang sampah, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Mbak Meysa dengan seseorang lewat telepon."


"Lalu?" Ray mengerutkan dahi.


"Mbak Meysa mengatakan pada seseorang diseberang telepon jika anak yang dia kandung bukanlah anak kamu."


Ray terdiam dan terkejut. "Kamu yakin dia berbicara seperti itu?"


Kia mengangguk penuh keyakinan. "Aku mendengarnya dengan jelas, Mas."


Ray mengeraskan rahangnya.


"Mas! Kamu mau kemana?" pekik Kiara ketika melihat Ray yang langsung berjalan keluar dari kamar.

__ADS_1


Brak!


Raymond membuka pintu kamar milik Meysa dengan kasar, dia segera berjalan ke arah ranjang dan menatap Mey dengan tajam.


"Ray, kamu udah pulang?" ucap Mey dengan lirih.


Saat ini Meysa tengah berbaring di atas ranjang dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya hingga sebatas leher.


"Ada apa denganmu? Mengapa pakai selimut setebal ini? Apa kamu sakit?" Ray duduk di tepi ranjang, hatinya yang tadi dongkol kini berubah menjadi lemah ketika melihat keadaan Meysa yang sangat pucat.


"Aku gak pa-pa kok, Ray." Mey memejamkan mata.


Ray memegang dahi Meysa dan mengecek suhu tubuhnya.


"Badanmu panas sekali." Ray kaget karena suhu tubuh Meysa sangat panas.


"Tumben kamu datang ke kamarku? Biasanya juga sepulang kerja kamu langsung masuk ke dalam kamar Kiara."


"Aku ingin bertanya sesuatu."


"Katakan." Meysa sudah bisa menebak apa yang ingin Raymond katakan.


'Sudah ku duga.' batin Meysa.


"Aku hanya menginginkan kejujuran darimu, Mey. Aku memang jarang menyentuhmu, tetapi aku yakin jika kamu tidak semurah itu hingga menjajakan tubuhmu kepada pria lain agar bisa hamil dan mendapatkan perhatian dariku."


Air mata menetes di pipi Meysa.


"Kenapa kamu malah menangis? Katakan saja yang sejujurnya, aku tidak akan marah ataupun meninggalkanmu." ucap Ray berbohong.


"Kamu percaya dengan ucapan Kiara? Ray, aku memang jarang kamu sentuh tetapi aku juga tidak mungkin mengkhianati kamu apalagi sampai bercinta dengan pria lain." Meysa menangis.


"Jadi apa yang dikatakan Kiara adalah salah paham?"


Meysa mengangguk lemah. "Jika kamu tidak percaya denganku, kita bisa melakukan tes DNA nanti."

__ADS_1


Ray menghela nafas kasar.


'Aku tidak percaya jika Kiara berbohong, tetapi aku juga tidak mungkin menuduh Mey tanpa bukti yang akurat.' batin Ray bingung.


"Kamu tau Ray, Kia bahkan mengancam akan membunuh bayiku yang masih berada didalam kandungan. Aku terlalu memikirkan perkataan Kia hingga tubuhku demam seperti ini." Mey pun berbohong.


"Apa!" Ray terkejut. "Tidak mungkin Kiara berbuat jahat seperti itu, Meysa. Aku mengenalnya, dia adalah gadis yang baik dan rendah hati." Ray menggeleng.


"Kamu benar-benar sudah dihipnotis oleh Kiara sampai kamu tidak pernah percaya dengan ucapan ku."


Ray semakin pusing dan memutuskan untuk pergi keluar dari kamar.


"Aku akan kembali ke kamar Kiara, kamu istirahatlah. Jangan lupa jaga kesehatan dan kandungan kamu." Ray mengelus kepala Meysa dan beranjak dari ranjang.


Setelah Raymond pergi, Meysa langsung melompat dari ranjang dan mengunci pintu dari dalam.


Mey tersenyum senang.


"Akh, mudah sekali mengelabui Raymond." Meysa mengambil bawang merah yang berada di ketiak nya.


"Ya, suhu tubuhku panas karena terlalu lama memakai bawang merah ini."


Meysa berjalan ke kamar mandi dan membuang bawang merah ke dalam kloset.


"Selesai, waktunya menyaksikan peperangan antara suamiku dan istri sahnya."


Meysa berjalan pergi dari kamarnya.





...**TBC...

__ADS_1


HAPPY READING


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMA KASIH 🙏🏻**


__ADS_2