
Kiara memegangi pipinya, dia terkejut karena tiba-tiba Ray menamparnya.
"M—mas.. Kamu, kamu menamparku?" mata Kia sudah berembun, baru kali ini Raymond berbuat kasar padanya.
"Aku gak nyangka kalau kamu mempunyai hati yang jahat Kia! Kamu tega hanya menonton Meysa yang saat itu terjatuh, apa kamu sengaja ingin melihat Mey celaka dan kehilangan janinnya???" Ray berkata dengan nada tinggi.
Kiara dengan cepat menggeleng.
"Mas, apa yang kamu katakan? Tuduhan apalagi ini?"
"Ternyata kamu gak sepolos seperti yang aku duga." Ray langsung pergi meninggalkan Kiara tanpa mendengar penjelasan terlebih dahulu, hatinya saat ini sedang terbakar amarah dan emosi.
Kiara meneteskan air mata dan berlari kecil keluar dari rumah sakit.
Sesampainya di tepi jalan raya, Kia langsung menyetop taksi.
*
Dua puluh menit kemudian.
__ADS_1
Taksi telah sampai di depan gerbang rumah Kiara, dia segera memberikan bayaran kepada sang sopir dan langsung masuk ke dalam rumah.
Kiara terus. berlari menaiki anak tangga seraya memukul pelan dadanya yang terasa sesak.
"Ya Allah, sakit sekali rasanya. Suami yang dulu sangat mencintai aku sekarang dia berani memukulku hanya karena kesalahan yang tidak pernah aku perbuat." gumamnya sambil masuk ke dalam kamar.
Kia duduk di tepi ranjang dan menangis se jadi-jadinya. Dia masih teringat ketika Ray tadi menamparnya dengan tanpa perasaan.
Kia mengambil bingkai foto yang dia letakkan di atas meja lampu tidur. "Apa aku mampu bertahan dengan kamu jika kepercayaanmu padaku saja sudah semakin menipis, Mas?" Kia mengelus bingkai gambar yang mana itu adalah foto pernikahan mereka.
"Aku tau aku tidak bisa hamil, dan aku—" Kiara membekap mulutnya sendiri.
Dia segera beranjak dari ranjang lalu berlari ke mandi.
"Ya Allah, kenapa perutku rasanya tidak enak? Kepalaku juga sedikit pusing." Kia memijit pelipisnya.
Dengan langkah gontai, Kia berjalan keluar dari kamar mandi. Matanya terpejam sesaat dan perasaannya terus saja ingin muntah, dia berpikir jika saat ini dirinya sedang masuk angin.
Kia menatap koper yang ada di atas lemari, dia segera berjalan untuk mengambilnya.
__ADS_1
"Salah satu dari kami memang harus mengalah.." gumam Kia dengan rasa sesak di dada.
Kia menggeser kursi untuk membantunya mengambil koper itu. Setelah koper berhasil diambil, Kia pun membawanya ke ranjang.
Dia mulai membuka koper dan mengambil seluruh pakaiannya dari dalam lemari.
Beberapa saat kemudian, Kiara selesai membereskan semua barang-barangnya.
Kia mengambil buku dan pulpen, dia duduk di meja rias lalu mulai membubuhkan kata di selembar kertas.
'Mas, maaf jika aku pergi tanpa berpamitan. Aku sadar aku terlalu banyak kekurangan untuk dirimu yang sudah sempurna, jangan tanyakan mengapa aku pergi karena jawabannya adalah dirimu. Kamu sudah tidak lagi memiliki rasa percaya padaku, kamu bahkan tega menampar aku hanya karena kesalahan yang sama sekali tidak pernah aku lakukan. Disitu tanpa sengaja ataupun sadar kamu mengatakan bahwa aku tidak lebih baik dari Mbak Meysa. Kamu hanya mendengarkan alasan dari satu pihak saja, kamu tidak mendengar penjelasan dariku ataupun melihat sendiri kebenarannya itu bagaimana. Aku merelakan kamu hidup bersama dengan Mbak Meysa, Mas. Aku sudah tidak tahan hidup seperti ini. Kamu selalu saja menyalahkan aku, kamu tidak adil. Akulah yang sudah memulai semua ini dan aku juga yang akan mengakhirinya, aku berdoa semoga kamu selalu bahagia dan jangan pernah mencariku. Mungkin aku akan membawa sesuatu yang sangat berharga bagimu, tetapi lupakan karena itu sepertinya hanya khayalanku saja. Aku pergi, ini pilihan kita berdua, jalan pikiran kita sudah sangat berbeda. Maaf jika aku mempunyai salah, ceraikan aku dan menikahlah dengan Mbak Meysa, semoga kamu tidak pernah menyesal dengan pilihanmu itu, Mas.' (isi surat yang Kiara tulis untuk Raymond.)
•
•
•
**TBC
__ADS_1
HAPPY READING
MOHON SELALU UNTUK DUKUNGANNYA 🙏🏻**