
Raymond telah sampai dirumah, dia bergegas masuk ke dalam dan mencari istrinya.
"Sayang, Kiara!" Ray berteriak sekencang mungkin ketika melihat rumahnya yang tampak sepi.
"Kiara, kamu dimana?" teriak Ray untuk kesekian kalinya. Dia menelusuri setiap sudut rumah tetapi tidak menemukan Kiara. Khawatir? Tentu saja, Raymond takut terjadi sesuatu dengan istrinya.
"Huft, dimana mereka?" Raymond menyugar rambutnya dengan kasar.
Ray berniat untuk ke kamar, dia berpikir barangkali ada petunjuk dimana istrinya saat ini. Namun, baru saja menginjakkan kaki di tangga pertama, suara ketukan pintu membuat Ray mengurungkan niatnya. Dia berbalik arah dan membuka pintu rumah.
Dirinya terkejut melihat tetangga yang datang dengan wajah khawatir.
"Maaf, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" Ray tetap bertanya sopan.
"Tuan, istri Anda—" wanita paruh baya itu menarik napasnya dalam dalam sebelum bicara kembali.
"Ada apa dengan istri saya?" Ray pun ikut larut dalam kekhawatiran.
"Istri Anda sedang ada di rumah sakit.''
"Apa! Kenapa, kenapa istri saya bisa berada dirumah sakit, Nyonya?"
"Dokter mengatakan jika istri Anda harus menjalankan operasi."
__ADS_1
"Operasi persalinan? Bukannya usia kandungan istri saya baru jalan delapan bulan?"
"Maaf, Tuan. Usia kandungan tidak menjamin persalinan itu kapan, saat ini bayi Anda bisa dikatakan prematur. Anda harus segera ke rumah sakit, Tuan. Istri Anda membutuhkan semangat dari Anda."
"Lalu, dimana putra saya?"
"Dia ada dirumah saya! Tidak masalah, Tuan. Anda jangan risau, saya akan menjaga Rayyan, yang penting sekarang Anda harus segera pergi ke rumah sakit untuk memberikan semangat pada Nyonya Kiara."
"Baiklah, terima kasih, Nyonya Vero." Raymond berlari ke mobil dan dia masuk ke dalam sana lalu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Pikirannya saat ini benar-benar khawatir dengan Kiara.
Beberapa menit kemudian, Ray telah sampai dirumah sakit. Dia langsung bertanya pada perawat yang ada disana. Setelah menjelaskan dan mendapatkan jawaban, Raymond berlari menuju ruang operasi.
Di depan pintu, terlihat Kiara sedang berjalan pelan pelan sambil memegangi perutnya, sungguh ini sangat menyakitkan.
Kiara menoleh, dia tersenyum lega ketika melihat wajah suaminya.
"Mas,"
Mereka berdua berpelukan, Raymond mengelus perut Kiara, dia menatap wajah pucat nan berkeringat milik istrinya itu.
"Sayang, maafkan aku. Tadi di kantor ada meeting hingga aku mengabaikan ponselku."
"Sudahlah, Mas. Tidak perlu di bahas, perutku sakit sekali."
__ADS_1
"Dimana Dokternya? Hah! Kenapa dia membiarkan istriku kesakitan seperti ini?"
"Dokter sedang menyiapkan ruang operasi, syukurlah kamu cepat datang sebelum semuanya dimulai."
"Kamu harus semangat, Sayang. Aku akan selalu mendampingi kamu,"
Kiara hanya mampu mengangguk.
"Mas, jika nanti terjadi sesuatu denganku, apa kamu akan—"
"Sst! Tidak boleh bicara seperti itu. Pikirkan hal positif, aku, Rayyan, dan bayi kita ini masih memerlukan dirimu. Kami sangat menyayangi dan mencintaimu, kamu harus kuat dan jangan berpikir buruk."
"Terima kasih, Mas."
Dokter memanggil Kiara dan meminta wanita itu agar masuk ke dalam ruangan. Raymond menuntun istrinya secara pelan, dia harus setia berada di samping Kiara.
Setelah berada di dalam ruangan, tahap demi tahap Kiara lalui. Dia rela berjuang demi kelahiran sang buah hati.
Raymond berada tepat di atas kepala Kiara, dia tersenyum manis sambil mengelus pucuk kepala Kiara dan mencium keningnya.
"Sayang, aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu. Percayalah, semuanya pasti akan berlalu dengan mudah."
Kiara kembali mengangguk, keningnya dipenuhi keringat dingin. Meksipun ini bukan kelahiran bayi pertama, tetapi dia tetap merasakan gugup dan takut.
__ADS_1
{Bersambung}