Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #151


__ADS_3

Setelah kepergian Yola, Reva langsung membuka suara.


"Pa, apa dia gadis yang papa dan mama ceritakan waktu itu?"


Kiara mengangguk. "Kamu menyukainya, Nak? Bagaimana jika dia menjadi kakak iparmu?"


"Reva sangat setuju, Ma. Kelihatannya dia berasal dari keluarga baik-baik, maka dari itu sifatnya sangat ramah dan sopan."


"Mama juga yakin, maka dari itu Mama ingin mendekatkan kakakmu dan juga Yola."


"Setuju, Reva mendukung Mama."


Raymond hanya menyimak pembicaraan antara istri dan putrinya, dia hanya bisa mengikut saja karena tentunya semua demi kebaikan Rayyan.


Tak lama kemudian, Yola telah kembali membawa mangkuk berisi bubur ayam. Wanginya sangat menggugah selera. Yola meletakkan nampan berisi tiga mangkuk di atas meja.


"Om, Reva, silakan dicoba. Mungkin tidak seenak seperti bubur yang pernah kalian makan, tetapi saya membuatnya dengan senyuman dan bahagia."


Mereka semua tertawa bersamaan. Lalu, Reva dan Raymond mengambil jatah mereka masing-masing. Sementara Yola, gadis itu mengambil mangkuk milik Kiara.


"Tante, biar Yola suapi, ya?"


Kiara mengangguk. Dia mulai melahap bubur ayam buatan Yola, ternyata sangat enak, gurih, dan lezat. Semuanya terasa pas.


"Eum, ini sangat enak sekali, kak. Besok Reva ingin belajar memasak bersama kakak.


"Boleh, kakak akan mengajarimu."


Pikiran Kiara terasa tenang melihat kebahagiaan seperti ini, tetapi semuanya kembali lagi pada Ray. Jika Kiara memaksa dan Ray menolak, maka semuanya tidak akan terjadi. Usahanya pasti sia-sia.


Dari kejauhan, Ray tersenyum melihat keluarganya yang sangat akrab dengan Yola. Bahkan ada rasa tenang tersendiri ketika Yola menyuapi Kiara. Gadis itu memperlakukan Kiara dengan sangat baik.


Ray berjalan mendekati keluarganya. "Halo, apa ada yang mengingat seorang Ray William? Pria tampan, gagah, dan baik hati ini?"


Semua mata menatap ke arah Ray yang terlihat bahagia.


"Kak, apa kau baru saja mendapatkan undian?"


"Memangnya kenapa adikku tersayang?" Ray duduk di sebelah Reva.

__ADS_1


"Kau terlihat bahagia hari ini, bukankah biasanya wajahmu selalu kau tekuk seperti pakaian kusut?" ejek Reva sambil tertawa.


Ray mengambil sendok dan menyumpal mulut Reva menggunakan bubur ayam.


"Kurang ajar sekali." decak Reva berbicara sambil mengunyah.


Rayyan terkekeh geli, pandangannya terhenti pada Yola. Gadis itu masih sibuk menyuapi Kiara tanpa menghiraukan dirinya. Ray berpikir jika Yola masih marah padanya.


Ray bangkit dari tempat duduk, dia mendekati Yola.


"Apa aku boleh duduk disini?" Ray iseng bertanya.


"Terserah Anda ingin duduk dimana, Tuan." jawab Yola tanpa memikirkan orang-orang disekitarnya.


Reva yang mendengar itu hanya tertawa kecil dan berhasil membuat Ray kesal.


"Yola, aku juga menginginkan bubur ayam itu."


"Di dapur masih ada tersisa, Tuan. Anda bisa mengambilnya disana."


"Tapi, aku mau kamu yang menyuapi."


"Ehem, sepertinya Reva butuh minum, Ma. Reva masuk ke dalam duluan, ya?" Reva yang paham langsung pergi dari sana.


"Yola, Tante sudah kenyang." Kiara melirik Raymond. "Pa, ayo kita masuk ke dalam. Temani Mama istirahat.''


Raymond beranjak dari tempat duduknya, dia mendorong kursi roda milik Kiara masuk ke dalam rumah.


Saat ini tinggallah, Rayyan dan Yola yang ada disana. Gadis itu ingin ikut pergi tetapi dicegah oleh Rayyan.


"Kau mau kemana?"


"Saya harus mencuci bekas bubur ini, Tuan."


Rayyan mengambil nampan dari tangan Yola, dia lalu meraih jemari Yola dan memiringkan duduknya.


"Yola, tatap mataku. Lihat apakah ada ketulusan disana atau tidak."


Yola menatap manik mata indah milik Rayyan.

__ADS_1


"Pertemuan pertama kita sangat tidak terduga, kau menjadi kekasih sewaanku, lalu kita bertengkar hanya karena barang peninggalan dari masa laluku. Sangat unik bukan? Kau juga mengetahui isu yang beredar jika aku itu dianggap sebagai penyuka sesama jenis."


"Tuan apa yang sebenarnya ingin Anda katakan?"


"Aku sudah pernah kehilangan cintaku untuk selama-lamanya, dan kali ini aku tidak ingin kehilangan cintaku untuk kedua kalinya.''


Yola mengerutkan dahi.


"Yola, aku tidak tahu perasaan apa ini. Tapi intinya aku sangat nyaman jika berada di dekatmu, hatiku tenang jika mendengar suaramu, kesedihanku hilang jika kau ada di sampingku, apa mungkin ini cinta? Rasa takut kehilangan juga ada dihatiku, maka dari itu aku ingin kau menjadi bagian dari cerita hidupku."


Yola terkejut, dia berpikir terlebih dahulu sebelum ada kesalahpahaman.


"Tuan, Anda melamar saya?''


Ray mengangguk yakin. "Kau benar, Yola. Untuk saat ini saya ingin kau menyetujui lamaran saya, setelah itu saya akan datang melamarmu secara resmi di depan ibumu."


Yola bingung harus menjawab apa, Sejujurnya dia juga memiliki perasaan yang sama seperti Rayyan. Baru kali ini ada pria yang selalu merasuki pikirannya dan membuatnya mengerti, apa itu arti rindu dan kenyamanan berada di samping seorang pria selain ayahnya.


"Tuan, saya—"


"Terima, terima, terima." teriak Kiara dan Reva yang berada di belakang tempat duduk Yola, gadis itu menoleh, dia tersipu malu.


Yola mengangguk pelan, dia akan mencoba untuk menjalin hubungan dengan Rayyan. Meskipun keterbatasan sosial yang sangat jauh, tetapi keluarga Ray tetap menerima Yola dengan tangan terbuka. Karena, dulu Kiara pernah merasakan berada di posisi Yola. Dia adalah gadis sederhana yang tinggal di sebuah desa.


Reva berlari, dia memeluk tubuh Ray dan bersorak riang.


"Akh, akhirnya bujang lapuk ini mengakhiri masa lajangnya. Aku bahagia sekali kakak,'' ucap Reva asal.


Pletak.


Reva mengelus dahinya yang disentil oleh Rayyan. "Kau ini ingin mengucapkan selamat atau mengejek?" gurau Ray membuat wajah Reva bersemu merah.


"Keduanya, sudahlah lupakan! Intinya aku sangat bahagia karena kakakku akan melepas masa lajangnya."


Raymond menggenggam jemari Kiara, kedua orang tua itu terlihat sangat bahagia. Tidak terasa semuanya berjalan dengan sangat cepat, kini mereka semakin tua dan anak-anak mereka satu persatu akan menemukan jodohnya masing-masing.


{**Bersambung**}


__ADS_1



__ADS_2