Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #148


__ADS_3

Pagi hari pun tiba, cuaca sangat cerah dan kebetulan ini adalah hari weekend. Kiara meminta agar Yola segera datang ke rumah, wanita paruh baya itu ingin mengajak Yola pergi jalan-jalan.


Setelah berada di rumah William, Yola pun memutuskan untuk membantu Bibi membereskan rumah terlebih dahulu sambil menunggu semuanya selesai bersiap.


"Bi, apa Tuan Ray sudah bangun?"


"Bibi rasa sudah, Nona. Apa Nona Yola ingin membersihkan kamarnya?"


"Iya, Bi. Bolehkan?"


"Pergilah, Nona."


Yola berjalan menaiki anak tangga, gadis itu mengetuk pintu kamar Rayyan terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam sana.


"Tuan, apa saya boleh masuk? Saya ingin membereskan kamar Anda."


"Masuklah! Saya ingin mandi."


Yola membuka pintu, dia melihat ke sekeliling kamar milik Rayyan. Sangat mewah dan berbau maskulin. Dia mulai membersihkan tempat tidur Ray, lalu beralih menyapu debu yang ada dia atas meja. Tanpa sengaja, kemoceng yang Yola pegang menjatuhkan sesuatu. Gadis itu terkejut setengah mati ketika melihat jam kesayangan Ray terjatuh di atas lantai. Bahkan menjadi pecah.


Yola berjongkok, dia mengambil jam tangan itu. "Ya Tuhan, bisa habis aku kalau Tuan Ray mengetahuinya." ucapnya ketar-ketir.


Tak lama kemudian, Ray keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan kaos tanpa lengan dan celana pendek. Dia melihat Yola yang memegang sesuatu, gadis itu terlihat kebingungan.


"Apa yang kau pegang?"


Yola mendongak dan pandangan mata Ray tertuju pada jam tangan pemberian dari almarhumah istrinya. Dia mendekati Yola dan mengambil paksa Jam itu. Matanya terlihat memerah, raut wajahnya sangat menyeramkan.


"Apa yang sudah kau lakukan? Kenapa jam ini bisa pecah dan hancur?"


"T—tuan, s—saya, saya tidak senga—"


"Sudah berapa kali saya katakan, jangan menjadi gadis ceroboh! Lihat, ini jam kesayangan saya dan pemberian dari almarhumah calon istri saya! Selama ini, saya menjaganya dengan baik bahkan tidak ada satu orangpun yang boleh menyentuhnya, siapapun itu tidak ada yang boleh!" teriak Ray marah, untung saja kamarnya kedap suara jadi tidak akan ada yang bisa mendengar kemarahan itu.

__ADS_1


"Hal yang selama ini saya jaga dengan baik malah kau hancurkan dalam hitungan menit. Kau tau, jam ini juga sangat mahal dan orang miskin sepertimu tidak akan bisa menggantinya!" ucap Ray dipenuhi emosi.


Yola terperangah, dia menatap mata Ray yang memancarkan kemarahan. Perlahan air mata menetes tanpa izin, Yola menyekanya dengan cepat. Dadanya terasa sesak ketika Ray mengatakannya orang miskin, Yola tidak akan sedih jika dirinya dicaci maki, tetapi dia menjadi lemah ketika ada yang mengatakan masalah kehidupannya.


"Saya memang orang miskin, Tuan. Dan saya akan berusaha untuk mengganti barang itu. Saya tidak sengaja menyenggolnya dan menjatuhkan jam Anda." ucap Yola dengan suara bergetar.


"Gadis miskin sepertimu tidak akan mampu membeli jam semahal ini." ucap Ray kesal melihat wajah Yola. "Pergi! Keluar dari kamar saya!" usirnya membuat napas Yola terasa tercekat.


Yola berlari keluar dari kamar Rayyan, dia meneteskan air mata dan berniat untuk pulang ke rumah. Dirinya tidak akan mau lagi berurusan dengan keluarga Rayyan. Penghinaan yang Ray katakan membuat hatinya sangat sakit.


Kiara yang baru saja keluar dari kamar terkejut melihat Yola yang menangis setelah keluar dari kamar Ray.


"Yola! Yola kamu mau kemana?" Kiara memanggil tetapi tidak digubris oleh Yola. Gadis itu tetap berlari pergi dari sana.


Kiara yang penasaran langsung ke kamar Ray, dia membuka pintu dan melihat Ray yang duduk di atas ranjang sambil memegangi jam tangannya.


"Ray, ada apa dengan Yola? Mama lihat tadi dia menangis dan berlari keluar dari rumah."


"Ma, mulai saat ini jangan pernah meminta gadis itu untuk datang kesini lagi."


Ray memperlihatkan jam tangannya.


"Bukannya ini jam pemberian dari Almarhumah?''


"Benar, Ma. Dan gadis itu sudah menghancurkannya. Selama ini Ray menjaganya dengan baik, tetapi dia baralasan tidak sengaja merusak jam Ray."


"Lalu?"


"Ray mengusirnya dan mengatakan jika dia tidak perlu lagi datang ke rumah ini atau pun ke kantor."


Kiara cukup sedih mendengar penuturan dari Rayyan, dia tahu jika Ray sangat menyayangi jam tangan itu bahkan siapapun tidak boleh menyentuhnya. Namun, ini hanya masalah sepele dan Ray malah menyia-nyiakan gadis baik seperti Yola hanya karena masa lalunya yang sudah tenang di alam lain.


"Kenapa kamu mengambil keputusan tanpa berpikir terlebih dahulu, Ray?"

__ADS_1


"Ray sudah yakin dengan keputusan Ray, Ma."


Kiara hanya bisa pasrah, weekend ini membuatnya sangat sedih karena masalah sepele.


****


Yola sudah sampai di rumah, tanpa menyapa sang ibu, gadis itu langsung masuk ke dalam kamarnya.


"La, Yola! Kenapa kamu sudah pulang, Nak? Apa kalian tidak jadi pergi?''


Yola terisak di dalam kamarnya. ''Bu, Yola ingin sendiri." ucapnya membuat sang Ibu heran.


"Ada apa dengannya?'' ibu pun menjadi kepikiran.


Yola menutup wajahnya menggunakan bantal, perkataan yang Ray lontarkan masih membekas di hatinya. Dia memukul dadanya yang terasa sesak.


"Kenapa sangat menyakitkan? Ternyata semua orang kaya sama saja, mereka menyepelekan orang miskin sepertiku! Tidak ada yang ingin hidup miskin, semua ini sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa."


"Aku tidak menyangka jika Tuan Ray bisa berkata kasar seperti itu. Dia sangat mencintai masa lalunya hingga tidak menghargai perasaan orang lain yang terluka akan perkataannya."


Yola masih menangis, dia menghapus air matanya ketika mendengar ketukan pintu. Gadis itu membuka pintu, dan ibu sudah berdiri di depan sana.


"Nak, kamu kenapa? Kamu menangis? Siapa yang membuat anak ibu bersedih?"


Yola memeluk tubuh ibunya, dia kembali menangis di dalam pelukan sang Ibu.


"Bu, Yola sudah tidak lagi bekerja di rumah Tuan Ray. Ada sedikit masalah dan Tuan Ray saat ini marah besar pada Yola."


"Ada apa, Nak? Katakan pada Ibu." Ibu menangkup wajah Yola, dia menghapus air mata menggunakan Ibu jarinya.


Yola mulai menceritakan yang terjadi di rumah Ray tadi, tetapi gadis itu tidak mengatakan jika Ray mengatakannya gadis miskin. Yola tidak ingin sang ibu menjadi tidak suka pada Ray.


"Kamu harus sabar, Nak. Mungkin bukan rezeki kamu bekerja disana, masih banyak tempat lain untukmu mencari pekerjaan."

__ADS_1


Yola mengangguk paham.


{**Bersambung**}


__ADS_2