Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab #52


__ADS_3

Kiara yang saat itu tengah berada di balkon kamar langsung tersenyum ketika melihat mobil sang suami yang baru saja sampai di halaman rumah. Tanpa menunggu suaminya keluar dari mobil, Kia langsung bergegas pergi dan berlari kecil menuju pintu utama untuk menyambut sang suami.


Ceklek


Pintu utama Kia buka, senyum yang tadi terpatri perlahan luntur karena melihat Raymond datang bersama dengan Meysa.


“Apa kami boleh masuk?” Ray langsung bersuara ketika melihat Kiara yang hanya diam.


Kia mengangguk dan memberikan jalan kepada Ray juga Meysa.


“Kia, kamu tidak keberatan jika aku berada di rumah ini bersama dengan Ray ‘kan?”


Kia menggeleng.


“Baguslah.” Meysa tersenyum senang.


“Ray, katakan dimana kamarku? Aku ingin istirahat.” Mey memegang lengan Raymond.


“Di sana.” tunjuk Ray ke kamar yang berada di ujung.


Meysa hanya mengangguk tanpa protes.


Setelah Mey pergi, Kia langsung menatap


Ray.


“Mas, tumben Mbak Mey ikut ke sini?”


Ray menghela nafas dan berjalan ke sofa.


“Dia sedang hamil.” ucap Ray seraya mendudukkan diri di sofa.


Kiara terperangah mendengar ucapan Ray.


“Benarkah? Kamu tidak berbohong, Mas?” Kia duduk di sebelah Raymond.


Ray pun menggeleng. “Dia ikut ke rumah ini karena di rumah Mama tidak ada yang menjaganya, aku juga khawatir jika nanti terjadi sesuatu pada kandungan Mey kalau aku meninggalkannya sendirian di rumah.”


“Jadi, maksud kamu Mbak Mey akan tinggal bersama kita?”


Ray mengangguk.

__ADS_1


“Kia, aku mohon ijinkan Meysa tinggal bersama dengan kita. Bayi yang ada di dalam kandungannya adalah anak kamu juga nanti. Meskipun aku selalu berdoa agar kamu menyusul cepat hamil,” jelas Ray .


Kia hanya terdiam seribu bahasa.


“Apa ada alasan untukku menolak, Mas?”


Ray hanya menghembuskan nafas pelan.


“Baiklah, aku hanya tidak ingin kamu dan Mey bertengkar jika kalian satu rumah. Mey sedang mengandung, aku yakin hormon kehamilan akan membuat sifatnya berubah-ubah.”


“Aku mengerti.” Kiara sadar jika dia belum bisa memberikan Ray keturunan, maka dari itu Kia hanya mencoba ikut menjaga kandungan Meysa.


“Ayo kita ke kamar, aku ingin mandi dan ber-manja denganmu.” Ray tersenyum sembari melirik Kiara.


Kiara membalas senyuman itu dan mereka beranjak dari sofa lalu pergi menuju kamar yang tak jauh dari kamar milik Meysa.


**


Pukul 21.00Wib


Mey tidak bisa tidur karena memikirkan tentang Ray.


“Aku yakin saat ini Ray dan gadis kampung itu pasti sedang memadu kasih, tidak boleh... Aku tidak akan membiarkannya.” Meysa segera bergegas keluar dari kamar.


Ray tengah merambat di atas tubuh Kia, menikmati buah melon kesukaannya serta sesekali memberikan lum*tan dibibir Kiara .


Saat aktivitas mereka mulai memanas, tiba-tiba pintu diketuk dari luar.


Tok tok


“Ray! Raymond, buka pintunya..” teriak Meysa dari luar.


Kia dan Ray hanya saling pandang sembari menghentikan aktivitasnya.


“Mas, itu suara Mbak Meysa. Lebih baik kamu buka aja dulu pintunya, aku akan memakai pakaian terlebih dahulu.”


“Biarin ajalah, sayang.. Mungkin dia sedang suntuk, kita selesaikan dulu ritual ini baru aku akan membuka pintunya.” ujar Ray kepada Kiara.


Kia hanya tersenyum dan mengangguk.


Ray mulai memasukkan tongkat sakti nya ke dalam kantong semar milik Kiara.

__ADS_1


******* berhasil lolos dari bibir mungil milik Kia, dua insan itu tidak menghiraukan ketukan pintu yang berkali-kali terdengar.


Pintu pun semakin kencang diketuk.


“Ray! Buka pintunya!!!” teriak Meyda semakin berteriak.


Ray tidak peduli dan terus memacu kuda, hingga pada akhirnya dia menyerah ketika pintu terus-terusan diketuk dan dia gagal fokus.


“Argh! Sial, berisik banget sih Meysa.” Kesal Ray dengan mencengkram sprei.


“Ya udah kamu buka aja dulu pintunya, Mas. Barangkali Mbak Mey butuh sesuatu.”


Ray mencabut tongkat saktinya dan memakai kembali pakaiannya, dia turun dari ranjang lalu pergi membuka pintu kamar.


Ceklek


“Ada apa sih Meysa?” tanpa basa basi, Ray langsung bertanya.


“Aku mau tidur sama kamu..” rengek Meysa dengan manja.


“Tapi malam ini jatah nya aku tidur bersama dengan Kiara.” Ujar Ray dengan hati dongkol.


“Tapi aku mau perut ku di elus,” Meysa memegang lengan Raymond.


Kiara muncul di belakang Ray.


“Ada apa, Mbak Mey?”


Meysa melirik Kia. “Aku ingin tidur bersama dengan Raymond.”


Kia hanya menatap Ray sejenak.





**TBC


HAPPY READING

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN MANISNYA, TERIMA KASIH BANYAK 🙏🏻**


__ADS_2