Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #99


__ADS_3

Siang hari pun tiba, sejak sampai di kantor tadi pagi, pikiran Jimmy tidak pernah tenang karena dia terus saja memikirkan Elsa. Bekerja pun tidak fokus hingga pada akhirnya, Jimmy memutuskan untuk pergi ke tempat kerja Elsa.


"Aku tidak peduli jika kamu masih marah, Elsa. Intinya aku akan terus membujukmu dan menemuimu. Aku tidak tahan terus-menerus seperti ini. Aku tidak bisa," gumam Jimmy sambil berjalan menuju parkiran.


Jimmy melajukan mobilnya ke tempat tujuan, tak lama kemudian dia telah sampai di tempat kerja Elsa. Tanpa rasa malu atau canggung, Jimmy segera masuk ke dalam sana. Dia bertanya terlebih dahulu pada security apakah Elsa ada di dalam atau tidak.


Setelah security mengatakan Elsa berada di dalam, Jimmy pun bergegas menemui Elsa.


Di sisi lain, Elsa yang sedang berbincang dengan rekan kerjanya tak menyadari kedatangan Jimmy.


"El, bukannya itu —"


Elsa menoleh ke arah Helena menunjuk.


"Tuan Jimmy, kenapa dia datang tanpa mengabariku terlebih dahulu?" gumam Elsa dan langsung berjalan menghampiri Jimmy.


Saat mereka sudah berhadapan, Jimmy tersenyum manis. Dia menatap wajah cantik Elsa yang satu hari ini tidak memberikan senyum manis padanya.


"Kenapa kau berada disini?"


"Aku sengaja ingin menemuimu. Ini sudah jam istirahat, bagaimana jika kita pergi keluar dan makan siang bersama? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu."


Elsa menoleh ke arah teman-temannya. Dia merasa tidak enak karena sudah membuat janji untuk makan siang bersama dengan temannya.


"Aku rasa nanti malam saja, hari ini aku sudah ada janji untuk makan siang bersama dengan mereka."


Jimmy paham akan alasan itu, dia tersenyum manis dan mengelus pucuk kepala Elsa.


"Tunggulah disini." ucap Jimmy lalu berjalan menuju ke tempat dimana teman-teman Elsa berkumpul.

__ADS_1


"Apa yang ingin dia lakukan?" gumam Elsa mengikuti Jimmy dari belakang.


Setelah berada di dekat meja teman Elsa, Jimmy pun menyapa mereka dengan sopan tanpa melihat adanya perbedaan kasta.


"Halo semuanya, apa saya mengganggu kalian?"


Keempat teman Elsa menatap ke arah Jimmy, tentu saja mereka terpesona dengan ketampanan dan kewibawaan pria itu. Tetapi, keempatnya sadar jika pria tersebut sudah menjadi milik Elsa.


"Tidak, Tuan. Anda sama sekali tidak menganggu. Apa ada yang bisa kami bantu?" Helena bertanya dengan nada lembut.


"Kekasih saya mengatakan jika dia telah membuat janji untuk makan siang bersama dengan kalian. Tapi, saya juga ingin mengajaknya makan siang karena ada hal penting yang ingin saya bicarakan. Lalu, apakah saya boleh meminjam teman kalian itu sebentar saja?"


Keempatnya saling pandang lalu mereka menatap ke arah Elsa secara bersamaan.


"Tentu saja, Tuan. Kami tidak berhak melarang Elsa, lagipula Anda adalah kekasihnya dan kalian juga ingin membicarakan hal penting."


"Hei, pergilah, Elsa. Masih ada hari esok untuk kita makan siang bersama." sahut Debora.


Elsa pun memutuskan untuk ikut bersama dengan Jimmy. Di dalam hati, dia bertanya-tanya hal apa yang ingin Jimmy bicarakan dan sepenting apa.


Beberapa menit kemudian keduanya sampai di cafe Cemara, tempat makan yang sudah menjadi favorit mereka.


"Ay, katakan apa kamu masih marah denganku atau tidak?"


Elsa menarik napas lalu menggeleng. "Lupakan kejadian kemarin, By."


"Terima kasih. Aku langsung saja pada intinya dan tidak perlu berbelit. Ay, aku tidak ingin kehilanganmu hanya karena hal sepele. Aku sangat mencintaimu, aku ingin kita berdua segera menikah."


Bola mata Elsa membulat, bibirnya sedikit terbuka karena mendengar penuturan dari Jimmy barusan.

__ADS_1


"M—menikah?"


Jimmy pun mengangguk yakin. "Secepatnya, aku akan membicarakan hal itu dengan kedua orang tuaku."


'Bagaimana mungkin, sedangkan aku yakin jika Mama Jimmy tidak menyukaiku. Apa dia akan memberikan restu semudah itu?' batin Elsa bimbang.


"Apa yang kamu pikirkan, Ay?"


Elsa terkejut dan tersadar dari lamunannya. "Em, apa tidak terlalu terburu-buru?"


"Hei tentu saja tidak, Sayang. Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Kita saling mencintai, setelah kita sudah resmi bersama, aku yakin tidak akan ada yang bisa memisahkan kita berdua. Percayalah padaku."


Elsa terdiam untuk berpikir, jujur dia sangat takut kehilangan Jimmy tetapi jika dia menikah dengan Jimmy, apakah mentalnya sudah siap untuk menghadapi sang ibu mertua? Sangat sulit.


"Sayang, aku menginginkan jawaban darimu. Jika kamu butuh waktu untuk berpikir, maka aku akan memberikannya. Kamu tidak perlu jawabnya sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu ketulusanku dan aku menjalin hubungan ini agar kita bisa ke jenjang yang lebih serius dan bukan hanya sekedar main main."


Elsa paham akan hal itu, dia tersenyum manis sambil menatap wajah Jimmy.


"Aku harus memikirkannya terlebih dahulu, By. Pernikahan bukan soal sepele dan hanya sebentar saja. Kita menjalaninya seumur hidup, bahkan harus siap menerima watak pasangan masing-masing."


"Aku paham, Ay. Keputusanku sudah final, aku ingin kita segera menikah. Aku akan menunggu jawaban darimu, aku mohon jangan terlalu lama untuk berpikir."


Elsa mengangguk. "Aku pasti akan segera memberikan jawaban."


Keduanya saling melempar senyum dan Jimmy pun segera memesan makan siang sebelum jam istirahat habis.


{Bersambung}


__ADS_1


__ADS_2