
Pagi hari.
Kia telah bersiap untuk pergi bersama dengan Rara ke arisan sosialita, sebenarnya Rara tidak ingin mengajak Kia tetapi Ray memaksa agar Rara mau mengajak menantunya untuk bisa diperkenalkan oleh para sahabat Rara.
Ray sangat percaya jika sang Mama tidak akan membuat Kia malu di arisan nanti, Ray juga meminta Mamanya agar berjanji untuk tidak mempermalukan Kiara nanti.
"Aku pergi dulu ya?" Ray mengecup dahi Kia dan segera keluar dari kamar.
Kia duduk di meja rias dan mengoles bibir mungilnya menggunakan lipglos berwarna nude.
"Selesai." ucapnya sembari berdiri dan menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin. "Semoga aja nanti aku gak malu-malu'in Tante Rara," Kia yang sangat polos pun percaya saja dengan Rara.
"KIARA!!!" teriak Rara dari lantai bawah.
Kiara terburu-buru keluar dari kamar dengan menjinjing tas selempang nya yang terlihat sangat mewah.
Tak
Tak
Suara heels Kia yang berjalan menapaki anak tangga.
Rara menatap Kia dengan sinis dari atas sampai bawah. "Gadis dari desa tetap saja terlihat kampungan meskipun memakai pakaian yang sangat mahal." sindir Rara seraya melangkah meninggalkan Kiara yang berjalan perlahan mengikutinya.
Kia mendengar dengan jelas apa yang Rara ucapkan mengenai dirinya meskipun suara Rara sangat pelan, tetapi Kia tidak terlalu mengambil hati.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan mobil pun pergi meninggalkan kediaman William.
Empat puluh menit kemudian mobil sudah sampai di restauran mewah pesanan ketua arisan untuk berkumpul geng sosialita mereka.
Rara serta Kiara turun dari mobil.
"Saya minta kamu jangan membuat malu di depan para sahabat saya nanti."
Kia mengangguk, dan mereka segera masuk ke dalam restauran mewah itu.
Ketika sudah berada di dalam.
"Hai jeng..." salah satu anggota arisan berdiri dan menyambut Rara dengan senyum mengembang.
Rara tersenyum dan memeluk tubuh sahabat nya satu persatu.
Rara langsung duduk tetapi tidak dengan Kiara.
"Jeng, bagaimana kabarmu?" tanya ketua arisan.
__ADS_1
"Aku sedikit tidak baik, kalian tahu jika kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidup kita itu sangat berat'kan?" Rara menunduk.
"Yang sabar ya, Jeng. Kami semua akan mencoba menghibur kamu disini,"
"Terima kasih Jeng, Farah." sahut Rara dengan senyum tipis.
Farah melirik ke arah Kiara.
"Jeng, apa dia istrinya Raymond?"
Rara melirik Kia sejenak dan kemudian mengangguk guna menjawab ucapan Farah.
"Cantik ya? Imut lagi, kenapa gak duduk nak? Ayo sini duduk," Farah menepuk tempat duduk yang masih kosong disebelahnya.
Kia ingin melangkah tetapi gerakannya terhenti karena sebuah suara.
"Tante Rara!" Meysa melambaikan tangan ketika sudah dekat dengan meja Rara dan teman-teman.
Semua menoleh ke asal suara.
Rara langsung tersenyum ketika melihat Mey yang akhirnya datang tepat waktu. 'Sesi selanjutnya akan dimulai, gadis kampung. Aku tidak akan membiarkan kamu hidup bahagia bersama dengan Putraku.' Rara tersenyum sinis tanpa ada satupun dari mereka yang menyadari.
Mey berjalan menghampiri Rara dengan langkah anggun dan dia melewati Kia begitu saja tanpa menyapa atau tersenyum sedikitpun.
Rara dan Mey cipika cipiki.
"Sini duduk, sayang." Rara langsung menggeser duduknya untuk memberikan tempat kepada Meysa.
"Maaf ya Tante-tante sekalian, aku tidak menganggu acara kalian bukan?" Mey mengumbar senyum.
"Tentu tidak." sahut sang ketua arisan yang bernama Fatmah.
"Mey, sedang apa kamu berada disini?" Rara pura-pura bertanya, padahal sebenarnya dialah yang menghubungi Meysa agar datang ke restauran tempatnya mengadakan arisan.
"Tadi sebelum pergi ke kantor, Mey lupa sarapan dan karena jalan ke kantor melewati restauran ini, berhubung perut Mey juga lapar jadi Mey berpikir mampir untuk sarapan dulu. Gak nyangka juga bisa ketemu Tante disini.'' ucap Mey berbohong.
Semua hanya mengangguk.
"Kiara, kamu gak duduk? Duduk sini, kita ngobrol bareng," ujar Mey berpura-pura baik.
Kia ingin berbicara tetapi Rara dengan cepat mendahuluinya.
"Dia tidak perlu duduk." ucap Rara tidak suka.
Kia hanya bisa pasrah.
__ADS_1
"Oh ya, Jeng. Meysa ini bukannya calon istri Ray dulu ya, sebelum Ray kecelakaan?" Susan yang terkenal tukang kepo sedunia langsung bertanya.
Rara tersenyum senang karena akhirnya dia dapat cela untuk mempermalukan Kiara.
"Benar, Jeng. Saya sudah terlanjur bahagia ketika Ray akan menikah dengan Meysa, tetapi takdir berkata lain. Raymond malah menikahi gadis kampungan yang berasal dari desa."
"Istri Raymond pendidikannya apa? Orang tua nya berkerja apa?" Susan semakin menjadi.
"Dia itu SMA juga paling gak tamat, kerjaannya cuma pemetik daun teh dan... Orangtuanya sudah meninggal." jelas Rara masih dengan nada tidak suka.
Semua mengangguk.
"Sangat berbeda dengan Meysa ya?" ucap Susan untuk kesekian kalinya.
"Pasti dong, Jeng. Mey adalah gadis yang pintar, tamatan dari luar negeri, dan pemimpin perusahaan Papa nya. Sungguh sangat beruntung jika mendapatkan menantu seperti Mey." Rara membelai rambut Mey dengan lembut.
"Tante, bisa aja. Ya mau bagaimana lagi Tante, Mey dan Raymond memang tidak berjodoh."
"Wah.. Selain cantik, pintar, ternyata kamu juga mempunyai hati yang besar ya Mey? Kamu bisa menerima jika pria yang harusnya jadi suamimu malah menikahi wanita lain." ucap Fatmah kagum terhadap sosok Meysa.
Meysa hanya membalas dengan senyuman.
Kia yang sama sekali tidak di anggap hanya diam saja, bahkan kakinya terasa perih akibat terlalu lama berdiri dengan heels yang menempel. Bukan hanya kakinya yang perih tetapi juga hatinya, hatinya terluka ketika sang Ibu mertua tega membanding-bandingkan nya dengan Meysa di depan semua anggota arisan. Kia merasa seperti patung yang sama sekali tidak dipedulikan kehadirannya, jangan mengobrol, untuk sekedar duduk saja dia tidak diberi tempat.
"Saya permisi." ucap Kia langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Rara ataupun anggota arisan lainnya.
"Hei! Dasar tidak tau sopan santun.'' decak Rara kesal ketika Kia pergi berlalu.
Kiara menitikkan air mata sembari menundukkan kepala, dia terus berjalan cepat keluar dari restauran dengan tergesa-gesa.
Brugh!
Kiara menubruk seseorang hingga tas yang dia pegang jatuh ke lantai dan barang-barangnya berserakan semua.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN, TERIMA KASIH BANYAK ,🙏🏻**
__ADS_1