
Elsa lantas menegakkan tubuhnya, dia menatap seorang pria yang berada di hadapannya saat ini. Matanya merah menyala, ada rasa sesak di dada yang masih selalu membekas.
"K—kau?"
Pria itu menatap Elsa dengan sendu, dia sangat merindukan gadis cantik tersebut.
"El, kau masih mengingat aku?"
Elsa menggeleng. "Kenapa kau datang lagi? Apa kau belum puas menghancurkan hidupku, mematahkan hatiku?" bentak Elsa dengan kasar.
"El, aku ingin meminta maaf. Kejadian itu, bukan aku yang menginginkannya."
"Bohong! Berhenti berkata manis, Ax!" teriak Elsa, untung saja disana tidak ada satupun orang, karena hari terbilang masih pagi dan semua beraktifitas.
"Aku tidak berbohong, El. Orangtuaku tiba-tiba sudah mengatur rencana pernikahan dan mereka membawaku pergi. Aku tidak bisa menolak karena hanya aku anak laki-laki di dalam keluargaku."
Elsa mengangkat sebelah tangan. "Ax, sulit untuk melupakanmu dan setelah aku berhasil, kau malah datang lagi seperti ini. Apa yang kau inginkan dariku, Ax? Apa belum cukup kau meninggalkanku waktu itu?" ucapnya bernada sedih.
Axton menunduk, jujur dia sangat sedih melihat Elsa saat ini. Kenangan indah mereka berdua tidak bisa Axton lupakan dengan mudah. Dia masih mencintai Elsa, bahkan selama ini dirinya berpura-pura baik kepada sang mantan istri.
__ADS_1
Axton Ryder, dia adalah pria yang dulunya ingin berkomitmen serius dengan Elsa. Tetapi, sayang sekali saat Axton berniat melamar Elsa, tiba-tiba orang tua Ax mengajaknya pindah ke luar negeri.
Axton sama sekali tidak curiga, dia hanya mengatakan pada Elsa untuk tetap menunggu sebentar. Tetapi, dua Minggu kemudian Elsa mendapat kabar jika Axton sudah menikah dengan gadis lain. Hati wanita mana yang tidak sakit mendapat kebenaran seperti itu.
"El, aku mohon maafkan aku. Aku tidak bisa melupakanmu, aku sudah berpisah dari Angelin."
"Oh, jadi kau kembali karena kau sudah berpisah dari istrimu itu? Wow, hebat sekali! Sangat hebat, Tuan Axton! Tapi maaf, saya bukan Elsa yang Anda kenal seperti dulu." ucap Elsa menekan setiap katanya.
"Aku sadar aku salah, El. Aku bodoh karena telah meninggalkanmu, aku menyesal."
"Ya, penyesalan memang selalu datang di akhir. Jadi, kau harus menerima itu."
"Lalu, apa tidak ada lagi kesempatan untukku?"
Axton mengerutkan dahi.
"Tidak ada kesempatan untuk orang sepertimu, Tuan Axton!" Elsa menunjuk wajah Ax. "Baiklah, jam kerjaku akan segera dimulai. Aku harus pergi." ucapnya ingin melangkah tetapi dia teringat sesuatu. "Oh, ya, Tuan Axton. Beberapa bulan lagi aku akan segera menikah, jadi aku mohon jangan menggangguku! Anda paham?" lanjut Elsa lalu pergi meninggalkan Ax yang diam mematung.
''Dia ingin menikah? Tidak, ini tidak bisa dibiarkan! Aku masih sangat mencintaimu, Elsa. Aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya." Axton menatap lurus ke depan, sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu.
__ADS_1
****
Di kantor, Elsa melamun. Dia sudah berada di mejanya dan terlihat sedang mengerjakan tugas dari sang bos. Namun, bukan tugas yang dia kerjakan melainkan selembar kertas yang dia coret coret hingga tak berupa.
Helen heran dengan sikap Elsa siang ini, tidak seperti biasanya.
''Hei, apa ada masalah?" Helen menepuk pundak Elsa dan dijawab gelengan kecil oleh gadis cantik itu.
"Lalu, kenapa kau diam saja? El, sebentar lagi pak Abraham ingin mengambil dokumen itu dan kau masih belum mengerjakannya?"
"Aku merasa pusing, Hel."
''Kau sakit?"
"Entahlah, aku seperti lemas dan tidak bertenaga."
"Ya sudah, izin pulang saja."
Elsa terdiam, dia seperti ini karena masih memikirkan tentang kedatangan Axton.
__ADS_1
{**Bersambung**}