
Di rumah sakit, Elsa masih setia menemani Jimmy yang terbaring lemas di atas ranjang. Dia menatap wajah pucat Jimmy yang masih tetap tampan. Tak lama kemudian, jemari Jimmy bergerak perlahan dan membuat Elsa sontak beranjak dari tempat duduknya.
"Tuan Jimmy," panggilnya sambil mendekati Jimmy.
Kelopak mata Jimmy berkedut, dia tersadar lalu melihat ke sekeliling hingga matanya terhenti tepat di wajah Elsa. Tiba-tiba senyuman terbit di bibir Jimmy, dia pikir dirinya sudah tiada akibat penusukan yang terjadi.
"Ternyata aku sudah di surga." gumam Jimmy melantur.
Elsa mengerutkan dahi, dia melihat ke sekeliling lalu berpikir keras apa yang telah Jimmy katakan barusan.
"Tuan, Anda masih hidup." ucap Elsa membuyarkan lamunan Jimmy.
"Hah!" Jimmy terkejut, dia melongo dan mengucek matanya.
Elsa tersenyum manis, dia masih teringat pengorbanan Jimmy yang menolongnya tadi.
"Tuan, saya ingin mengucapkan terima kasih karena Tuan sudah membantu saya. Dan saya penyebab Tuan seperti ini, maafkan saya."
Jimmy heran dengan sikap cuek Elsa yang kini telah mencair.
"Hei ada apa denganmu? Kemana sikap dinginmu itu? Hm?"
Elsa menjadi malu, dia menyembunyikan senyumannya.
"Tuan, disaat sedang dalam keadaan sakit pun Anda masih bisa menggoda saya."
"Hei, siapa yang menggodamu? Aku lebih suka sikap dinginmu itu, kamu terlihat manis dan imut."
__ADS_1
"Sudahlah, Tuan. Hentikan ocehan Anda. Bagaimana keadaan Anda? Apa yang Anda rasakan saat ini?"
"Ya, cukup nyeri dibagian perut."
Elsa turut prihatin melihat keadaan Jimmy saat ini. "Apa Tuan ingin makan sesuatu? Saya akan membelikannya untuk Tuan."
Jimmy terdiam, dia berpikir keras ingin memakan apa. "Aku ingin ice cream." ucapnya tanpa ragu membuat Elsa melongo.
"Ice cream? Apa Anda tidak salah? Tuan, Anda baru saja sadar dan dokter bahkan belum memeriksa keadaan Anda. Bagaimana jika saya membelikan Anda bubur ayam?"
Jimmy menghela napas. "Ya sudah, tidak perlu kalau begitu."
"Baiklah, saya akan memanggil Dokter terlebih dahulu, lalu membelikan ice cream untuk Anda." Elsa bergegas keluar dari kamar setelah menyuguhkan senyum manisnya untuk Jimmy.
Baru lima belas detik meninggalkan kamar, Elsa pun kembali lagi dan tentu saja Jimmy sangat heran.
"Saya lupa bertanya ice cream rasa apa yang Tuan inginkan."
"Rasa apa pun yang kamu berikan pada saya, pasti akan saya makan."
Elsa menggeleng. "Ayo katakan Anda ingin ice cream rasa apa,"
"Belikan saya rasa vanila, jika tidak ada gantikan saja dengan rasa cintaku padamu."
"Hah?" Elsa melongo, dia takut salah paham dengan pendengarannya.
"Tidak! Maksud saya, jika tidak ada rasa vanila maka belikan saja rasa cokelat. Jangan lupa, kamu juga harus membelinya untuk dirimu sendiri."
__ADS_1
Elsa mengangguk paham, dia bergegas pergi dari ruang rawat milik Jimmy.
Sepuluh menit berlalu, Dokter sudah memeriksa Jimmy dan dia mengatakan jika keadaan Jimmy telah membaik. Disaat sedang bermain ponsel, terdapat panggilan masuk dan Jimmy segera menjawabnya.
"Iya, halo, Mam." Jimmy menyapa dengan nada malas, dia yakin jika sang Mama menghubunginya pasti ada sesuatu yang beliau inginkan dari Jimmy.
"Jim, kapan kau pulang?"
Terdengar helaan napas berat sebelum Jimmy menjawab. "Aku sedang banyak pekerjaan disini, Mam.
"Ada yang ingin Mami sampaikan, jika bisa dua hari lagi pulanglah."
"Lihat saja nanti, Mam. Aku tidak bisa janji."
"Jimmy ayolah, ini masalah —" ucapan Mami Jimmy terputus karena suara Elsa.
"Tuan, saya sudah membawa pesanan Anda." Elsa berjalan mendekat, tanpa sepengetahuannya yang ternyata Jimmy sedang mengobrol dengan orang tuanya.
"Anda ingin yang vanila? Saya akan bukakan untuk Anda. Anda harus menjaga kesehatan, cukup ini dulu makan ice nanti jika sudah sembuh Anda bole memakannya lagi.'' ucap Elsa panjang lebar hingga Jimmy mengabaikan maminya.
"Jim! Jimmy!" panggil Mami dengan setengah berteriak karena Jimmy terdiam dan juga terdengar suara seorang wanita.
Elsa mendengar suara dari ponsel Jimmy, dia mengerutkan dahi dan memberikan kode agar Jimmy melihat ponselnya.
{Bersambung}
__ADS_1