Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #114


__ADS_3

Terlihat di sebuah cafe, Ray sedang melakukan pertemuan dengan kliennya. Kebetulan, klien Ray adalah seorang wanita. Dia sangat cantik dan modis, bagaimana tidak, sebagai CEO gadis itu harus tampil elegan. Jujur dia sangat tertarik dengan Ray, di tambah pembawaan nada bicara Ray yang nyaman di denger.


Rayyan pamit untuk kembali ke kantor karena acara pertemuan sudah selesai, tetapi sang gadis seakan tidak ingin melepaskan Ray.


"Tuan William, apa kita tidak bisa mengobrol sebentar saja?"


"Maaf, Nona Adeline. Masih ada beberapa tugas di kantor yang harus saya periksa."


"Kenapa terburu-buru? Anda 'kan direktur utamanya."


"Maka dari itu, Nona. Saya sebagai direktur utama harus bisa memberikan contoh yang baik untuk para karyawan saya."


Adeline terdiam, dia menatap wajah Ray yang terlihat serius. Dirinya sudah mendengar isu miring tentang Ray, dan Adelina pun membenarkannya.


'Ternyata Tuan Ray memang memiliki penyimpangan.' Adeline bergidik ngerih.


''Kalau begitu saya permisi, Nona." Rayyan berjalan pergi meninggalkan meja.


Setelah kepergian Ray, Adeline pun merasa tertantang untuk membuktikan benar atau tidaknya isu miring tersebut. Dia harus mendekati Ray.


"Aku sangat penasaran dengan kebenarannya." gumam Adelina lalu dia pun pergi dari cafe tersebut.


****


Rayyan berada di kantor, dia menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran. Kepalanya mendongak ke atas, dia memejamkan mata sesaat dan seketika bayangan wajah seorang wanita terlintas di benaknya. Wanita itu tidak bisa Ray lupakan, dia adalah cinta pertama seorang Raymond William.


"Kenapa kamu pergi secepat itu, Megan?" gumam Ray sedih.


Ya, Megan Argantara. Gadis berdarah campuran itu adalah calon istri Ray. Mereka sudah bertunangan ketika usia Ray menginjak dua puluh lima tahun. Naasnya, saat mereka pergi berlibur, musibah mendatangi keduanya. Tabrakan beruntun membuat Megan tidak bisa di selamatkan.


Sejak kejadian tersebut, Ray merasa bersalah dan enggan untuk mencari wanita lain. Dia merasa jika ada wanita yang ingin hidup bersamanya, maka wanita itu akan bernasib sama seperti Megan. Bayang-bayang kesalahan terus merasuki jiwa Ray, terkadang dia harus melampiaskan ke minuman keras supaya pikirannya sedikit tenang.

__ADS_1


Lamunan Ray buyar ketika dia mendengar suara ketukan pintu. Tak lama kemudian, Edwin masuk ke dalam ruangan Ray tanpa menunggu izin.


Pemuda tampan itu menghempaskan b*ko*ngnya di atas sofa, dari menopang sebelah kaki di atas paha.


"Siapa yang menyuruhmu masuk ke dalam ruanganku?" Ray bertanya dengan nada datar.


Edwin sudah terbiasa dengan ekspresi itu, dia tetap santai dan bahkan menyandarkan tubuhnya di sofa.


''Aku lelah, Kak. Biarkan aku istirahat terlebih dahulu.''


"Hei, kenapa kau tidak beristirahat dirumah saja?"


Pria berusia dua puluh dua tahun itu berdecak kesal mendengar tanggapan positif dari Ray.


"Aku datang kesini sekaligus ingin meminjam uang kakak."ucap Edwin enteng.


Ray menatap Edwin dengan tajam. ''Apalagi yang sudah kau lakukan, Edwin?"


"Kak, aku mohon jangan mengatakan pada Papi dan Mami. Jika tidak, mereka pasti akan menghukumku."


"Itu memang cocok kau dapatkan, Edwin. Biar Kakak tebak, kau pasti balap liar lagi 'kan? Dan motormu disita oleh polisi."


Edwin nyengir kuda, dugaan Ray itu sangat benar.


"Astaga, Edwin. Sudah berapa kali kakak katakan berhenti balap liar. Kenapa kau sangat keras kepala?"


"Kak, aku harus melakukan itu demi membela geng motorku."


"Tapi merugikan dirimu. Itu bahaya, Edwin. Bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu? Balap liar bisa merenggut nyawa seseorang, Kakak harap setelah ini kau tidak akan mengulanginya lagi.''


Edwin hanya mengangguk. "Kalau begitu, aku ingin meminjam uang kakak, 10 juta saja."

__ADS_1


"Tidak ada!" tukas Ray singkat.


"Kak, aku mohon. Setelah ini aku berjanji tidak akan balap liar lagi, jika aku kembali balapan, maka nanti aku akan berjanji lagi." Edwin masih saja bergurau di detik-detik menegangkan seperti ini.


"Kakak bilang tidak ada, ya tidak ada!"


Edwin bersimpuh di lantai, dia mendongak dan menatap wajah Ray sambil memasang puppy eyes agar Ray iba melihatnya.


"Kak, sekali ini saja. Aku akan berusaha untuk menjauhi balap liar. Tapi, aku tidak akan berhenti jadi geng motor."


"Asal ada batasan, Win. Lakukan hal yang bermanfaat dan jangan merugikan dirimu sendiri atau orang lain."


"Baiklah, kak. Berarti kau mau 'kan memberikan pinjaman padaku?"


Ray hanya berdehem dan mengisyaratkan kata iya. Hal tersebut membuat Edwin senang, dia bersorak riang lalu dengan spontan memeluk tubuh Ray.


"Kakak memang terbaik, terima kasih, terima kasih." ucapnya lega.


Tak disangka, Sekertaris Ray yang bernama Nelly Agustin melihat interaksi keduanya. Nelly bergidik ngerih melihat itu, gadis itu berpikir jika Ray dan Edwin sedang melakukan adegan romantis padahal nyatanya tidak seperti itu.


"Ternyata benar, Tuan Ray yang tampan, gagah, dan berwibawa itu adalah seorang gay." Nelly sedih melihatnya. Dia mengurungkan niat untuk memberikan berkas penting kepada Ray.


"Baiklah, kalau begitu sore nanti kakak harus menemani aku ke kantor polisi untuk mengambil motorku."


"Kau ini, merepotkan saja!"


Edwin hanya mampu memamerkan gigi putihnya.


{**Bersambung**}


__ADS_1


__ADS_2