Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #152


__ADS_3

Dua Minggu kemudian, Rayyan beserta keluarganya datang ke rumah sederhana milik Yola. Disana, Reva melihat ke sekeliling.


'Jadi kakak ipar tinggal disini?' batin Reva merasa iba.


Ibu keluar dari kamar bersama dengan Yola, beliau meminta maaf karena hanya menyuguhkan hidangan seadanya. Keluarga Ray tidak mempermasalahkan hal tersebut, disambut hangat saja mereka sudah bahagia.


"Bu, saya membawakan ini untuk Anda." Kiara menyodorkan satu paper bag berisi pakaian yang pastinya sangat mahal.


"Kakak, nanti di hari pernikahan kalian, biarkan Reva saja yang membuat gaun pengantinnya. Lalu, Reva juga akan merancang beberapa pakaian untuk keluarga besar kita. Jadi, Ibu tidak perlu repot-repot untuk membelinya." ucap Reva pada sang Ibu.


Ibu mengangguk, dia benar-benar tidak menyangka jika putrinya bisa mendapatkan suami seperti Rayyan. Bahkan, keluarga Ray terlihat sangat hangat dan menerima Yola dengan baik.


Setelah selesai melakukan sesi lamaran, beberapa warga cukup kagum karena Yola mendapatkan pria kaya, tampan, seperti Rayyan. Bahkan, para ibu-ibu tetangga meminta tutorial dari Yola bagaimana caranya mendapatkan pemuda kaya seperti Ray. Mereka ingin anak anak mereka mengikuti jejak Yola.


"Bu, ini semua sudah takdir. Saya juga tidak tahu jika saya berjodoh dengan pria yang pernah menjadi atasan saya di kantor." ucap Yola pada para ibu ibu.


Saat ini, Ray dan Yola berada di teras depan. Mereka hanya berdua karena keluarga Ray sudah pulang terlebih dahulu.


"Yola, apa kamu ingin request suasana pernikahan? Misal, out door, atau mungkin seperti di negeri dongeng?"


Yola menggeleng. "Seadanya saja, Mas. Aku mengikuti keputusanmu.


"Aku yakin jika aku tidak salah memilih seorang istri." Ray mengelus pucuk kepala Yola.


"Mas, apa besok aku boleh bekerja? Hari pernikahan kita masih beberapa bulan lagi, dan aku sangat suntuk jika harus berada dirumah terus."


"Kamu boleh bekerja, tetapi di kantor milikku. Kamu akan menjadi wakil sektarian disana. Aku tau kamu memiliki bakat terpendam, Yola. Kamu sangat mudah memahami sesuatu dan mengerjakannya."


"Tapi, apa itu tidak berlebihan?"


Rayyan menggeleng. "Apa kita harus mengatakan pada dunia tentang hubungan kita ini?"


"Jangan, Mas!" Yola mencegah dengan cepat. "Kamu tidak boleh mengatakan pada karyawan kantor tentang hubungan kita berdua, nanti jika hari pernikahan sudah dekat, barulah kamu memberitahu mereka. Aku tidak ingin mereka memperlakukan aku berbeda."


Ray hanya mampu menuruti perkataan Yola. Pria itu menyandarkan kepala Yola di dadanya. Dia mengelus pucuk kepala Yola dan mereka sama sama menatap ke atas langit. Disana bulan dan bintang bersinar sangat cerah.


***

__ADS_1


Pagi harinya , Yola pergi bekerja sesuai dengan yang Ray katakan tadi malam. Gadis itu memakai pakaian pembelian dari Ray, dirinya pergi dengan menaiki motor seperti biasanya. Ray sudah menawarkan pada Yola agar dia pergi menggunakan mobil, Ray akan membelikannya untuk Yola. Tetapi, gadis itu menolak.


Setelah sampai di kantor, Yola langsung masuk ke dalam ruangan Ray. Ternyata pria tampan itu baru saja selesai mengerjakan sesuatu.


"Sayang, kamu sudah datang?"


Yola tersenyum ketika Ray memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Mas ini dikantor, sebaiknya kita bersikap layaknya bos dan bawahan. Aku tidak ingin para karyawan merasa curiga."


"Ya ya ya, baiklah, Nyonya William. Jika aku ingin bermanja, maka aku akan memintamu untuk datang ke ruanganku."


Yola mengedikkan bahunya. "Mas, aku tidak paham bagaimana cara kerja seorang sekretaris."


"Ikutlah denganku, aku akan memperkenalkan kamu dengan sekretaris disini."


Mereka berdua keluar dari ruangan, lalu berjalan ke meja Sekertaris yang tidak jauh dari ruangan Ray.


Setelah sampai, Ray mengenalkan Yola pada Sekretaris nya.


"Lin, ini Yola, dia akan menjadi wakil sekretaris disini. Saya harap kau bisa memberitahu apa saja tugasnya."


"Yola, selamat bekerja."


"Terima kasih, Tuan." ucap Yola dengan senyum manis.


Setelah Ray pergi, Lin mulai memberitahu apa saja tugas sekretaris.


"Yola, nanti Tuan Ray ada meeting penting. Dan ini—" Lin memberikan sebuah map berwarna coklat pada Yola. "Ini adalah dokumen presentasi, jadi kau harus menjelaskan hal yang menarik pada klien kita agar mereka mau bekerjasama dengan perusahaan ini.''


"Tapi, kenapa harus saya?"


"Kau harus belajar, Yola. Suatu saat nanti, kau yang akan menggantikan posisi saya sebagai seorang sekretaris. Sebentar lagi saya akan menikah dan tentu saja suami saya tidak akan membiarkan istrinya bekerja."


Yola mengangguk paham.


"Oh, ya. Berapa usiamu?"

__ADS_1


"Dua puluh lima tahun,"


''Saya dua puluh tujuh tahun. Apa kau tidak ada niat untuk menikah, Yola?"


"Saya sudah memiliki seorang tunangan, Kak."


Lin mengangguk.


Pukul dua siang, Ray dan Yola baru saja selesai meeting. Kali ini Yola berada di ruangan Ray karena pria itu yang memintanya.


"Sayang, penyampaian presentasi tadi sangat mudah dipahami. Berkat dirimu, kerjasama ini akhirnya berhasil."


Yola membenahi Jas Ray, dia tersenyum manis dan menatap Ray dengan romantis. "Itu semua juga karena dukungan darimu, Mas."


"Kamu yakin?" Ray menarik pinggang Yola hingga kali ini jarak mereka sangat dekat.


Yola mengangguk. "Kamu ingin makan siang? Aku akan memesankan sesuatu."


"Melihat dirimu saja rasanya sudah kenyang."


Yola tertawa kecil, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia adalah Lin, gadis itu terkejut ketika melihat kedekatan antara Yola dan Ray. Sontak Yola menjauhkan tubuhnya dari Rayyan.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk?" Ray bertanya dengan nada dingin.


"M—maafkan saya, Tuan." ucap Lin merasa bersalah.


"Tuan, saya permisi." Yola pergi dari ruangan Rayyan.


"Ada apa kau datang ke ruangan saya?"


Lin berjalan ke meja Ray. "Tuan, ini proposal pengajuan kerjasama ke perusahaan MN Group."


Ray membuka proposal itu, dia memerintah agar Lin pergi keluar dari ruangannya.


Yola berada di mejanya, dia menutup wajah menggunakan telapak tangan. Kejadian tadi membuatnya Malu.


"Semoga saja kak Lin tdiak membahas hal tadi." ucap Yola berharap.

__ADS_1


{**Bersambung**}


__ADS_2