Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #125


__ADS_3

Dua Minggu kemudian, Sahara sudah melunasi hutangnya. Dia sedikit lega tetapi tidak dengan perasaannya kali ini. Entah mengapa perhatian serta kepedulian Arron membuatnya lupa akan status. Gadis itu malah menginginkan Arron, dia sangat mengagumi dan tertarik dengan pria itu.


Arron sendiri pun memiliki pemikiran yang sama seperti Sahara, hubungannya dan juga Reva seakan hambar karena kekasihnya itu sibuk bekerja, tidak seperti Sahara yang selalu membawakan makan siang, serta selalu ada disaat Arron kesepian.


Saat ini Sahara sudah tidak lagi tinggal di rumah milik Reva, dirinya memilih untuk menyewa rumah karena Arron. Pria itu meminta Sahara agar tinggal terpisah dari Reva supaya mereka bisa leluasa jika ingin bertemu. Ya, keduanya melupakan kebaikan dan ketulusan seorang Reva William.


Saat ini Sahara tengah memasak sesuatu karena sepulang bekerja, Arron mengatakan ingin mampir ke rumah milik Sahara. Gadis itu sangat bahagia, dia dengan semangat menyiapkan menu kesukaan Arron.


Tak lama kemudian, pintu rumah diketuk dan Sahara yakin jika itu adalah Arron. Dia bergegas membuka pintu dan bener saja, di depan sana sudah ada Arron yang berdiri tegap dengan membawa dua bingkisan.


"Kamu sudah sampai, ayo masuk!" Sahara berjalan terlebih dahulu.


Mereka duduk di sofa dan Sahara menyuguhkan senyum manisnya.


"Ini untukmu. Aku tau kamu suka mengemil dimalam hari, maka dari itu aku memutuskan untuk membeli cemilan."


"Kenapa harus repot-repot? Aku bisa membuat cemilan sendiri seperti steak, atau lainnya."


"Kamu jangan terlalu kelelahan, Sahara."


Sahara terharu, dia benar-benar bahagia diberikan perhatian seperti ini.


"Aku sudah memasak makanan kesukaanmu, apa kamu ingin makan sekarang?" Sahara bertanya pasti.

__ADS_1


Keduanya terlihat begitu akrab dengan menggunakan panggilan aku kamu.


"Baiklah, aku juga sudah lapar."


Mereka berjalan menuju meja makan. Sahara dengan cekatan melayani Arron seperti suaminya sendiri hingga membuat pria itu terbawa suasana. Reva tidak pernah seperhatian ini padanya, gadis itu hanya ingin dimengerti dan dimanja tanpa memikirkan balasan yang Arron inginkan.


"Terima kasih, Sahara. Kamu tau, Reva sekalipun tidak pernah melayani aku sebaik ini. Dia bahkan sering mengabaikanku. Sejujurnya dari dulu aku sedikit kesal karena dia selalu mendahulukan pekerjaan dibandingkan aku. Sementara dialah pemilik butik tapi seakan-akan dirinya seperti pegawai dibutik itu."


"Sabar, Mas. Kamu jangan terbawa emosi. Kita bahas itu nanti, kamu makan dulu supaya perutmu kenyang dan bisa berpikir jernih."


Arron mengikuti perkataan Sahara, dia mulai melahap masakan Sahara yang memang sangat enak.


Setelah mereka selesai makan malam, keduanya kembali duduk di sofa.


Arron terdiam sejenak, dia menatap Sahara yang malam ini terlihat sangat cantik dan mempesona. Sebagai lelaki normal tentu saja Arron memikirkan tentang juniornya yang ingin dimanja.


"Baiklah, aku mandi disini saja. Bukankah pakaianku ada yang tertinggal?"


Sahara mengangguk. Arron sangat sering mampir ke rumah Sahara, bahkan dia juga mandi disana dan menginap. Arron sangat senang karena Sahara tidak keberatan dengan sikapnya itu.


Beberapa menit di dalam kamar mandi, Arron keluar dan dia melihat Sahara yang sedang menyiapkan pakaiannya. Pikiran Arron mulai melayang, dia berjalan mendekati Sahara dan tiba-tiba memeluk gadis itu dari belakang hingga membuat Sahara terkejut.


"Mas, kamu—" ucapan Sahara terpotong karena Arron membalikkan tubuhnya dengan cepat.

__ADS_1


"Sst!" Arron menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Sahara, dia mencium wangi vanila yang keluar dari tubuh gadis itu.


''Sahara, aku tertarik padamu. Entah mengapa belakangan ini perasaan itu tumbuh dengan sendirinya, bahkan aku malah menginginkanmu menjadi istriku." Arron berkata jujur. "Tapi aku bingung bagaimana caranya berpisah dari Reva. Jadi, apakah boleh malam ini aku menyentuhmu?"


Sahara bergidik ngerih ketika Arron berbisik tepat di telinganya, wangi harum aroma maskulin tercium di hidung Sahara dan membuat gadis itu terasa melayang.


"Aku—"


"Boleh atau tidak?'' bisik Arron dengan suara berat, dia sudah tidak bisa menahan gejolak yang hampir meledak.


Sahara mengangguk pelan, jujur dia juga sangat mencintai Arron. Terlebih pria itu selalu bercerita tentang kesendiriannya yang selalu diabaikan oleh Reva.


Arron yang mendapatkan angin segar langsung menuju ke inti, dia membawa Sahara ke ranjang dan merebahkan gadis itu dengan perlahan. Mereka pun memulai malam panas tanpa memikirkan perasaan Reva yang pastinya akan sangat hancur jika mengetahui semua ini.


Di sisi lain, Reva terus saja menghubungi ponsel milik Arron tetapi tidak ada jawaban. Dirinya sedikit khawatir karena satu hari ini Arron hanya mengabarinya sewaktu makan siang saja. Reva berjalan mondar mandir di balkon, dia menatap ke langit dimana bulan dan bintang bersinar terang.


"Ya Tuhan, ada apa dengan kekasihku? Sifatnya terlihat berubah beberapa hari ini. Semoga dia baik baik saja dan hubungan ini akan tetap berjalan mulus." ucap Reva seraya menatap langit.


Pikiran Reva sama sekali tidak tertuju pada Sahara yang sudah jelas terlihat sangat akrab dengan Arron.


{**Bersambung**}


__ADS_1


__ADS_2