
Reva sedang berada di butik, beberapa hari ini dirinya tidak merancang pakaian model baru karena ingin fokus menyiapkan busana untuk pernikahan Rayyan. Konsentrasinya buyar ketika seseorang mengetuk pintunya.
Reva meminta orang itu masuk dan ternyata adalah sang pegawai.
"Maaf menganggu, Nona. Ada pria yang mencari Anda."
Reva penasaran siapa pria yang mencarinya, dia tidak memiliki masalah dengan siapapun dan tiba-tiba ada yang ingin bertemu dengannya.
Reva keluar dari ruangan, dia melihat sang pegawai yang tengah berbicara dengan seseorang. Pria itu membalikkan badannya dan membuat Reva terkejut.
"A—arron?" ucap Reva pelan menyebutkan nama mantan kekasihnya.
Arron mendekati Reva, pria itu tersenyum tipis dan menatap Reva dari atas sampai bawah.
"Apa kabar, Re? Sudah lama kita tidak bertemu.
Reva tidak menjawab pertanyaan dari Arron, ketika melihat pria itu, banyak sekali kenangan yang terlintas di benaknya mulai dari yang termanis hingga terpahit.
"Re, kamu sudah melupakan aku? Apa kamu masih belum bisa memaafkan kekhilafanku?''
Reva tersenyum miris. "Kenapa kau datang lagi? Apa gadis itu meninggalkanmu? Oh, atau kau bosan bersama dengannya dan sekarang menginginkan diriku?"
"Kenapa pikiranmu sangat buruk seperti itu, Re? Aku hanya ingin meminta maaf padamu."
"Apa aku harus mempercayai perkataanmu?" Reva bersidekap.
__ADS_1
"Itu terserah padamu, intinya aku ingin meminta maaf karena mungkin saja usiaku tidak akan lama lagi."
Reva tdiak mengerti apa yang Arron maksud. "Sebaiknya kita bicara di ruanganku saja." gadis itu berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Arron.
Mereka berada di dalam ruangan Reva, keduanya duduk di sofa dan Reva meminta pada Arron untuk menjelaskan semuanya.
"Aku divonis memiliki penyakit kanker, dan Dokter mengatakan jika usiaku mungkin tidak akan lama lagi."
"Sejak kapan?"
"Sedari kamu meninggalkan aku, entah berawal dari apa aku tidak tahu, tetapi aku merasa tubuhku lemas dan aku sering jatuh pingsan. Sejak saat itu aku memutuskan untuk periksa ke Dokter dan dokter berkata jika aku memiliki riwayat jantung dan kanker."
"Lalu, dimana Sahara?"
"Semua itu sudah menjadi pilihanmu, Arron. Kau harus berdoa, barangkali Tuhan mengangkat penyakitmu dan kau bisa sehat seperti semula. Aku turut bersedih mendengarnya.
"Mungkin ini adalah karma untukku karena sudah berani mengkhianati cinta tulusmu."
"Semuanya sudah terlambat, Arron. Saat ini aku sudah bahagia sebuah kesendirianku. Kau juga harus berbahagia, aku sudah memaafkan semua kesalahanmu."
"Apa tidak ada lagi kesempatan kedua untukku?"
Reva menggeleng. ''Aku tidak ingin memikirkan masalah asmara, aku hanya ingin fokus berkarier, mungkin suatu saat nanti aku akan langsung menikah saja."
Arron paham dengan pemikiran Reva, sudah bisa dipastikan jika gadis itu merasakan trauma yang amat dalam.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu aku pamit pulang. Aku hanya ingin memastikan jika kau sudah memaafkan aku." Arron beranjak dari sofa, dia berjalan pergi dari ruangan Reva. Penyesalan memang selalu datang di belakang, maka dari itu berpikir lah sebelum bertindak.
Reva hanya mampu melihat kepergian Arron, tubuh pria itu sangat kurus dan pucat. Ada rasa kasihan di dalam diri Reva, tetapi dia memang tidak bisa mengulangi kisah lama yang sudah menjadi abu.
***
Rayyan mengajak Yola pergi ke mall, mereka akan makan malam disana sekaligus menonton bioskop.
Setelah selesai makan malam, keduanya pun pergi ke gedung bioskop. Film yang ditayangkan hari ini adalah film bergenre romance. Ray memilih tempat duduk paling atas agar tidak terlalu dekat dengan layar lebar.
Mereka membeli cemilan serta minuman, Ray terus menggenggam jemari Yola seperti takut jika kekasihnya itu pergi.
Saat adegan romantis di putar, Ray menyandarkan tubuhnya di pundak milik Yola. Ternyata ini adalah salah satu sifat manja Ray yang tersembunyi dibalik sifat cueknya.
"Sayang, kenapa tanggal pernikahan kita sangat lama sekali?"
"Memangnya kenapa?" Yola bertanya tanpa mengalihkan padangan.
''Aku ingin mempraktekkan adegan seperti itu." Ucap Ray jujur seperti bocah kecil, hal itu membuat Yola tertawa.
"Nanti akan ada saatnya, kamu hanya perlu sabar menunggu. Hm?" Yola mengelus kepala Rayyan. Pria itu terlihat sangat nyaman berada di dekat Yola.
Mereka kembali memperhatikan film yang sedang di putar.
{**Bersambung**}
__ADS_1