
Ray berjalan gontai masuk ke dalam rumah, Kiara nya sudah pergi menjauh, wanita yang selalu menyambutnya dengan senyum manis tidak ada lagi di rumah besar itu.
Kaki Ray menapaki anak tangga satu persatu, pikirannya kacau ketika melihat Kia yang masuk ke dalam mobil bersama dengan pria lain.
Apa Kiara berselingkuh? Atau Kia sengaja mencari kesalahan agar mempunyai alasan untuk pergi meninggalkan dirinya? Pertanyaan itulah yang ada di dalam benak Raymond saat ini karena melihat sang istri masuk ke dalam mobil bersama pria lain.
Ray tahu jika Kia tidak semudah itu percaya dengan pria lain apalagi langsung mau diajak masuk ke dalam mobil padahal pria itu tidak dikenal, pikiran Ray saat ini dilema harus menyalahkan Kia atau dirinya sendiri.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, Ray langsung segera melangkah masuk ke dalam kamar. Ketika berada di dalam, dia menghirup wangi aroma parfum milik Kiara yang masih tertinggal di sana.
Ray menuju meja rias dan menatap dirinya dari pantulan cermin, dia memejamkan mata sambil mendongakkan kepala ke atas.
"Kia, siapa sebenarnya yang bersalah dalam hal ini? Apa kamu marah padaku sehingga kamu memilih untuk berselingkuh?" Ray mengeraskan rahangnya ketika sekelebat bayangan Kia yang masuk ke dalam mobil bersama dengan pria lain.
Bogeman mentah Ray layangkan ke cermin hingga cermin itu pecah tak berbentuk.
Darah segar mengalir dari telapak tangah milik Raymond, wajahnya merah padam karena menahan amarah, ingin sekali rasanya dia menghajar habis-habisan pria yang berani membawa istrinya pergi.
"Aku akan mencarimu Kia, aku pasti akan menemukanmu dan aku akan menghabisi pria sialan yang berani membawamu kabur." Ray menatap punggung tangannya yang meneteskan darah segar.
Dia berjalan ke kamar mandi untuk mencuci tangan lalu mengobatinya.
Keesokan paginya, Ray telah sampai di rumah sakit untuk menjemput Meysa.
"Apa sudah selesai?" tanya Ray ketika melihat Mey yang ingin turun dari ranjang setelah selesai berganti.
Meysa mengangguk dan tersenyum melihat Raymond yang berjalan menghampirinya.
"Ayo." Raymond mengulurkan sebelah tangan untuk membantu Meysa turun dari ranjang.
__ADS_1
"Ray, kenapa dengan tanganmu?" Mey menatap tangan sang suami yang di balut perban dengan rasa khawatir.
"Tidak apa." sahut Ray singkat seperti malas berbicara.
"Ray, aku mohon jujur dan ceritakan padaku jika kamu ada masalah. Meskipun kita hanya menikah secara siri tetapi aku juga tetap istri kamu."
"Aku akan menceritakannya nanti di mobil. Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini, aku sangat benci dengan bau obat-obatan di rumah sakit." Ray membantu Meysa turun dari ranjang.
Mereka berjalan berdampingan ke parkiran.
Di dalam mobil.
"Ray, kamu harus menceritakan penyebab tangan kamu terluka seperti ini. Aku tidak ingin mendengar alasan apapun, intinya kamu harus menceritakan padaku sekarang juga." pinta Meysa tanpa terbantahkan.
Raymond menetralkan detak jantungnya yang berdegup tidak seirama.
"Kiara pergi dari rumah."
"Apa!" pekik Meysa kaget sekaligus senang.
"Ya, aku tidak tahu pasti alasan Kia pergi itu apa. Tapi aku sedang menduga jika kepergian Kiara karena kemarin aku menamparnya."
"Kamu menamparnya? Kenapa Ray?"
"Karena dia yang tidak bisa menjaga kamu dan kandunganmu. Aku dan Kia sudah satu tahun menikah dan kami belum juga dikarunia seorang buah hati. Dan sekarang, ketika buah hatiku sedang tumbuh, dia tidak bisa membantu untuk menjaganya. Aku kemarin diselimuti oleh amarah hingga tidak sengaja menampar dirinya."
Mey tertawa jahat dalam hati. 'Syukurlah Raymond lebih percaya padaku dibandingkan gadis kampungan itu. Akh, ternyata benih John membawa keberuntungan untukku. Perlahan tapi pasti aku sudah berhasil membuat Kiara pergi dari rumah, dan sebentar lagi aku pasti akan menggusur posisi Kia di dalam hati Raymond. Hanya Meysa lah yang pantas menjadi pendamping Raymond, Meysa jugalah yang pantas berada di hati Raymond.'
"Aku turut sedih atas kepergian Kiara dari rumah Ray." Mey menunduk sedih.
"Mey, aku ingin kamu menjawab pertanyaanku dengan sejujur-jujurnya."
__ADS_1
Deg!
Senyum Mey dalam hati seakan surut dan berganti dengan kegugupan.
'Apa Raymond sudah mengetahui semuanya?' batin Mey menduga.
"Apa Kia benar tidak menolongmu sewaktu kamu jatuh dari tangga tempo lalu?"
Glek!
Mey menelan salivanya kasar.
"I—iya. Aku saat itu merasakan jika Kiara tidak menolong dan hanya menatapku yang tergelinding di tangga."
"Benarkah? Tapi ketika aku melihat cctv tidak begitu kebenarannya."
'Cctv? Argh, dasar bodoh! Kenapa aku bisa lupa jika di rumah Kiara ada cctv.' Meysa merutuki kebodohannya di dalam hati. Dia mencari alasan lain agar Ray tidak curiga.
"Aku merasa seperti itu, Ray. Mungkin karena aku bingung dan takut jadi tidak fokus melihat Kia menolongku atau tidak." Mey jadi salah tingkah, dia berdoa semoga saja alasannya itu tepat untuk menutupi kecurigaan Ray padanya.
Ray hanya mengangguk. "Ya sudah jika kamu berpikir seperti itu."
'Kenapa aku merasa jika Meysa gugup dan salah tingkah ketika aku bertanya tentang kebenaran ini? Aku jadi curiga padanya, tetapi aku tidak boleh gegabah sebelum kebenaran yang sesungguhnya terungkap. Aku akan mencari Kiara sekaligus menyelidiki tentang kandungan Meysa secara diam-diam.' batin Ray bertekad.
•
•
•
**TBC
__ADS_1
HAPPY READING
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA SELALU 🤗 TERIMA KASIH BANYAK 🙏🏻**