
Tiga hari kemudian, Arron yang baru saja pulang dari luar kota langsung mampir ke rumah Reva. Dia membawakan makanan kesukaan Reva.
Arron berdiri di depan pintu, dia memencet bel yang berada di dekat pintu. Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu tersebut. Arron sudah bersiap memasang wajah manisnya tetapi ternyata yang keluar bukan Reva melainkan Sahara.
"T—tuan?" sapa Sahara dengan tertunduk.
"Dimana Reva?''
"Nona sedang mandi, Tuan. Kami baru saja pulang melakukan pertemuan dengan klien."
Arron masuk ke dalam tanpa izin. Setelah berada di dalam, dirinya duduk di sofa dan meletakkan bingkisan di atas meja. Sementara Sahara, gadis itu berlalu ke dapur untuk membuatkan kopi.
Selesai membuat Kopi, Sahara membawanya ke meja Arron. Namun, karena rasa gerogi, kopi yang Sahara bawa tumpah dan mengenai celana Arron. Bahkan, tangan Sahara juga sedikit terkena tumpahan kopi panas itu.
''Tuan, maaf. Saya, saya tidak senga—"
"Huh! Kau bisa bekerja tidak sih? Ini panas, kau tau?''
Sahara menunduk, dia sangat merasa bersalah. Niat hati ingin berbuat baik malah berbanding terbalik dengan ekspektasinya.
Tak lama kemudian, Reva berjalan menuruni anak tangga dan dia melihat Arron bersama dengan Sahara.
"Sayang?'' Reva berjalan mendekat.
Arron berdiri dari sofa, dia menghampiri Reva yang menatapnya dengan heran.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Kamu tanyakan saja pada temanmu itu!" Arron terlihat kesal.
"Nona, tadi saya tidak sengaja menumpahkan kopi di celana, Tuan."
Reva menggeleng. "Jadi hanya karena kopi? Sayang, kamu 'kan bisa ganti. Apa kulitmu melepuh? Aku akan mengobatinya."
Arron menggeleng. ''Tidak perlu, Sayang. Ayo, duduklah. Aku membawakan makanan kesukaanmu."
Reva tersenyum manis dan mereka berdua kembali duduk di sofa. Sementara Sahara, dia tetap tertunduk.
__ADS_1
"Sa, apa kau tidak ingin duduk bersama kami? Kenapa hanya berdiri saja?"
"Saya kembali ke kamar saja, Nona.''
''Tunggu! Bawalah ini," Reva menyodorkan satu kotak kue untuk Sahara.
"Terima kasih, Nona." Sahara berlalu pergi sambil membawa kotak dari Reva.
'Enak sekali hidup Nona Reva. Dia sangat disayang, dimanja, di berikan perhatian banyak, dan mendapat kekasih seperti Tuan Arron. Sementara aku? Aku bahkan menginginkan perhatian sedikit saja.' batin Sahara kembali iri.
Sejak kecil, Sahara tidak pernah mendapatkan kasih sayang. Bahkan, saat usianya menginjak tujuh belas tahun, ayahnya tega menjodohkan dia dengan pria dewasa berusia tiga puluh lima tahun.
Sahara korban broken home, ayah dan ibunya bercerai sejak Sahara berusia sepuluh tahun. Dan setelah itu, Sahara di rawat oleh ayahnya. Tetapi, semenjak kejadian perjodohan, Sahara kabur dan dia tinggal bersama dengan Ibunya. Namun, bukannya bahagia, Sahara malah terjebak di dunia malam akibat sang Ibu.
*****
Siang harinya, Reva berpamitan pada Arron untuk pergi menghadiri fashion show. Pria itu mengijinkan tetapi dia juga akan menyusul Reva. Tentu saja gadis itu sangat bahagia, dia pun mengiyakan perkataan Arron.
Tiba saatnya, tepat pukul tiga sore, Reva sudah berada di gedung fashion show. Kali ini hasil desainernya akan di pamerkan dan dilihat oleh seluruh masyarakat.
"Semoga saja setelah ini akan semakin banyak pengunjung." ucap Reva berdoa.
"Tunggu, Sa! Bagaimana jika kau datang kesini bersama dengan kekasihku? Dia juga akan menyusul aku."
Sahara sungkan, dia pasti akan merasa canggung jika berada satu mobil bersama dengan Arron.
"Tapi, Nona—"
"Sudahlah, aku akan menghubungi Kekasihku nanti. Kau tidak perlu sungkan, dia itu sebenarnya baik tetapi sedikit jutek. Sa, aku tutup dulu teleponnya. Acara akan segera dimulai, sampai ketemu.''
Reva bergegas memutuskan sambungan telepon, dia mengirim pesan ke Arron terlebih dahulu sebelum konsentrasi menyaksikan fashion show.
Di tempat lain, Arron berdecak kesal ketika dia membaca isi pesan dari Reva.
"Dia menyuruhku untuk menjemput gadis lain? Sungguh unik," Arron menggeleng heran.
Tak ingin berlama-lama, dia pun segera bergegas meluncur ke butik Reva. Setelah Sahara sudah bersama Arron, pria itu pun melajukan mobil menuju gedung fashion show.
__ADS_1
Di dalam mobil terasa canggung, Sahara berulangkali membenahi duduknya karena merasa tidak nyaman. Dia terus menatap ke samping agar tidak melihat wajah Arron.
"Bagaimana kau bisa bertemu dengan kekasihku?"
Sahara sontak menoleh ketika dia mendengar pertanyaan dari Arron.
"S—saya, saya bertemu dengan Nona karena tidak sengaja, Tuan."
"Apa kau bisa menjelaskannya?"
Sahara mengangguk. "Ya, tentu saja." dia mulai bercerita tentang awal pertemuan dengan Reva. Ada sedikit rasa iba dihati Arron setelah dia mendengar cerita dari Sahara.
"Jadi, kau anak yatim-piatu?"
Sahara mengangguk. "Maka dari itu, saya berkecil hati ketika Tuan ataupun Tuan Ray menatap saya seperti tidak suka. Saya merasa, apakah saya sehina itu hingga kalian para orang kaya membenci orang kecil seperti saya?"
Arron ingin meminta maaf, tetapi itu tidak mungkin karena dia malu.
"Lupakan saja, Sahara. Saya memang tipe pria yang tidak terlalu dekat dengan seorang wanita. Jika saya sudah mencintai satu wanita, maka saya sulit untuk berpaling ke lainnya."
"Pasti Nona Reva beruntung memiliki calon suami seperti Anda, Tuan."
"Kau ini," Arron tiba-tiba tersenyum mendengar pujian dari Sahara.
'Ya Tuhan, manis sekali.' batin Sahara ketika melihat senyuman Arron.
Tak terasa mereka sudah sampai di gedung, di perjalanan tadi keduanya terus mengobrol. Ya, bukan keduanya melainkan hanya Sahara yang terus bercerita tentang kehidupan pahitnya.
Arron berjalan di depan Sahara, ketika sudah berada di dalam gedung, dia mencari meja milik Reva.
Reva yang sudah membaca pesan dari Arron langsung melihat ke sekeliling. Gadis itu tersenyum senang lalu dia melambaikan tangan ke arah Arron yang ternyata juga menatap ke arahnya.
Arron dan Sahara berjalan menghampiri Reva.
''Aku pikir, kamu tidak jadi datang."
Arron duduk di kursi begitupun dengan Sahara. "Hei mana mungkin, Sayang. Untukmu pasti aku akan selalu ada."
__ADS_1
Reva tersenyum manis lalu dia menggenggam jemari Arron. Mereka kembali menyaksikan acara fashion show itu.
{**Bersambung**}