
Satu Minggu kemudian, Elsa dan Jimmy sudah kembali beraktifitas seperti biasanya. Di kantor, Jimmy terus membayangkan kebersamaannya dengan Elsa. Entah mengapa serasa sulit baginya untuk jauh dari gadis itu, mungkinkah ini benar-benar cinta?
Jimmy juga heran kenapa dia bisa sangat nyaman dan merasakan hal yang berbeda ketika bersama dengan Elsa. Hatinya terasa tenang, damai, dan bahagia. Dia menutup dokumen yang sedang diperiksa, otaknya tidak mampu berpikir karena saat ini tujuannya hanya Elsa, Elsa, dan Elsa.
"Ngomong-ngomong, sedang apa gadis jutek itu, ya?" gumam Jimmy lalu dia mengambil ponsel dan menghubungi Elsa.
"Meskipun dia menolakku, aku akan tetap memperjuangkannya. Aku sangat yakin jika dia adalah takdirku." Jimmy berkata seyakin-yakinnya.
Elsa yang kala itu baru selesai melakukan meeting heran dengan ponselnya yang berdering. Dia melihat layar benda pipih tersebut seraya mengerutkan dahi.
"Tuan Jimmy, ada apa dia menghubungiku?" Elsa bergumam sebelum menjawab dan langsung menyapa Jimmy .
"Halo, Elsa. Selamat siang."
"Ya, Tuan? Apa ada yang bisa saya bantu?''
Jantung Jimmy berdegup tidak karuan, dia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Aku, aku hanya ingin bertanya. Apa kau sudah makan siang?"
"Kebetulan saya baru saja keluar dari ruang meeting dan belum makan siang, Tuan."
'Yes! Ini kesempatanmu, Jimmy. Ajak dia makan siang dan lakukan pendekatan, perjuangkan dia, yakinlah jika dia adalah masa depanmu.' batin Jimmy seakan mendapat angin segar.
"El, apa kita bisa makan siang bersama? Em, aku tidak memaksa."
__ADS_1
Elsa terdiam, dia berpikir untuk menyetujui atau menolak permintaan Jimmy.
"Baiklah, Tuan. Kita bertemu saja di cafe Cemara. Letaknya tidak jauh dari tempat kerja saya."
"Sampai jumpa."
Elsa pun mematikan sambungan telepon, dia memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu berlalu pergi. Namun, baru saja sampai di lobi, seseorang memanggil Elsa dan membuat langkahnya terhenti.
"Kau ingin pergi makan siang?"
Elsa mengangguk.
"Apa kita bisa makan siang bersama?"
Roy mengepalkan kedua tangannya. "Cih! Dasar gadis sombong, cuek! Tapi menantang, aku sangat ingin menaklukkan gadis itu. Lalu, setelah itu aku akan meninggalkannya." pikiran jahat Roy.
****
Elsa sudah sampai di cafe Cemara, dia masuk ke dalam dan mengedarkan pandangannya. Dirinya sibuk mencari keberadaan Jimmy, hingga tak lama kemudian mata Elsa berhenti tepat di meja nomor 25.
Gadis itu menghampiri meja sambil tersenyum tipis.
"Akhirnya kau sampai juga." ucap Jimmy yang sedari tadi menunggu Elsa.
"Maaf saya terlambat, Tuan. Apa Anda sudah lama menunggu saya?" Elsa bertanya sambil duduk di kursi.
__ADS_1
"Tidak! Baru sepuluh menit." ucap Jimmy berbohong, padahal dirinya sudah hampir dua puluh menit berada di cafe itu.
Elsa hanya mengangguk percaya. "Apa Anda sudah memesan sesuatu, Tuan? Saya tidak bisa berlama-lama karena setelah makan siang, saya harus meninjau lokasi bersama dengan bos."
"Aku sudah memesannya. Nah, ini dia." Jimmy berbicara bersamaan dengan makanan yang datang.
"Ayo, makanlah! Selama satu Minggu bersamamu, aku tau makanan kesukaanmu."
"Terima kasih, Tuan Jim."
Jimmy bahagia melihat Elsa tersenyum seperti itu.
****
Di tempat lain, berhubung Jam makan siang, Kiara berniat membawakan makanan untuk suaminya. Dia pun bergegas menuju kantor tanpa mengabari Ray terlebih dahulu.
Sesampainya di kantor, Kiara segera masuk ke dalam ruangan Ray. Namun, saat ingin membuka pintu, Kiara mendengar suara seorang wanita seperti sedang menggoda Raymond.
Kiara menggenggam erat tempat bekal yang dia bawa, matanya mendelik dan sepertinya emosi sudah memuncak di atas kepala. Tanpa berpikir panjang, Kiara mendorong pintu dengan keras hingga berbunyi dentuman. Hal tersebut membuat Ray dan seorang wanita yang ada di dalam ruangan itu terkejut bukan main.
"MAS RAYMOND!" teriak Kiara marah.
{Bersambung}
__ADS_1