
Raymond menatap Kiara dengan seksama. "Kamu juga ngapain pakai ngepel lantai segala sih sayang?" Ray berjalan menghampiri Kia dan mengambil gagang pel lalu menjatuhkannya. "Ini itu tugas Bi Imah, bukan tugas kamu."
Raymond berkacak pinggang dan mulai berteriak memanggil sang asisten rumah tangga.
"Bi Imah! Bi—" ucapan Ray terputus karena Kia menarik lengannya.
Rara menatap sang Putra dengan rasa tidak percaya.
"Mas! Kamu jangan menyalahkan Bi Imah, ini semua itu kemauanku."
Ray menatap wajah Kiara.
"Kamu 'kan tau kalau aku udah terbiasa mengerjakan tugas rumah seperti ini, Mas." jelas Kia dengan suara lembutnya.
"Ya beda dong, sayang. Kamu sekarang'kan adalah istri dari Raymond William, dan jangan mengerjakan tugas rumah yang berlebihan seperti ini." Ray mengusap kepala Kiara dengan pelan.
Kiara hanya menghela nafasnya pelan.
"Ray, apa kamu sudah selesai bicaranya? Bantu Mama berdiri." ucap Rara datar sembari mengulurkan tangan sebelah kanannya.
"Astaga, aku hampir lupa kalau masih ada Mama." Ray pun membantu sang Mama berdiri.
Rara menatap Kia dengan kesal, padahal dia berharap jika Raymond akan marah dengan Kia karena sudah berniat mencelakainya. "Kenapa kamu tidak memarahi gadis kampung itu, Ray? Dia sudah mencelakai Mama,"
"Ma, mungkin Kia gak sengaja. Lagian Mama apa gak lihat kalau Kia sedang mengepel lantai?'' Ray membela sang istri.
"Kamu kok jadi nyalahin Mama? Atau jangan-jangan gadis kampung ini sudah memberikan pelet kepada kamu makanya kamu selalu nurut dan ngebet jadiin dia istri?" Rara berkata dengan nada kesal.
Kiara menggeleng. "Astaghfirullah, Tante. Mana mungkin saya melakukan hal musyrik seperti itu."
"Halah, pura-pura lugu padahal nyatanya busuk!" titah Rara tidak ingin terkalahkan.
"Ma cukup Ma! Kenapa sih masih pagi udah ngajak bertengkar? Aku gak mau kehilangan mood ku di pagi yang cerah ini." Ray melirik Kia sekilas.
"Kamu benar-benar sudah dibutakan oleh cinta, Ray. Gadis ini lebih cocok jadi pembantu dibandingkan jadi istri kamu." setelah mengatakan itu Rara langsung pergi dari hadapan Ray dan Kia.
Kia menatap kepergian Rara dengan nanar.
"Sayang, kamu gak perlu memikirkan ucapan Mama. Kamu akan selalu menjadi Ratu di hati ku dan menjadi istriku." Ray memeluk tubuh Kia.
"Kita sarapan yuk? Tapi aku beresin air yang tumpah ini dulu," Kia ingin melangkah tetapi Ray segera menahan lengannya.
"Biar Bi Imah saja." Ray segera memanggil Bi Imah. "Bi! Bi Imah!!" teriak Ray dengan kencang.
Bi Imah berlari dari arah belakang dan berdiri sembari menundukkan kepala dihadapan Ray. "Bi, tolong beresin air yang tumpah ini, saya dan Kia mau sarapan dulu."
"Baik, Tuan." ucap Bi Imah sopan.
__ADS_1
Ray dan Kiara segera pergi meninggalkan Bi Imah.
•
•
•
Sebuah mobil melaju dengan kencang hingga masuk ke dalam tugu besar bertuliskan selamat datang di desa Mulia Makmur. Sang pengendara terus menancap gas hingga mobilnya berhenti disebuah rumah sederhana nan kecil.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum.." teriak Jaka mengucapkan salam dari luar rumah.
Jaka memutari rumah sederhana milik Kiara.
"Mas Jaka!" teriak salah satu tetangga Kiara yang kebetulan lewat.
Jaka menghampiri Ibu itu.
"Mas Jaka apa kabar? Cari Kiara ya?" tanya Ibu itu dengan menatap Jaka.
Jaka mengangguk cepat. "Kiara kemana ya, Bu?"
"Loh, apa Mas Jaka gak tau kalau Kiara sekarang udah tinggal di luar kota?"
Jaka terdiam. 'Berarti gosip berita di televisi itu benar.' batin Jaka.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi." Jaka segera berjalan masuk ke dalam mobil.
Brak
Jaka menutup pintu mobil dengan kencang, dia menyandarkan kepala di kursi mobil.
"ARGH!" teriak Jaka kesal seraya memukul stir mobil. "Ini semua karena Sintia, dia sudah menghancurkan harapan manis ku hidup bersama dengan Kia!" Jaka menatap ke depan dengan tajam.
Mobil Jaka pergi dari depan rumah Kia.
*
Sintia sedang menyapu rumah, saat ini dia dan Jaka telah tinggal di rumah yang Sarmila belikan.
Brak!
Jaka membuka pintu rumah dengan kencang.
"Mas, kamu kenapa?" Sintia heran karena melihat wajah Jaka yang memerah seperti menahan amarah.
__ADS_1
Jaka segera menutup pintu dan berjalan menghampiri Sintia.
"Aw," Sintia meringis ketika Jaka mencengkram dagunya dengan kasar.
"Semua masa depanku hancur karena dirimu, Kiara sudah pergi dan dia sudah menjadi milik orang lain. Puas kamu Sintia, Puas?" teriak Jaka dengan nada tinggi dan frustasi.
"M—mas, kenapa kamu menyalahkan aku?" bicara Sintia terbata karena cengkraman di dagunya.
Plak!
Jaka menampar pipi Sintia.
"Kamu itu adalah wanita murahan, aku tau pasti kamu yang sudah menjebak ku agar tidur bersamamu." Jaka menyeret tangan Sintia ke kamar.
Setelah berada di dalam kamar, Jaka menutup pintu dengan kasar dan dia menghempaskan tubuh Sintia di atas ranjang.
Jaka melepaskan tali pinggangnya dengan tatapan tajam ke arah Sintia.
Plak
Plak
Dua kali pukulan Jaka layangkan di tubuh Sintia.
Sintia hanya mengerang sakit sembari memegang tubuhnya yang terkena cambukan tali pinggang Jaka.
"Kenapa kamu gak pernah berubah sih, Mas? Apa kamu gak bisa sedikit saja mencintai aku? Apa aku seburuk itu di matamu, Mas.." lirih Sintia sembari meneteskan air mata.
"Diam! Aku tidak akan pernah mencintaimu ataupun menyentuhmu, bagiku kamu hanyalah sampah murahan yang terpaksa aku pungut dari jalanan." setelah mengatakan kata kasar itu Jaka langsung keluar dari kamar dengan seluruh emosi yang meledak.
Sintia hanya menangis menatap pintu kamar yang masih terbuka. "Kenapa aku selalu disiksa seperti ini? Aku mencintaimu, Mas.. Aku akan terus bertahan hidup denganmu meskipun kamu ingin membunuhku."
Selama pernikahan, Jaka tidak pernah berbuat romantis ataupun berkata lembut kepada Sintia. Jaka juga tidak pernah menyentuh Sintia dan selalu saja memikirkan Kiara bahkan tak sekali Jaka berbuat kekerasan terhadap Sintia tetapi Sintia hanya memaklumi dan tidak ingin bercerai. Jaka sudah berulang kali membuat Sintia agar mau berpisah darinya, tetapi Sintia tetap bersikeras hidup dengan Jaka meskipun seluruh tubuhnya akan lebam karena ulah kasar yang Jaka berikan.
Terkadang Sintia berpikir, jika sampai Jaka tau bahwa dialah yang sengaja menjebak Jaka untuk tidur dengannya pasti entah apa yang akan Jaka lakukan kepadanya.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING
SAMPAI JUMPA BESOK YA READER 😘
__ADS_1
Jangan lupa berikan jejak serta dukungannya, terima kasih banyak 🙏🏻.
SELAMAT MERAYAKAN MAULID NABI MUHAMMAD.SAW 12 RABIUL AWAL❤❤**