Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab. #124


__ADS_3

Sahara duduk di teras villa, dia terdiam sambil menatap lurus ke depan. Dirinya tidak menyadari jika Arron sedang memperhatikan, pria itu belakangan ini terlihat peduli sekali pada Sahara. Arron berjalan mendekati gadis itu, dia duduk di kursi yang berseberangan dengan Sahara.


"Apa yang sedang kau pikirkan?''


Sahara terkejut dan menoleh ke arah Arron. Dia menggeleng seraya tersenyum untuk meyakinkan jika dirinya baik-baik saja.


"Sa, kau terlihat tidak seperti biasanya. Jika ada masalah, setidaknya kau bisa berbagi padaku atau Reva. Ya, anggap saja untuk meringankan beban dihatimu."


"Saya baik-baik saja, Tuan." ucap Sahara berbohong.


"Tidak! Aku yakin kau pasti sedang ada masalah." Arron menatap Sahara. "Ceritakan, Sa. Barangkali aku bisa membantumu."


Sahara hanya diam saja.


''Kau tidak perlu sungkan," bujuk Arron untuk kesekian kalinya.


"Tuan, saya membutuhkan uang."


"Uang? Arron mengerutkan dahi. "Untuk apa? Maksudnya, kenapa kau harus bingung hanya karena masalah uang?"


"Masalahnya, saya membutuhkan uang yang cukup banyak untuk melunasi hutang almarhumah ibu saya."


"Berapa yang kau butuhkan?''


Sahara menatap manik mata Arron, wajah pria itu terlihat serius. ''Tuan ingin meminjami saya uang? Tapi jumlahnya sangat banyak, Tuan."


"Katakan saja, Sa. Jika saya bisa membantu pasti akan saya bantu.''


"Seratus juta." ucap Sahara sambil menggigit bibir bawahnya.


Arron yang mendengar nominal itu hanya bersikap biasa saja, sementara Sahara menjadi kebingungan.


"Apakah ada, Tuan? Saya tidak akan memaksa, saya bisa mengusahakannya sendiri nanti."


"Besok datanglah ke apartemenku,"

__ADS_1


"Untuk apa?''


''Aku akan meminjamimu uang, seperti yang kau katakan tadi."


"Anda tidak bergurau, Tuan?"


Arron menggeleng. "Apa wajahku terlihat berbohong?"


"Baiklah, besok sore saya akan datang ke apartemen Anda. Maaf jika saya merepotkan Anda, Tuan. Dan terima kasih karena Anda sudah mau membantu saya. Saya pasti akan mengganti uangnya, tapi jika nanti susah mendapatkan gaji dari Nona Reva.''


"Kau tidak perlu khawatir, Sahara. Jangan pikirkan tentang masalah mengganti."


Sahara hanya tersenyum, tak lama kemudian, Reva yang baru saja selesai mandi ikut bergabung dengan Sahara dan Arron. Dia Sejujurnya sedikit heran melihat kedekatan kekasih dan juga temannya itu.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?'' Reva berdiri di samping Arron sambil bersidekap.


"Hei, Sayang. Kamu sudah selesai mandi?''


Reva pun mengangguk.


"Di vila saja, besok kita harus pulang dan aku tidak ingin kelelahan." ucap Reva memberikan pendapat.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memesan makanan." Arron mengambil ponsel untuk go food, tetapi Sahara mencegahnya.


"Tuan, apa boleh saya memberikan saran? Bagaimana jika saya saja yang memasak, kita bisa mencari bahan bahannya di supermarket terdekat."


"Ide yang bagus." ucap Arron dan di angguki oleh Reva yang juga setuju.


Mereka bergegas pergi mencari bahan pokok yang di butuhkan.


Beberapa menit kemudian, ketiganya sudah sampai di supermarket. Setelah berada di dalam, Reva memilih buah sementara Sahara memilih bahan masakan.


Saat kedua gadis itu sama sama menjauh, tiba-tiba Arron mendekati Sahara.


"Kau ingin memasak apa malam ini?"

__ADS_1


"Aku berencana ingin memasak capcai, daging, dan membuat steak keju."


Arron mengangguk, dia cukup salut dengan Sahara yang pintar memasak. Tanpa disadari, Reva melihat Arron dan Sahara yang asyik berbincang. Ada sedikit rasa curiga dan tidak nyaman dihatinya, tetapi dia tidak bisa langsung menuduh Arron begitu saja.


"Huft, aku tidak boleh overthinking." ucap Reva membuang rasa curiga.


Reva berjalan menghampiri keduanya, dia menepuk pundak Arron hingga membuat pria itu menoleh.


"Aku sudah selesai membeli buah." Reva menunjukkan isi keranjangnya.


"Saya juga sudah selesai mencari bahan masakan, kalau begitu ayo kita pulang, Nona Reva."


Reva mengangguk lalu mereka bertiga berjalan bersama ke meja kasir.


Malam pun tiba, sudah pukul tujuh malam tetapi Sahara belum selesai memasak padahal tadinya Reva membatu untuk mengupas bawang dan memotong sayuran.


Sahara memekik pelan ketika tangannya terkena pisau, dia sangat terburu-buru hingga jarinya lah yang jadi mangsa pisau tajam itu.


"Aw, perihnya." rintih Sahara sambil memegangi jadi yang berdarah.


Arron yang mengira jika Sahara sudah selesai memasak langsung berjalan cepat menghampiri gadis itu yang masih sibuk berkutat di depan meja kompor.


"Sa, kau kenapa?" Arron melihat Sahara yang memegangi tangannya. "Darah? Tanganmu berdarah?"


Sahara tidak menjawab, dia hanya memegangi jarinya yang berdarah.


"Ayo ikut, aku akan mengobatinya." Arron menarik lengan Sahara dengan pelan, dia membawa gadis itu duduk di sofa lalu dirinya berjalan mengambil kotak p3k.


Setelahnya, Arron duduk di sebelah Sahara. Dia melihat jari gadis itu yang mengalami luka cukup dalam. Arron mulai membersihkan dengan alkohol lalu melumuri Betadine dan memasang hansaplast.


Reva yang sedari tadi memperhatikan sikap Arron hanya mampu terdiam di depan pintu kamar, kakinya seperti sulit untuk melangkah menghampiri keduanya.


'Kenapa Arron begitu perhatian kepada Sahara?' Batin Reva sambil berbalik arah masuk ke dalam kamar.


{**Bersambung**}

__ADS_1


__ADS_2