Gadis Desa Milik Tuan Amnesia

Gadis Desa Milik Tuan Amnesia
Bab #67


__ADS_3

Mey menelan saliva nya dengan sulit ketika mendengar ucapan yang Raymond katakan.


"Ray, kamu ini apa-apaan? Kita datang ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan kamu bukan aku."


"Tapi aku penasaran dengan perkembangan bayiku, apa tidak boleh?'' Ray menatap Meysa dengan heran.


"Iya, tapi-" ucapan Meysa terpotong karena Raymond dengan cepat menyelanya.


"Tidak ada tapi-tapi'an! Dokter, tolong periksa kandungan istri saya."


"Mari." Dokter mengajak Meysa ke ranjang pasien.


Glek!


Mey berbaring dengan rasa campur aduk, takut, bingung dan harus mencari alasan apa agar Ray berubah pikiran untuk memeriksakan keadaannya.


"Em... Ray, sebaiknya kamu keluar saja." pinta Meysa mencari alasan.


"Kenapa aku harus keluar? Aku tidak akan keluar sebelum Dokter selesai memeriksa kandunganmu." Ray tetap bersikeras berada di ruangan itu, menurut-nya ini adalah waktu yang tepat untuk membongkar kebusukan Meysa.


Dokter mulai membuka kain yang menutupi perut Meysa.


"Boleh saya tau usia kehamilan Nyonya berapa bulan?" sebelum melakukan pemeriksaan, Dokter menyempatkan diri untuk bertanya terlebih dahulu.


"T-tiga bulan, Dokter." sahut Mey dengan gugup.


Dokter mengangguk dan mulai memegang perut Meysa. 'Nyonya ini sudah hamil tiga bulan, tetapi perutnya masih kecil dan seperti tidak ada janin di dalamnya.' lanjut sang Dokter dalam hati.


Dokter mengambil alat USG dan mulai meletakkan di atas perut Meysa.


Beberapa menit kemudian.


"Apa Nyonya yakin jika Nyonya sedang hamil?" ucap Dokter sambil menutup kembali perut Meysa.


Mey mengangguk dengan terbata.

__ADS_1


"Mari ikut saya." Dokter mengajak Mey dan Raymond duduk di kursinya.


Rahang Ray sudah mengeras ketika Dokter mengatakan Meysa yakin hamil atau tidak, Raymond yakin jika Meysa menyembunyikan sesuatu yang besar.


"Hasil dari pemeriksaan tadi mengatakan jika Nyonya tidak hamil."


Deg!


Mey memejamkan matanya dengan perasaan takut. 'Mampus aku, gimana nih?' ucapnya dalam hati.


"Apa anda yakin, Dokter?"


Dokter mengangguk yakin.


"Baiklah, kalau begitu terima kasih." Raymond beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan ruangan terlebih dahulu.


Meysa pun segera menyusul Ray dan mencoba menjelaskan jika perkataan Dokter pasti salah.


"Ray! Raymond!" Meysa berteriak tetapi Ray tidak memperdulikannya.


"RAYMOND TUNGGU!" Mey menarik lengannya Raymond.


"APA LAGI!" bentak Ray tepat di depan wajah Meysa.


Meysa menatap Raymond dengan takut. "Ray, Dokter pasti salah memeriksa. Bagaimana mungkin aku tidak hamil sementara kamu mengalami kehamilan simpatik?"


Ray terdiam sejenak.


"Aku yakin Dokter benar dan kau lah yang berbohong Meysa!"


"Tapi bagaimana mungkin kamu mengalami kehamilan simpatik sementara aku tidak hamil? Hah! Aku yakin Dokter pasti salah memeriksa." Meysa tetap bersikeras membujuk Ray agar percaya padanya.


"Ingat Mey, istriku bukan hanya dirimu saja tetapi ada yang lain yaitu Kiara! Apa kau melupakannya?"


'Apa Kiara hamil? tidak mungkin, itu tidak mungkin...' batin Mey tidak percaya.

__ADS_1


"Kenapa kau diam? Aku akan mencari Kiara hingga dapat, dan mulai saat ini aku menalak mu. Kita bukan suami-istri lagi, berhubung kita hanya menikah secara siri jadi tidak perlu repot-repot mengajukan gugatan cerai di pengadilan." Raymond menatap Meysa dengan tajam.


"Aku menyesali semua perbuatanku, aku menyesal karena lebih percaya dirimu daripada Kiara, aku juga menyesal telah setuju menikah denganmu. Kau bukanlah Meysa yang ku kenal dulu, kau adalah penjahat, kau pembohong, kau penghianat Meysa!" Ray berbicara dengan menekan setiap katanya.


"Ray tunggu! Aku seperti ini karena dirimu, aku tidak ingin kehilangan dirimu!" Meysa berkata dengan nada tinggi.


"Sudah cukup Meysa, cukup! Aku tidak ingin mendengar ucapan apapun lagi dari mulut ularmu itu, aku juga sebenarnya sudah tau jika bayi yang kau kandung bukanlah anakku tetapi anak dari pria lain. Aku tidak menyangka jika kau sangat murahan Meysa, kau wanita rendahan." Ray menggeleng heran.


"Ray, aku sangat mencintaimu... Aku melakukan semua ini karena aku tidak ingin kehilangan dirimu, aku tidak ikhlas jika kamu bersanding dengan Kiara ataupun wanita lain... Kamu hanya milikku Ray, kamu hanya milik Meysa." Mey memeluk tubuh Raymond dengan erat.


Ray melepas paksa pelukan Meysa.


"Yang kau lakukan ini bukan demi cinta melainkan obsesi Meysa, obsesi. Apa kau tidak bisa membedakannya?"


Mey menangis di depan Raymond. "Maafkan aku Ray, aku mohon jangan meninggalkanku."


Ray tidak ingin terhasut oleh air mata buaya Meysa, dia melepaskan tangan Meysa yang menggenggam pergelangan tangannya dan Raymond pergi dari hadapan Meysa.


"Ray! Raymond!!!"


Ray terus berjalan keluar dari rumah sakit tanpa menghiraukan Meysa yang terus berteriak memanggilnya.


"ARGH!!!" teriak Mey frustasi.





**TBC


HAPPY READING


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMA KASIH BANYAK 🙏**

__ADS_1


__ADS_2